Masyarakat Indonesia saat ini mulai sadar akan pentingnya nutrisi yang dimakan setiap hari. Selain daging, telur menjadi primadona untuk sumber protein hewani. Telur diketahui memiliki harga yang murah dan tentu juga mudah sekali untuk diolah menjadi makanan. Melihat kondisi ini membuat para pembisnis melihat potensi yang sangat besar untuk dijadikan peluang usaha, selain itu harga telur yang relatif stabil membuat peternak layer bermunculan di setiap daerah di Indonesia.
Peternak layer yang sudah mengembangkan bisnisnya puluhan tahun yang lalu, jelas memiliki pengalaman yang matang dalam bidang ayam petelur, namun faktanya masih ada peternak layer yang kurang memahami tentang pemilihan pullet dan cara pemeliharaannya. Peternak mengeluh tentang produksi telurnya yang semakin hari semakin menurun. Permasalahan performa pullet hingga fase produksi yang selalu bermunculan di setiap periode pemeliharaan, membuat peternak terus berpikir untuk menanggulangi permasalahan tersebut.
Permasalahan produktivitas ayam petelur tersebut sejatinya dimulai dari awal pemeliharaan pullet, bahkan ketika peternak mulai membeli dan memilih pullet untuk dijadikan bibit ayam petelurnya. Kesalahan dalam memilih dan memelihara pullet membuat efek besar terhadap performa ayam hingga fase produksi. Pullet diketahui merupakan cikal bakal bibit yang nantinya akan diharapkan memiliki produktivitas tinggi, sehingga sangat penting untuk memahami pemilihan pullet dan manajemen pemeliharaanya sebelum memulai bisnis ayam petelur.
Pemilihan pullet
Usia pullet merupakan faktor utama dalam memilih pullet. Banyak yang beranggapan bahwa memilih pullet umur 16-17 minggu merupakan pilihan tepat. Padahal, pemilihan umur tersebut kurang tepat karena terlalu dekat dengan jarak umur ayam mulai bertelur, yang biasanya mulai produksi pada umur 18 minggu. Pullet yang baru saja dibeli atau dipindahkan dari kandang satu ke kandang lainnya tentu membutuhkan adaptasi. Bagi peternak yang akan membeli pullet, sebaiknya membelinya pada kisaran umur 10-13 minggu, yang mana pada umur 13 minggu bobot badan ayam baru mencapai 1 kilogram, sehingga saat di kandang produksi, penyesuaian mengejar bobot badannya lebih mudah. Selain umur, ada beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pullet.
Pertama, bobot badan pullet. Pullet memiliki standar bobot badan di setiap minggunya. Kita dapat melihat apakah pullet yang kita pilih, masuk kategori bobot badan standar atau tidak. Pullet yang mencapai atau melampaui target bobot tubuh dan berkembang baik selama fase perkembangan, memiliki peluang besar untuk menjadi ayam petelur yang unggul. Selain itu, bobot badan juga berkaitan dengan keseragaman pullet yaitu minimum 85%. Kita dapat melihat riwayatnya (recording) atau dapat menimbang sendiri dengan mengambil minimum sempel 5% dari populasi pullet tersebut. Hal ini nantinya berpengaruh juga terhadap nilai Coefficient of Variation (CV) yaitu jika didapatkan nilai <8 artinya bagus dan jika 8-9 bahkan nilai >9 artinya tidak bagus dengan nilai dari uniformity di bawah 79%.
Kedua, Deplesi. Ketika kita ingin memilih pullet, tentu melihat riwayat (recording) adalah hal yang harus dilakukan. Suatu peternakan dikatakan bagus yaitu memiliki riwayat yang teratur dan jelas. Deplesi menjadi faktor penting pemilihan pullet, pada usia 0-15 minggu, nilai maksimal untuk deplesi yaitu 3%. Artinya, ketika nilai deplesi lebih dari 3% hal tersebut menunjukkan bahwa pullet dalam keadaan tidak bagus. Kemungkinan, riwayat ketika fase pertumbuhan dari DOC ke fase pullet, ayam banyak mengalami gangguan penyakit.
