POULTRYINDONESIA, Kuningan – PT Super Unggas Jaya (SUJA) kembali memperkuat kiprahnya di pasar internasional dengan melepas ekspor ketiga karkas ayam beku ke Timor Leste. Pengiriman kali ini mencapai 9,7 ton senilai 22.200 dolar AS, meningkat dibandingkan ekspor sebelumnya pada pertengahan Juli lalu yang berjumlah 8,2 ton.
Dalam seremoni pelepasan ekspor yang berlangsung di Rumah Potong Ayam (RPA) SUJA, Kabupaten Kuningan, Kamis (14/8/2025), Direktur Utama SUJA, Min Dong Sun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, atas dukungan yang memungkinkan pengiriman ini terlaksana.
“Ekspor kali ini menjadi pengiriman ketiga kami ke Timor Leste. Tahun ini, kami menargetkan ekspor karkas ayam beku sebanyak 60 ton dengan nilai total sekitar 133.500 dolar AS, yang akan dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan pasar,” ujar Min.
Ia mengungkapkan, selain karkas ayam, SUJA juga tengah memproses ekspor telur tetas dan pakan ayam ke Timor Leste. Dari lini produk olahan daging ayam, SUJA sedang menyiapkan pengiriman ke Thailand.
“Harapannya di tahun mendatang kami bisa mengekspor lebih banyak lagi, baik karkas, produk olahan, maupun produk lainnya ke berbagai negara. SUJA berkomitmen terus mengembangkan diri dan menjajaki pasar baru. Untuk itu, kami juga meminta dukungan pemerintah agar potensi ekspor ini terus berkembang, sehingga industri perunggasan Indonesia bisa lebih maju dan berkontribusi pada perekonomian nasional,” tambahnya.
Mewakili Direktur Hilirisasi Peternakan, Andri Hanindyo Wibowo selaku Kasubdit Hilirnak mengapresiasi prestasi SUJA yang telah melakukan ekspor lanjutan ketiga karkas ayam beku ke Timor Leste. Dirinya juga berharap, dengan komitmen buyer di Timor Leste dan kegigihan SUJA, target total ekspor 60 ton ke Timor Leste selama tahun 2025 ini bisa tercapai.
“Semoga ke depan, ekspor ke Timor Leste ini bisa terus dikembangkan. Mengingat market share kita disana tergolong kecil dibandingkan dengan Brazil dan Malaysia. Untuk karkas di Timor Leste market share kita hanya 3,76%. Dan ini harus kita tingkatkan dan kejar. Meskipun pasarnya tidak besar, namun tetap menjadi pasar yang potensial untuk dikejar,” ujarnya.
Selain itu, dengan kondisi surplus produksi perunggasan nasional, menurutnya langkah ekspor ini menjadi salah satu alternatif solusi yang harus terus didorong. Dan berdasarkan kajian dari pemerintah, strategi yang terbaik untuk menembus pasar perunggasan global adalah dengan melakukan diversifikasi. Dalam hal ini perunggasan nasional bisa melihat ke perunggasan Thailand, yang mempunyai produk sangat bervariatif dan saat ini mengarah ke pangan fungsional, seperti low diabet, low kolestersol, organik dll.
“Selain diversifikasi produk, diversifikasi negara tujuan juga bisa perlu didorong. Beberapa waktu ini, Direktorat Hilirisasi banyak mendapatkan permintaan ekspor ke berbagai negara baru, baik dari kawan Asean, Timor Tengah hingga Afrika. Untuk itu, kami harapkan SUJA juga terus bisa bergerilya untuk mencari buyer dan pasar baru untuk pengebangan pasar ekspor perunggasan. Dan kami juga berkomitmen untuk terus mengawal dan mendukung hal ini,” tambahnya.