Harga telur di tingkat konsumen terpantau naik menjelang lebaran di Pasar Modern BSD City (dok PI-Diana)
Bulan Ramadan memang menjadi momen yang ditunggu oleh para pelaku usaha, tak terkecuali mereka yang bergerak di sektor perunggasan. Ada rotan, ada duri, dalam kesenangan tentu ada kesulitan. Kendati memiliki banyak potensi, nyatanya Tahun Macan Air kali ini datang dengan tantangannya tersendiri. Mulai dari pandemi Covid-19 yang masih menjadi prekursor, curah hujan yang diramalkan lebih tinggi dari tahun sebelumnya hingga isu geopolitik Rusia dan Ukraina yang terjadi.
Distribusi pangan jelang HBKN
Sepertinya kita memiliki pengalaman yang mirip seperti dua tahun lalu ketika musim pandemi Covid-19 dalam menghadapi bulan puasa dan lebaran tahun 2022 ini. Kira-kira begitu yang disampaikan oleh Desianto Budi Utomo selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Selasa (8/3).
“Yang perlu diketahui, setiap puasa atau menjelang lebaran, akan terjadi peningkatan akan permintaan terhadap telur dan daging ayam karena kebutuhan dasar manusia untuk memenuhi makan dan minum. Makanan yang berbasis pada ayam itu masih cukup mendominasi (pilihan makanan) sebagai pilihan sumber protein hewani yang paling mudah didapat, yaitu telur dan daging ayam,” terangnya.

Ramadan kali ini menjadi Ramadan ketiga di mana Indonesia masih dihantui bayang-bayang pandemi Covid-19. Dengan tingginya angka program vaksinasi dari pemerintah dan kondisi masyarakat yang sudah mulai terbiasa dan beradaptasi dengan kondisi pandemi tentu berpengaruh terhadap harga bahan makanan, terutama daging dan telur ayam

Desianto juga menegaskan bahwa tantangan industri perunggasan menjelang puasa dan lebaran, bukanlah permintaan yang naik sebanyak 15 hingga 20 persen, akan tetapi tantangannya datang dari segi logistik. Menurutnya, seminggu menjelang lebaran biasanya sudah tidak boleh lagi ada kendaraan besar atau truk yang berlalu-lalang karena adanya aktivitas mudik, sehingga hal ini cukup mengganggu sistem logistik, baik dalam hal pakan yang digunakan oleh peternak maupun untuk mengambil hasil panen ayam di kandang.
Di samping itu, dalam rilis prospek cuaca seminggu ke depan, yakni 18 hingga 24 Maret 2022 yang diterbitkan pada laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menginformasikan bahwa ada potensi pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan yang berarti ada potensi hujan dengan intensitas yang tinggi. Hal ini juga disampaikan oleh Guswanto, M.Si, selaku Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam wawancaranya dengan Newsline, Jumat (6/3).
“Bulan Maret, April, dan Mei secara umum didefinisikan sebagai bulan musim pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau yang sifatnya bila hujan akan bersifat sporadis, ada angin kencang, dan lain sebagainya,” terangnya pada acara yang disiarkan di kanal Televisi Nasional itu.
Prakiraan cuaca ekstrem yang terjadi di bulan yang bertepatan dengan puasa dan lebaran, menjadi tantangan tersendiri bagi distribusi pangan pada bulan puasa dan menjelang lebaran. Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam keterangan pers yang ditayangkan pada kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Rabu (23/3), telah memberikan lampu hijau bagi masyarakat yang ini pergi mudik saat Lebaran. Namun, hingga tulisan ini dibuat (22/3), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih menggodok aturan mengenai kendaraan besar untuk distribusi kebutuhan konsumsi lebaran 2022.
Keluh kesah pegiat usaha ternak
Tantangan lainnya datang dari peternak layer. Andi Ricki Rosali, salah satu peternak layer, ia mengatakan bahwa kondisi layer 2022 diawali dengan harga yang turun sangat signifikan. Andi mengatakan bahwa di akhir tahun 2021, harga telur menyentuh angka Rp30.000,00 per kilo. Pada minggu pertama bulan Januari, harga anjlok turun ke bawah hingga akhir bulan Februari.
“Kurang lebih 2 bulan kemarin, harga telur di bawah harga pokok produksi (HPP). Akhir-akhir ini, sekitar dua minggu terakhir, baru saja harga membaik di posisi Rp21.200,00 hingga Rp21.500,00. Melihat kondisi sekarang, kami masih optimis karena ini masih menjelang puasa,” terang Andi.
