Jagung memiliki peran yang sangat penting dalam proses formulasi ayam
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Menurut Desianto B. Utomo selaku Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), industri pakan ternak merupakan penyumbang pendapatan terbesar dari perusahaan terintegrasi yang sangat bergantung pada distribusi dan penjualan DOC. Menurutnya yang perlu disadari bahwa pakan adalah industri yang sangat bergantung pada DOC yang ditetaskan, ketika industri pakan sudah mengetahui jumlah DOC yang ditetaskan, maka jumlah tersebut menjadi faktor determinan dari produksi pakan. Selanjutnya adalah berapa lama ayam itu akan dipelihara.
Tantangan industri pakan ke depannya yaitu terkait dengan penyediaan bahan pakan. Komponen utama dari bahan pakan unggas adalah jagung yang jumlahnya sebesar 50-60 persen, disusul bungkil kedelai dengan persentase sebesar 25 persen. Dalam proses pemenuhan bahan pakan, perusahaan makanan ternak harus mengandalkan produksi hasil pertanian dalam negeri dengan kisaran harga yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Sedangkan untuk bungkil kedelai, masih sepenuhnya mengandalkan impor dari negara-negara penghasil komoditas tersebut seperti Brasil, Argentina, dan Amerika Serikat.
Selain mengenai penyediaan bahan pakan, Desianto melihat bahwa tantangan industri pakan yang lain adalah bagaimana meningkatkan daya saing industri perunggasan dari ancaman produk karkas asing, karena industri pakan tidak bisa berdiri sendiri dan selalu mengikuti perkembangan industri pada sektor budi dayanya.
Baca Juga: Dilema Peternak Layer di Tengah Polemik Harga Jagung
Pendapat lain disampaikan Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), drh. Irawati Fari. Ira mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian para ahli ekonomi yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diprediksi tidak akan lebih baik dari tahun 2019, maka ia mengimbau kepada anggotanya untuk realistis dalam menargetkan pertumbuhan usahanya.
Pertumbuhan yang ditargetkan tadi bukan berarti tidak banyak kendala, masih menurut Ira, ASOHI tentu juga mempertimbangkan beberapa aspek seperti pertumbuhan populasi unggas dan produksi pakan, produk pengganti antibiotic growth promoter (AGP), produk biosekuriti, serta penggunaan antibiotik terapi (penggunaan antibiotik secara bijaksana).
Pertumbuhan ini tentunya merupakan sebuah harapan bagi Industri perunggasan dan industri obat hewan untuk dapat terus dimanfaatkan. Optimisme untuk melangkah di masa yang akan datang tentunya harus tetap terjaga agar pemenuhan protein hewani untuk masyarakat dapat dipenuhi. Harapannya, tentu dapat memberikan manfaat bagi setiap pelaku usaha yang terlibat dalam rantai usaha perunggasan dari hulu hingga ke hilir.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2020 dengan judul “Tantangan Perunggasan dalam Waktu Dekat”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153