POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perusahaan perunggasan terintegrasi PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) baru saja menyelesaikan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (27/6). Dalam sesi public expose yang dihadiri oleh awak media, MAIN menyatakan mereka memberlakukan penundaan belanja modal.
Direktur MAIN, Rudi Hartono Husin mengatakan bahwa perseroan saat ini sedang mencermati situasi, dimana kondisi ekonomi yang terjadi masih belum sepenuhnya pulih. Dengan begitu, MAIN pada tahun 2023 memutuskan belum melakukan proyek Capital Expenditure (Capex). Mengingat dalam tahun buku 2022, laba bersih Perseroan sebesar Rp26,45 miliar, lebih rendah 56,6% dibanding tahun sebelumnya. Ditambah, pada kuartal I tahun 2023, perseoran mencatatkan kinerja keuangan yang kurang memuaskan. Dimana pada kuartal I 2022 perseroan mencatakan laba Rp10,48 miliar turun menjadi minus sebesar Rp172,86 miliar di akhir Maret 2023 atau turun sebesar Rp183,36 miliar atau – 1.749,3%.
“Kami mengetahui bahwa di kuartal 1 tahun 2023 mengalami kerugian karena jatuhnya harga DOC dan broiler. Kami juga mengetahui bahwa pemerintah memberikan kuota GPS, sehingga supply cenderung konstan.  Tetapi, ternyata memang daya beli masih rendah yang mengakibatkan harga broiler dan DOC menjadi jatuh. Atas dukungan dari pemerintah melakukan program culling nasional yang sudah terbukti dalam 2 bulan terakhir meningkatkan harga yang cukup baik, sehingga harga broiler dan DOC sudah pulih,” ucapnya
Kendati demikian, disampaikan juga oleh Rudi bahwa MAIN tidak memberlakukan pemutusan hubungan kerja. Terlepas dari kondisi sulit tersebut, MAIN selalu berusaha komitmen menjaga keutuhan tenaga kerjanya. Selain memberlakukan penundaan belanja modal, Perseroan juga berupaya untuk meningkatkan efisiensi produksi, manajemen pembelian bahan baku diikuti penyesuaian harga jual yang tepat, dan meningkatkan penjualan ekspor.
Baca Juga: 72nd IVSA Symposium 2024, IMAKAHI Siap Jadi Tuan Rumah Kegiatan Internasional
“Kapasitas produksi pun akan menyesuaikan dengan pasar. Selama ada kebutuhan, kami akan selalu mencoba memenuhinya dengan baik. Pembangunan fasilitas seperti pabrik di Lampung pun kami tunda. Kami baru membangun tahap 1 nya yaitu dryer dan silo, tetapi tahap 2 untuk feedmill nya kami tunda. Sambil melihat situasi dan kondisinya, kemungkinan 1 tahun atau 2 tahun yang akan datang baru kami mulai kembali,” lanjut Rudi.
Selanjutnya, dalam upaya meningkatkan penjualan ekspor, Rewin Hanrahan selaku Direktur MAIN mengungkapkan bahwa perseroan selalu aktif untuk mendekatkan kepada negara penerima yang berpotensial. Dirinya juga mengungkapkan, dalam waktu dekat Perseroan akan melakukan ekspor produknya ke negara tujuan Singapura dan Jepang, yang sudah mengantongi persetujuan Government to Government (G2G).
“Kita tidak hanya terpaku terhadap 2 negara yang sudah diapprove oleh pemerintah Singapura dan Jepang, tetapi sekarang kita juga mencoba untuk mengundang perwakilan-perwakilan dari negara UEA (Uni Emirat Arab) untuk datang mengaudit fasilitas kita, sehingga kita bisa mengembangkan ekspor ke UEA dan juga ke negara tetangga seperti Brunei. Untuk produk andalan kita saat ini adalah produk-produk olahan seperti nugget dan sosis, serta produk-produk frozen lainnya,” ungkapnya.