Bertempat di area Balai Karantina Pertanian Surabaya, salah satu anak perusahaan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. (CPIN), yakni PT Charoen Pokphand Jaya Farm (CPJF) melakukan pelepasan ekspor perdana anak ayam umur satu hari (DOC) FS layer strain Hy-Line Brown ke Singapura pada Senin, 28 November 2022.
Prosesi pelepasan dilakukan oleh Direktur Perbibitan Produksi Ternak, drh. Agung Suganda, M.Si dan Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir. Bambang, MM. Turut mendampingi jalannya prosesi acara, Presiden Direktur PT. Charoen Pokphand Indonesia, Tbk, Tjiu Thomas Effendy bersama jajaran pimpinan PT CPIN. Prosesi acara pelepasan ekspor terdiri dari penyerahan Sertifikat Kesehatan Hewan dari Balai Besar Karantina dan Veterinary Health Certificate dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diterima oleh Eddy Dharmawan selaku Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Jaya Farm, serta seremonial yang terdiri dari pengguntingan pita dan pemecahan kendi.
Tamu undangan turut hadir diantaranya Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur, Kepala Badan Karantina Pertanian, Wakil Kepala Satgas Pangan POLRI, Assisten Deputi (Asdep) Pengembangan Agrobisnis Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian, perwakilan Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Timur, beberapa akademisi dan asosiasi perunggasan.
Kado Terindah 50 Tahun PT CPJF
PT CPJF unit satu yang berlokasi di Gempol, Pasuruan, Jawa Timur telah berhasil melewati desk audit dan onsite review ketat yang dilaksanakan Singapore Food Agency (SFA) pada tanggal 18-21 Juli 2022 yang lalu. Kegiatan audit ini dapat terlaksana berkat kerja sama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Balai Besar Veteriner Wates, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Timur serta Balai Besar Karantina Surabaya.
Dalam sambutannya, Tjiu Thomas Effendy selaku Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran ekspor DOC FS layer ke Singapura ini. Sebagai tindak lanjut dari proses audit tersebut PT CPJF berhasil mendapatkan kepercayaan dari salah satu peternakan layer di Singapura untuk mengirim DOC FS layer strain Hy-Line Brown sebanyak 85.850 ekor dengan nilai SGD 127.500 atau setara Rp.1.454.392.500,-.
“Ekspor perdana DOC FS layer ke Singapura ini juga menjadi hadiah terindah bagi kami, PT CPJF tahun ini berusia 50 tahun. Semoga ini menjadi milestone bagi perusahaan untuk dapat lebih meningkatkan kemampuannya. Tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga pasar regional dan pasar global,” ungkap Thomas.
Lebih lanjut Thomas memaparkan bahwa selain Singapura, proses ekspor perdana DOC FS layer ini merupakan bagian dalam rangka panjang perusahaan untuk berkiprah di pasar global. Sebelumnya PT CPIN juga telah menembus pasar Timor Leste, Papua Nugini, Qatar dan Jepang. Beberapa produk yang telah di ekspor, yakni DOC FS broiler dan layer, pakan ternak, karkas ayam beku dan berbagai produk olahan daging ayam.
Sejak 2017 sampai dengan semester pertama 2022, PT CPIN telah melaksanakan ekspor yang mencapai 500 kontainer dan lebih dari 1.269.390 ekor DOC FS. Pada bulan Juli lalu PT CPIN juga telah mengekspor 50 ton karkas daging ayam beku ke Singapura dan sampai dengan November ini PT CPIN telah mengekspor 260 ton ayam karkas beku dengan nilai kurang lebih 1 juta dolar Singapura.
“Seiring dengan inisiatif ekspor ini kami juga berbenah diri melakukan transformasi proses bisnis dan budi daya untuk menunjang kegiatan ekspor. Diharapkan dengan inisiatif ekspor ini ke depan industri perunggasan Indonesia tidak hanya bertumbuh tetapi juga memiliki daya saing secara global,” harap Thomas.
Potensi Indonesia mensuplai pasar global
Indonesia saat ini berpeluang besar untuk memenuhi kebutuhan Singapura. Mengingat potensi surplus DOC FS layer Indonesia tahun 2022 masih sekitar 18%, di mana 30% nya atau 11 juta ekor terbuka untuk pasar ekspor. Selain itu, produksi telur saat ini di Singapura baru memenuhi 30% dari total kebutuhan telur nasional. Pada tahun 2021 kebutuhan telur sekitar 2,14 miliar butir atau setara 137,05 ribu ton. Untuk memenuhi kebutuhan telur nasional, membutuhkan sekitar 7,2 juta ekor layer produktif. Hal inilah yang menjadi peluang Indonesia untuk melakukan penetrasi ke pasar Singapura.