Ketiga, keadaan pullet. Pullet yang sehat memiliki ciri-ciri fisik seperti ternak tidak lesu, tidak ada lendir di hidungnya, bulu mengkilap dan kotoran tidak berwarna hijau, merah ataupun kuning. Bulu ekor pullet bisa kita jadikan indikator bahwa jika bulu datar dan condong ke bawah dan atau tidak condong ke arah atas, maka indikasinya pullet tersebut mengalami keterlambatan terhadap kematangan organ reproduksinya.
Keempat, vaksinasi. Pilihlah pullet yang sudah mendapatkan program vaksinasi yang teratur dan lengkap. Program vaksinasi harus didasarkan pada tantangan lapang di lokasi peternakan. Kita harus cermat dalam membuat program vaksinasi ini. Pilihlah produk vaksin yang terpercaya dan terbukti kualitasnya. Jangan sampai hanya masalah memilih vaksin yang murah, tetapi hasil vaksinasi tidak optimal melindungi kekebalan ayam.
Pemeliharaan pullet
Pullet yang sudah dipilih, lalu dipindahkan ke kandang, dan siap menuju fase produksi, memerlukan manajemen pemeliharaan yang benar. Penulis memiliki sebuah saran yang baik untuk pemindahan pullet dan siap dipelihara secara intensif di kandang produksi. Pertama, lakukan pemindahan pada cuaca yang tidak panas, bisa dilakukan pada pagi, sore, atau malam hari. Kedua, lakukan proses pemindahan dengan hati-hati agar tidak terjadi kecacatan pada pullet. Ketiga, sebelum pullet masuk ke kandang, sediakan terlebih dahulu air minum. Pemberian pakan dilakukan dengan cara sedikit demi sedikit karena setelah proses pindah kandang, kondisi ayam biasanya stres sehingga nafsu makan menurun. Pullet masih menyesuaikan tempat yang baru, sehingga dikhawatirkan jika diberi pakan langsung, pakan justru akan banyak yang tidak habis. Keempat, berikan vitamin dan elektrolit untuk membantu stamina tubuh ayam pasca pemindahan pullet.
Pemeliharaan pullet di kandang produksi memiliki beberapa aspek yang tidak kalah penting untuk kita perhatikan manajemennya. Seperti temperatur suhu di dalam kandang, kemudian intensitas cahaya yang dapat mempengaruhi produktivitas pullet. Sebagai contoh, menurut panduan manajemen Hy-line, merekomendasikan untuk suhu udara kandang sekitar 28 °C dan intensitas cahaya yang diperlukan fase pullet yakni 25 lux.
Pencahayaan ini berfungsi untuk meningakatkan nafsu makan, merangsang hormon FSH, untuk pembentukan kuning telur, dan merangsang hormon LH untuk pelepasan sel kuning telur. Selain itu, pakan dan air minum merupakan salah satu indikator penting lainnya dalam pemeliharaan pullet. Pakan yang diberikan kepada pullet harus memenuhi kebutuhan nutrisi standar yang sesuai umur ayam. Air minum yang diberikan harus dalam keadaan segar, bersih dan sehat. Kebutuhan pakan dan air minum dalam masa fase pullet memiliki standarnya masing-masing.
Kesuksesan manajemen pemeliharaan tidak luput dari kesuksesan manajemen kesehatan, karena pullet lebih rentan terinfeksi penyakit dari pada usia jauh di atasnya. Oleh karena itu, manajemen kesehatan serta biosekuriti kandang harus ketat. Program vaksin yang terarah serta lengkap membuat perlindungan dini terhadap pullet. Selain itu, biosekuriti seperti pembersihan kandang (tempat minum, tandon air, paralon, tempat pakan) menjadi mutlak untuk dijaga kebersihannya.
Selanjutnya penyemprotan ayam menggunakan desinfekatan membuat ayam terjaga dari virus di sekitar kandang. Sumber daya manusia yang kompeten dalam bidangnya menjadi faktor kesuksesan pemeliharaan pullet. Anak kandang yang rajin serta peka terhadap permasalahan kandang membuat kesuksesan manajemen pemeliharaan pullet tercapai. Investasi peternak yang cukup besar membuat pertimbangan yang sangat matang untuk pemilihan pullet. Pullet yang sehat serta memiliki performa yang bagus merupakan bekal dari pundi-pundi keuntungan peternak. Adv










