Kejujuran dan selalu mencintai pekerjaan menjadi sebuah prinsip untuk mencapai kesuksesan. Namun demikian, mitra kerja sama yang tepat juga menjadi hal yang krusial untuk diperhatikan.

Penuh perjuangan merupakan kata yang dapat menggambarkan perjalanan hidup Yudi Hari Wahyudi selaku owner dari Muria Farm Malang. Awal perjalanannya di dunia perunggasan dimulai dengan menjadi penjual telur kecil-kecilan. Sambil membawa “obrok” di motor, ia berkeliling desa demi desa untuk menjajakkan telur dagangannya. Dengan kegigihannya, Yudi muda terus berusaha untuk mengembangkan bisnisnya hingga dikenal oleh masyarakat.

“Saya dulu jualan telur dari lulus SMA, karena cari pekerjaan kesana kemari tidak kunjung dapat. Mungkin saat itu kisaran tahun 1987, di usia saya sekitar 24-26 tahun. Sebelum jualan telur, sebenarnya saya mencoba kerja apa saja yang bisa, tapi dirasa kurang cocok. Saat itu, saya hanya jual kecil-kecilan pakai motor dengan “obrok” dari satu desa ke desa lainnya. Disitu usaha saya semakin berkembang dan meningkat. Akhirnya kita bisa dikenal orang dan mendapatkan koneksi dengan peternak di Blitar sebagai sentra produksi telur. Mulai dari situ, kita ambil telur ke Blitar pakai mobil. Kalau diingat, dulu jualan telur pakai motor kurang lebih 3 tahun,” ceritanya kepada Poultry Indonesia, di Jakarta, Kamis (18/7).

Jalan semakin panjang, angin semakin kencang begitu juga bisnis yang dikembangkan oleh Yudi. Sambil bernostalgia, dirinya menceritakan bahwa momentum krisis moneter (krismon) menjadi salah satu fase berat baginya saat menjalankan bisnis perunggasan. Kondisi ekonomi yang sulit membuat banyak peternak gulung tikar, sehingga pasokan telur yang ia dapatkan sangat berkurang. Hal ini memaksanya untuk berbalik arah berjualan beras yang dinilai lebih menguntungkan.

“Waktu krismon tahun 98 itu peternak petelur habis. Akhirnya saya tidak dapat setoran telur. Kalau pun ada, hanya sedikit. Akhirnya, terpaksa pegawai banyak yang tidak bisa kerja. Melihat hal tersebut, saya memutuskan untuk beralih menjadi pedagang beras, karena saat itu lebih menguntungkan. Namun, saat itu berjualan beras pun tidak bisa sembarangan, karena suasana tidak kondusif, demo terjadi dimana-mana. Akan tetapi di sisi lain saya juga harus mencari nafkah dan memiliki karyawan,” ujarnya.

Kejujuran dan mencintai pekerjaan

Singkat cerita setelah krismon usai, dunia perunggasan kembali menata diri. Tak mau ketinggalan, Yudi pun mulai berjualan telur kembali. Di saat usahanya semakin berkembang dengan pertambahan pelanggan, dirinya melihat potensi pasar baru yang bisa digarap. Dari situ, akhirnya Yudi mulai menjual DOC yang disusul dengan berjualan pakan di daerah Blitar. Namun, ia mengaku untuk memulai jualan DOC dan pakan tersebut, bukanlah perkara yang mudah. Pasalnya banyak agen-agen besar yang sudah lebih dulu melayani peternak.

“Namun saya disitu melihat pola dan peluang yang bisa dimanfaatkan. Jadi dulu untuk membeli pakan ke pabrik, harus pesan melalui agen dulu. Tidak bisa langsung. Dan waktu itu, saya lihat agen tidak pernah transparan tentang harga kepada peternak. Bahkan justru banyak agen yang mencari keuntungan melalui fluktuasi harga pakan. Nah dari situ, saya mulai jualan pakan dan mencoba strategi yang lebih transparan kepada peternak. Jadi dulu seminggu sebelum harga pakan naik, kita sebagai agen sudah dikasih tahu oleh pabrikan. Dan waktu itu, saya langsung infokan juga ke peternak, agar mereka juga tahu info yang sebenarnya. Sehingga mereka pun juga bisa stok dan tidak harus membayar harga yang lebih mahal,” tambahnya.

Selain transparansi, Yudi juga melakukan strategi jemput bola dengan mendatangi peternak-peternak untuk menawarkan pakan dan DOC nya. Dengan hal ini, sedikit demi sedikit Yudi mulai mendapatkan kepercayaan dari peternak di daerah Blitar.  Dan seiring berjalannya waktu, usahanya DOC dan pakannya semakin berkembang. Akhirnya ia memutuskan untuk mencoba merambah usaha yang sama ke daerah Malang.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi September 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com