Proses Jual Beli di Pasar Modern BSD di saat puasa (dok PI-Diana)
Bulan puasa merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, utamanya umat muslim. Biasanya, menjelang bulan puasa, masyarakat sudah berbondong-bondong memborong berbagai macam kebutuhan, terutama pangan untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, beberapa hari menjelang bulan puasa dan pada minggu pertama bulan puasa, konsumsi masyarakat mulai meningkat.
Peningkatan konsumsi ini boleh jadi diakibatkan oleh euforia di bulan puasa di mana lazimnya masyarakat membuat atau membeli berbagai macam hidangan untuk melepas dahaga saat berbuka puasa dan sebagai variasi makanan di waktu sahur agar terus semangat dalam menjalani ibadah puasa selama satu bulan ke depan. Peningkatan konsumsi pada bulan puasa juga didorong oleh beberapa tradisi lainnya yang biasa dilakukan, yakni silaturahmi dengan sanak saudara dan kolega yang dibungkus dalam acara buka puasa bersama. Tak sedikit masyarakat yang mempersiapkan kegiatan untuk bersua ini dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Baca juga : Menakar Peluang Bisnis Itik
Ada satu tradisi lainnya yang wajib dilakukan di kala puasa, yaitu ngabuburit. Kegiatan ini biasa diisi dengan berbagai aktivitas, seperti jalan santai hingga olahraga ringan, sembari menunggu kumandang azan. Saat jalan santai, biasanya masyarakat juga sekalian berburu beragam jajanan kuliner yang biasanya dijual di pasar dadakan untuk takjil. Alhasil, tradisi di kala Ramadan ini rupanya berdampak pada pos pendapatan masyarakat pada bulan puasa.
Tradisi masyarakat menghadapi HBKN
Menurut Abdullah Mansuri selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), bulan Ramadan menjadi salah satu momen di mana permintaan meningkat dan harga pangan bergejolak. Menurutnya, daya beli masyarakat relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan jika dibandingkan dengan sebelum pandemi, tentunya ada penurunan dan belum sampai pada fase stabil.
“Sebelum puasa daya belinya masih cukup sulit, tetapi biasanya ada perbedaan perilaku di setiap bulan puasa. Walaupun dalam kondisi ekonomi yang cukup sulit, ketika menyambut Ramadan, ada kegembiraan yang luar biasa, sehingga ada beberapa komoditas yang meski harganya tinggi tetap saja dibeli karena Ramadan ini kan penuh suka cita ya,” terangnya.
Jika diperhatikan lebih jauh, kebiasaan ini juga ditopang oleh keinginan para kepala keluarga untuk memberikan yang lebih di saat bulan puasa. Salah satu hal nyata yang dilakukan adalah menambah jumlah pembelian bahan pangan untuk dikonsumsi, termasuk daging dan telur ayam. Hal ini sejalan dengan apa yang Abdullah katakan, dimana biasanya masyarakat utamanya kepala keluarga ingin menghidangkan yang terbaik untuk keluarganya meski dalam kondisi ekonomi yang sulit.
“Pada awal bulan puasa, masyarakat kita cenderung ingin menghidangkan hidangan yang luar biasa. Nanti di pertengahan bulan puasa, mereka kembali menghidangkan menu yang biasa-biasa saja. Kemudian menjelang lebaran, akan cukup banyak permintaan karena sudah mulai menghidangkan menu yang luar biasa,” jelasnya.
Pembatasan kegiatan sosial akibat pandemi Covid-19 yang hinggap bak langau dan titik bak hujan pada tahun 2020 kemarin dapat dikatakan tak menghalangi masyarakat untuk merayakan bulan yang penuh berkah dan hari kemenangan, yaitu bulan puasa dan lebaran. Bahkan, adanya pembatasan kegiatan masyarakat dua tahun belakangan, tak melunturkan semangat silaturahmi mereka. Justru, kegiatan seperti buka bersama dan halal bihalal yang biasa dilakukan secara tatap muka, dua tahun belakangan ini digantikan dalam bentuk virtual dan tradisi saling kirim hampers untuk gantikan pertemuan.
