POULTRYINDONESIA, Jakarta – Inovasi terus berjalan, termasuk pada peternakan puyuh. Menurut Slamet Wuryadi,Pemilik Slamet Quail Farm (SQF), pihaknya sedang bekerjasama dengan sebuah perusahaan sedang mengembangkan kapsul gizi yang berisi ekstrak dari telur puyuh.
Baca juga : Gerakkan Peternakan Puyuh Tuk Atasi Gizi Buruk
“Kami sedang mengembangkan telur puyuh dalam bentuk ekstrak, jadi kami ambil sari patinya saja, lalu kami kapsulkan, kami berharap produk ini bisa menjadi kapsul gizi terbaik,apalagi palatabilitasnya juga tinggi,” terang Slamet dalam webinar dengan tema ” Membangun Petani Pengusaha Profesional, Berdaya Saing dan Berwirausaha”. Acara ini diadakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertanian pada Sabtu, (23/4) secara online Via aplikasi Zoom dan Youtube.
Ia bercerita bahwa adanya pengembangan inovasi itu akan membuat pasar puyuh semakin bertambah luas. Sejalan pula dengan niatan untuk menurunkan angka stunting di Indonesia dengan puyuh. Slamet mengungkapkan bahwa sekarang ini populasi puyuh seluruh Indonesia sekitar 15,8 juta ekor,dengan 1300 peternak,dan total omset transaksi per hari seluruh Indonesia sekitar Rp.3,5 Milyar.
Ia mengaku bahwa semenjak menekuni peternakan puyuh sejak 1992,ia tidak pernah mengalami harga telur puyuh di bawah BEP (Break Event Point),yang artinya terus untung. Terlebih lagi, supply demand tidak seimbang, sebagai contoh untuk tiga provinsi di Indonesia yakni DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten masih kekurangan  pasokan sekitar 13,5 juta per bulan.
Ia menegaskan untuk bertahan dalam peternakan puyuh harus konsisten dalam menentukan bibit,bebet dan bobotnya. “Pertama, bibit yang digunakan tidak boleh inbreeding, atau kawin sedarah, bibit harus dari crossbreeding, beda keturunan. Kedua, kandungan protein dalam pakan harus diatas 21 persen. Ketiga, puyuh memang lebih mudah beradaptasi baik dataran tinggi atau rendah, namun yang penting adalah puyuh tidak suka angin,” pungkasnya.