Baca juga : Realita Perunggasan Ramadan dan Jelang Lebaran 2022
Melihat tradisi yang ada, menurut Andi, harga telur akan bagus di minggu pertama puasa dan minggu keempat menjelang lebaran atau saat lebaran. Namun, yang membuat peternak kalimpasingan adalah kemungkinan dikeluarkannya telur HE (Hatching Egg) pada minggu kedua dan ketiga bulan puasa. Andi berharap telur HE tidak keluar agar harga telur tetap stabil.
Dari sisi peternak, Rois Saputro, seorang peternak ayam broiler asal Diwek, Jombang, Jawa Timur mengatakan bahwa kondisi peternakan ayam broiler di lingkup peternak mitra seperti dirinya tidak mampu untuk berbuat banyak untuk menyambut puasa maupun lebaran, sebab setting untuk chick-in dan panen mengikuti jadwal setting inti. Meski demikian, Rois tetap melakukan cara untuk membuat kondisi kandang sesuai dengan kebutuhan ayam agar performanya bagus.
“Saya tidak bisa menentukan jadwal chick-in karena semua tergantung ketetapan inti. Untuk puasa dan lebaran, tahun 2020 lalu, panennya setelah Hari Raya. Sedangkan pada tahun 2019, panen dilakukan oleh inti pada pertengahan puasa. Tahun 2022, hari ini ayam saya baru berusia lima hari dan nanti panen saat puasa dapat 21 hari,” terangnya pada Poultry Indonesia ketika ditemui pada Kamis (24/3).
Sementara itu, tantangan prediksi curah hujan tinggi membuatnya tak segan untuk menyalakan pemanas dengan tujuan agar ayam bisa mencapai suhu optimal dan sesuai dengan kebutuhan ayam, sehingga biaya listrik untuk kipas dan gas LPG untuk pemanas melambung tinggi, mengingat kandangnya merupakan kandang terbuka.
Sukarman, peternak ayam petelur asal Blitar, Jawa Timur melagukan nada yang sedikit pesimis untuk kondisi peternakan ayam petelur menjelang bulan puasa dan lebaran ketika dihubungi oleh tim Poultry Indonesia via WhatsApp pada Rabu (16/3). Pasalnya, harga telur pada masa sebelum bulan puasa terbilang rendah.
“Sebetulnya masa sebelum memasuki bulan puasa seperti sekarang ini merupakan masa pembuatan kue kering, yang berarti kebutuhan akan telur harusnya meningkat. Namun, kenyataannya harga telur tetap rendah di kisaran Rp18.000,00 per kilogram di tingkat peternak,” terangnya.
Menurutnya, harga telur akhir-akhir ini cenderung menurun, meski sebelumnya sempat naik menembus harga Rp28.000,00 per kilogram di tingkat peternak pada minggu kedua bulan Desember tahun 2021. Namun, fenomena itu nyatanya hanya terjadi selama hitungan hari dan selanjutnya harga telur semakin terpuruk. Ia mengapresiasi adanya pengurangan telur tetas di breeding farm layer. Namun, pada kenyataannya, keputusan ini masih belum berdampak pada kondisi harga telur.
Yudianto Yosgiarso, selaku Ketua Umum Pinsar Petelur Nasional (PPN), mengatakan bahwa dalam 12 bulan, bulan puasa merupakan bulan di mana harga telur dapat dipastikan naik. Namun, gejolak harga pangan yang terjadi semenjak pertengahan tahun 2021 kemarin menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak layer.
Saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting pada Kamis (10/3), Yudianto mengatakan bahwa pada kondisi normal sebelum pandemi, meskipun puasa, kebutuhan telur masih terserap dengan habis dan di saat lebaran, tepatnya akhir minggu ke-2 puasa hingga lebaran, permintaan akan telur semakin ramai dan harga mengikuti.
“Pada tahun 2021 menjelang 2022, peternak masih bisa menerima kondisi harga telur karena harga pakan belum naik terlalu drastis. Tahun ini, gejolak sangat terlihat mulai Juni 2021. Harga pakan melejit, harga telur makin turun. Memasuki tahun 2022, khususnya puasa dan lebaran, kebutuhan peternak mulai meningkat. Sehingga, beban utamanya adalah apakah bisa menjaga keseimbangan antara harga pakan dan harga jual telur. Kalau soal kebutuhan dan suplai, saya jamin bulan puasa sampai lebaran aman,” jelasnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2022 dengan judul Ragam Aral Industri Unggas Jelang HBKN”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153