POULTRYINDONESIA, Bogor – Menjadi anak dari seorang peternak broiler terpandang di tanah air tak membuatnya menjadi sosok anak muda yang pemalas dan hanya mengandalkan nama besar orang tua. Sosok tersebut adalah Ramadhana Dwi Putra Mandiri, putra dari Tri Hardiyanto, pemilik Tri Group yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN).
Saat ditemui Poultry Indonesia di peternakannya yang berada di Kabupaten Bogor, Selasa (12/1), Rama mengaku bahwa kegiatan beternak ayam memang sudah dilakukan oleh keluarganya sejak dulu. Kakeknya yang merupakan seorang tantara itu, juga melakukan aktivitas beternak, hanya saja bukan beternak ayam pedaging (broiler), melainkan beternak ayam arab petelur.
Menciptakan mini closed house
 Kondisi peternakan broiler semakin hari semakin menuntut banyak hal. Hal tersebut juga disadari oleh Rama yang merupakan peternak milenial yang tidak abai terhadap kemajuan teknologi. Menurutnya, efisiensi harus terus dilakukan agar bisa bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat ini.
Rama menjelaskan, ide awal menciptakan mini closed house juga bukan tanpa sebab. Kondisi tanah di sekitar Bogor yang cenderung berbukit-bukit membutuhkan biaya besar untuk urusan perataan tanah. Selain itu, pengalamannya beternak dengan kandang closed house ukuran standar, juga menjadi bekal dirinya untuk bagaimana menciptakan kandang dengan prinsip dan cara kerja yang sama namun lebih bersahabat dengan luasan tanah milik para peternak.
Sejauh pengalamannya membangun kandang mini closed house, ukuran paling ideal adalah 8×60 meter. Awal menemukan ukuran tersebut juga tidak muncul begitu saja. Rama sudah menghitung dengan cermat bahwa untuk satu anak kandang mampu memelihara ayam dengan populasi sebanyak 7.000 ekor. Jika populasi tersebut dikonversikan ke ukuran kandang, maka ketemunya menjadi 480 meter persegi (8×60 meter).
Masih menurutnya, pemahaman akan ukuran kandang mini juga tergantung dari sudut pandang peternak itu ada di daerah mana. Hal tersebut ia sadari manakala mengisi sebuah seminar di Pulau Kalimantan, di mana saat itu ia menceritakan tentang kandang mini closed house miliknya tersebut dianggap sebagai kandang ukuran besar.
Berdasarkan data catatan pemeliharaan, beternak dengan kandang mini closed house justru lebih efisien daripada kandang closed house ukuran standar. Hal tersebut bisa terjadi karena beberapa alasan.
Baca Juga: Closed House Mini Banyak Diminati
Pertama, pendirian kandang closed house ukuran besar membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 6-8 bulan, sedangkan untuk yang mini hanya 8 minggu sudah selesai. Artinya, tanpa menunggu waktu yang lama, budi daya ayam bisa segera dimulai.
Kedua yaitu pertimbangan regulasi sektor peternakan. Menurutnya untuk perizinan usaha dengan populasi di bawah 20.000 ekor lebih mudah dan sederhana sehingga biaya perizinan tidak terlalu besar. Cukup izin lingkungan, dinas peternakan, dan kelurahan setempat.
Ketiga, kandang closed house ukuran standar membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk mengeluarkan pupuk (kotoran) ayam yang menyebabkan ada inefisiensi dari siklus chick in. Berdasarkan pengalamannya, untuk closed house ukuran standar maksimum 6 periode dalam setahun. Sementara itu untuk yang kandang mini closed house bisa mencapai 8-9 periode dalam setahun.
Konsep mini closed house temuannya tersebut juga didesain secara portabel sehingga mudah untuk dibongkar pasang. Hal itu juga bukan tanpa alasan. Menurutnya, dengan semakin padatnya pemukiman penduduk yang mendekati lokasi peternakan, maka ketika sewaktu-waktu peternakan tersebut harus pindah, akan menjadi lebih mudah untuk dibongkar dan dipasang kembali di tempat yang lain.
Rama tak menampik bahwa semua yang ia kerjakan di kandang juga erat kaitannya dengan ilmu yang dipelajarinya sewaktu kuliah di jurusan teknik industri. Bagaimana menciptakan tata letak kandang yang baik, pergudangan, jarak peternakan dengan hatchery, transportasi logistik, daya fisika di perkandangan, semuanya menurut Rama berpengaruh terhadap keberhasilan menjalankan sebuah usaha peternakan.
Konsep farm estate
Sebagai peternak milenial, Rama selalu berusaha berpikir dinamis dan mengikuti perkembangan zaman. Sesuai cita-citanya yakni menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang, Rama kemudian menelurkan sebuah gagasan yang menarik bagi anak muda yang ingin berinvestasi di bidang peternakan.
Gagasan tersebut berupa farm estate yaitu sebuah kawasan peternakan ayam dengan konsep investasi berupa paket lahan dan kandang mini closed house. Menurut Rama, berdasarkan perhitungan bisnis, hasilnya bisa lebih baik daripada berinvestasi di sektor properti seperti rumah hunian. Farid