Sehingga, jika dibandingkan dengan tahun 2020 lalu, di mana kegiatan sosial masyarakat banyak dibatasi sepertinya pada tahun 2022 ini, euforia masyarakat dalam menyambut bulan puasa dan menjalankannya hingga lebaran akan lebih tinggi mengingat pemerintah mengeluarkan sejumlah kebijakan baru seiring dengan terkendalinya penanganan pandemi Covid-19 dalam beberapa waktu terakhir.
Bak kijang lepas ke rimba, bagi mereka yang bekerja dan merantau dari kampung halaman, bulan puasa dan lebaran merupakan momen yang ditunggu-tunggu karena di bulan ini biasanya mereka mendapatkan jatah libur lebaran. Adanya libur lebaran ditambah dengan jatah cuti dari tempat bekerja membuat para pekerja ini menantikan tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman saat puasa dan menjelang lebaran.
Selain itu, pembagian tunjangan hari raya (THR) jelang lebaran oleh tempat mereka bekerja juga bak jatuh di atas tilam, baik bagi mereka yang mendapatkannya maupun para pedagang yang ikut kecipratan untungnya. Pasalnya, pemberian THR ini merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mendorong konsumsi dan daya beli masyarakat.
Pasang surut permintaan saat puasa dan jelang lebaran
Setiap tahunnya, momentum Ramadan selalu identik dengan naiknya harga bahan-bahan pokok. Hal ini biasa dikarenakan meningkatnya permintaan dari masyarakat sebagai bentuk antusiasme dalam menyambut bulan suci yang datangnya hanya satu kali dalam satu tahun tersebut.
Faisal, yang berprofesi sebagai pengusaha katering makanan Al-Razaak yang beroperasi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadikannya konsumen tetap produk pangan seperti daging dan telur ayam. “Kami rutin membeli daging dan telur ayam karena keduanya merupakan menu utama di katering kami. Adapun untuk harga, saat ini tidak tetap, kadang naik, kadang turun. Tergantung dari agen ayamnya”, ucap Faisal melalui sambungan telepon via WhatsApp dengan tim Poultry Indonesia, Senin (21/3).
Meski baru memasuki bulan puasa, tak sedikit masyarakat yang menghidangkan makanan khas lebaran, seperti opor ayam, soto ayam, maupun lodho ayam. Suji, salah satu pedagang sayur keliling yang juga menerima pesanan ayam kampung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengatakan bahwa saat puasa dan jelang lebaran, permintaan akan ayam kampung lebih tinggi dari biasanya.“Kalau saat puasa seperti ini, memang lebih banyak orang yang memilih ayam kampung untuk diolah dan harganya bisa mencapai 70 ribu, tergantung dari berat ayam itu sendiri,” ucapnya pada Poultry Indonesia saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (21/3).
Baca juga : Rekam Jejak Perunggasan Tahun 2021
Sepaham dengan Suji, Joko Susilo yang merupakan seorang konsultan peternakan membenarkan hal tersebut pada saat diwawancarai oleh tim Poultry Indonesia secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Jumat (11/3). “Betul, saat puasa dan jelang lebaran permintaan akan ayam kampung meningkat karena kebutuhannya lebih dari hari biasa. Masakan, seperti lodho ayam, opor ayam, dan lain sebagainya sumbernya adalah daging ayam kampung, sehingga peningkatan permintaan bisa mencapai sampai 30 persen,” terangnya.
Joko menjelaskan alasan mengapa harga ayam kampung biasanya lebih mahal. Menurutnya, permintaan masyarakat tidak bisa dipenuhi secara dadakan karena pemeliharaan ayam kampung sendiri cukup memakan waktu, sehingga terjadi kenaikan harga. Selain masa pemeliharaan yang lama, modal yang cukup besar juga harus disiapkan untuk merancang bagaimana kebutuhan di bulan puasa maupun di lebaran ini terpenuhi permintaannya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2022 dengan judul “Realita Perunggasan Ramadan dan Jelang Lebaran 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153