Broiler yang sedang beristirahat pada kandang
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Seiring dengan meningkatnya populasi yang ada di seluruh dunia, tentu butuh pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Maka untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan perunggasan selalu terus bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhan protein hewani bagi kasyarakat dunia. Berawal dari hal tersebut, maka perusahaan genetika yang bertugas untuk menciptakan ayam ras pedaging maupun petelur untuk konsumen akhir, selalu melakukan riset dan pengembangan secara terus menerus agar ayam yang dibudidayakan oleh peternak, dapat menghasilkan daging dengan biaya seefisien mungkin.
Seleksi genetik baik secara kuantitatif maupun molekuler juga tentunya dibarengi dengan kemajuan dalam ilmu nutrisi dan kesehatan unggas. Ayam ras pedaging saat ini dapat menghasilkan bobot badan lebih cepat jika dibandingkan dengan puluhan tahun sebelumnya. Pada sekitar tahun 1960 silam, untuk menghasilkan ayam dengan bobot badan sekitar 2 kilogram membutuhkan waktu pemeliharaan selama 8 minggu, namun dengan majunya teknologi dan proses seleksi genetik yang semakin baik, ayam ras modern mampu mencapai bobot 2,2 kilogram hanya dalam waktu 5 minggu pemeliharaan saja.
Hal itu juga didukung dengan proporsi daging dada lebih tinggi yaitu seperlima dari bobot hidup. Pertumbuhan otot yang lebih tinggi telah disertai dengan perubahan histologis dan karakteristik metabolisme otot dada. Ayam-ayam tersebut bisa menjadi sangat produktif karena dihasilkan dari penelitian dan pengembangan yang sangat panjang dari perusahaan genetika ayam ras. Perusahaan Aviagen dan Cobb Vantress misalnya, perusahaan pembibit yang memiliki galur murni untuk ayam pedaging maupun petelur ini mengalokasikan dana yang sangat besar untuk riset dan pengembangan demi menghasilkan ayam ras dengan produktivitas yang semakin baik.
Namun masih banyak sekali stigma masyarakat yang menganggap pertumbuhan yang sangat cepat itu merupakan hasil dari suntik hormon. Banyak sekali video disinformasi yang membuat narasi seolah olah ayam disuntik dengan hormon tertentu agar dapat tumbuh dengan sangat cepat. Menurut Amin Suyono selaku Key Account Manager Cobb Asia Pacific untuk wilayah Indonesia, Pakistan, Brunei dan Srilanka, menegaskan bahwa hal tersebut merupakan hal yang salah, karena hormon pemacu pertumbuhan itu harganya sangat mahal.
Baca Juga: Saatnya Pemeliharaan Ayam Lokal Menerapkan Good Breeding Practice
“Sebenarnya untuk ayam broiler disuntik hormon itu sangat tidak masuk akal karena hormon itu sangat mahal sekali. Dalam video yang beredar dengan narasi pada saat proses ayam sedang disuntik yang biasa diklaim suntik hormon itu merupakan proses vaksinasi, sekali lagi bukan kegiatan suntik hormon,” tegas Amin saat acara NgoPI melalui akun Instagram Poultry Indonesia yang bertajuk ‘Mengoptimalkan Performa Broiler’ Rabu, (5/8).
Genetik merupakan salah satu faktor yang penting dalam menghasilkan unggas yang unggul. Namun, hal tersebut hanya sepertiga dari faktor penentu keberhasilan budi daya. Unsur lain yang tidak kalah pentingnya ialah input pakan dan manajemen pemeliharaan dari ayam itu sendiri. Faktor manajemen pemeliharaan dapat memberikan perbedaan yang cukup signifikan dalam proses budi daya.
Amin juga memberikan beberapa rambu-rambu aturan yang harus diperhatikan dalam memelihara ayam ras modern. Menurutnya, pertumbuhan cepat yang sudah melalui pengembangan dan riset yang panjang memang membuat ayam tumbuh dengan cepat, namun sebagai kompensasi beberapa organ seperti paru-paru dan jantung memang tumbuh agak lamban. Oleh karena itu, para peternak harus menyesuaikan dengan potensi sifat sifat fenotip yang sudah didesain oleh perusahaan pembibit agar mampu berproduksi secara optimal dan efisien.
“Sifat fenotif yang optimal baru bisa muncul jika didukung dengan perlakuan manajemen dan lingkungan yang sesuai dengan kenyamanan ternak, termasuk apa yang kita berikan dari mulai manajemen perkandangan dan pakan yang diberikan. Ayam modern itu bisa tumbuh dengan cepat juga dia menghasilkan panas yang tinggi, jadi kondisi kandang itu harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang sejuk,” jelas Amin.Domi, Esti.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2021 ini dilanjutkan pada judul “Pentingnya Memerhatikan Fase Awal Pemeliharaan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153