Hal ini senada dengan yang disampaikan secara virtual oleh H. E. Suryo Pratomo, Duta Besar Indonesia untuk Singapura. Ia mengatakan bahwa pasar Singapura tidak terlalu besar karena penduduknya hanya sekitar 5,5 juta jiwa. Namun, karena jaminan kerja sama perdagangan yang luas, Indonesia dapat terus memanfaatkan peluang ekspor yang tidak dapat dipenuhi oleh negara tertentu dan menggunakan Singapura untuk menembus pasar-pasar di berbagai negara lainnya.
“KBRI untuk Singapura berkomitmen untuk mendukung langkah-langkah peningkatan produk ekspor dari Indonesia, termasuk ekspor untuk ayam berikut produk-produk turunannya. Saya percaya sinergi antara para pemangku kepentingan termasuk dari pemerintah dapat terus kita pererat, niscaya ekspor ayam dan produk-produk perunggasan lainnya akan terus meningkat dikemudikan hari dan akan lebih banyak lapangan kerja dan dapat meningkatkan devisa yang masuk untuk negara,” jelas Suryo.
Sementara itu, drh. Agung Suganda, M.Si., selaku Direktur Perbibitan Produksi Ternak, Ditjen PKH mengungkapkan bahwa potensi produksi daging ayam ras nasional tahun 2022 tercatat sebanyak 3,67 juta ton, kebutuhannya 3,19 juta ton dan surplus sebanyak 473,43 ribu ton. Sementara potensi produksi telur ayam ras tahun 2022 tercatat sebanyak 5,57 juta ton, kebutuhannya 5,50 juta ton dan potensi surplus 63,66 ribu ton. Selain itu, potensi surplus DOC FS layer Indonesia tahun 2022 sebanyak 36,89 juta ekor atau 18,07% dari kebutuhan nasional dan dialokasikan sekitar 30% terbuka untuk pasar ekspor atau sebanyak 11,07 juta ekor setiap tahun.
“Hal ini menunjukkan Indonesia adalah negara yang mampu menyuplai kebutuhan unggas dan produk turunannya bukan hanya bagi masyarakat Indonesia tetapi siap untuk menyuplai kebutuhan pangan global. Dalam upaya menyelesaikan masalah surplus produksi ini, salah satu upaya yg dilakukan Kementerian Pertanian adalah mendorong peningkatan ekspor khususnya unggas dan produk turunannya yang merupakan bagian dari Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks),” ungkap Agung.
Lebih lanjut Agung menambahkan ekspor perdana yang dilakukan oleh PT CPJF unit breeding farm di Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur merupakan suatu prestasi. Prestasi ini tentunya telah melewati proses panjang untuk memenuhi persyaratan dan ketentuan dari Singapura. Pemerintah menaruh harapan besar kepada PT. CPIN dan juga breeding farm lainnya untuk terus meningkatkan produktivitas dan penguatan daya saing serta dapat memenuhi ketentuan persyaratan pasar ekspor.
Dalam kesempatan ini juga, Ir. Bambang, MM., selaku Kepala Badan Karantina Pertanian menyampaikan apresiasi kepada PT CPIN yang memberikan torehan sejarah membanggakan menjadi perusahaan yang pertama kali mampu mengekspor DOC ke Singapura.
“Hari ini dengan pelaksanaan ekspor perdana DOC ke Singapura, saya kira PT CPIN telah memperlihatkan jati dirinya, dengan sukses mengawal peternakan kita dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang bertahun-tahun kita hadapi. Bahkan, dengan kebijakan cutting yang dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan DOC dalam negeri, ternyata dengan produksi yang surplus mampu membuka pasar baru untuk ekspor ke Singapura. Harapan ke depan hal ini dapat kita tingkatkan lagi bukan hanya ke Singapura tetapi juga ke negara-negara yang lainnya,” pungkas Bambang. Adv
PT CPIN Tembus Ekspor Perdana DOC ke Singapura
PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. melalui anak perusahaannya, PT Charoen Pokphand Jaya Farm menorehkan sejarah pada industri perunggasan Indonesia sebagai perusahaan pertama yang dapat menembus pasar Singapura dengan ekspor perdana day old chick final stock layer sebanyak 85.850 ekor.









