Redi Wibowo dan Anitarini Merdekawati
Meniti karir untuk menjadi karyawan adalah pilihan, dengan konsekuensi berangkat pagi, kemudian pulang sore hari. Aktivitas seperti itu ternyata pernah pula dialami oleh Redi Wibowo, Peternak Petelur Asal Blitar, Jawa Timur, setelah lulus kuliah. Dan pada akhirnya ia merasa kurang nyaman dengan aktivitas seperti itu. “Pekerjaan itu ternyata membuat saya tidak nyaman. Jujur dari dulu saya tidak mempunyai bayangan untuk bekerja, dengan berangkat pagi, pulang sore, dan ternyata setelah saya laksanakan saya merasa tidak bisa melakukan pekerjaan itu untuk jangka panjang,” tegas lulusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang itu, ketika ditemui wartawan Poultry Indonesia pada hari Rabu (24/12).

Untuk beternak dibutuhkan ketekunan yang luar biasa dan disertai dengan doa. Yang terpenting jangan menyerah, meski dalam keadaan yang sulit. Bagaimana pun juga setelah puasa pasti ada hari raya

Atas dasar itulah, ia mengajak Anitarini Merdekawati, sang istri, untuk berdiskusi. Sehingga dari situlah tercetus ide untuk membuka peternakan, sambil tetap bekerja seperti biasa. Dengan melakukan pembagian keuangan, gaji sang suami untuk biaya pengelolaan ternak, sedang sang istri yang juga bekerja, gajinya dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan mereka membuka peternakan bebek petelur dengan modal seadanya. Namun, dalam perjalanannya usaha ini kurang berhasil dengan baik, akhirnya mereka memutuskan untuk beralih ke ayam petelur.
Kala itu mereka mengawali peternakan ayam petelur dengan populasi 200 ekor. Di luar dugaan, rupanya di ayam petelur inilah ia dan istri menemukan pola keberhasilan dalam pemeliharaan ayam petelur, hingga kemudian populasinya semakin meningkat, dari 200 ekor, menjadi 300 ekor kemudian menjadi 500 ekor.
“Secara umum, setiap tahun ada penambahan populasi. Namun, semua hasil dari peternakan ayam petelur ini tidak untuk kami nikmati, lebih pada kembali untuk investasi ke ayam lagi. Kami baru menikmati hasil dari ayam ketika populasi sudah beranjak menjadi sekitar 3.000- 4.000 ekor, dengan tetap menyisihkan penghasilan untuk investasi,” terang Redi.
Ketika tim Poultry Indonesia berkunjung ke lokasi farm, populasinya sudah mencapai 6.000 ekor, dan mereka baru saja membeli pullet untuk menambah populasi. Padahal di sisi lain banyak peternak yang sedang gencar melakukan pengurangan populasi. Karena harga pakan yang terus naik, sementara harga telur cenderung turun. Redi mengaku bahwa pembelian pullet ia lakukan karena harga pullet yang cenderung lebih murah dari biasanya, dan kebetulan ia juga sedang merencanakan penambahan populasi. Redi mengaku sangat optimis untuk perkembangan peternakan ayam petelur ke depan.
Baca juga : Benny Pandapotan Nainggolan, Hidup Harus Punya Tujuan
“Untuk pullet yang baru datang, masih saya tempatkan di kandang koloni. Belum di kandang baterai, karena kandangnya masih belum dibangun, dan dalam waktu dekat akan dibangun. Untuk pembangunannya sendiri tidak memakan waktu yang lama, karena sudah ada tukang yang bisa membangun dengan sistem borongan, dengan waktu yang singkat pula. Ke depan saya juga optimis, liku-liku naik turun harga terbilang sudah biasa. Saya yakin, ketika ada puasa pasti ada hari raya, dan saya yakin ke depan harga telur akan semakin membaik,” tegasnya.
Ia juga berencana untuk kandang yang akan dibangun akan menggunakan hopper (alat untuk memberi pakan) rel atas. Dengan demikian pemberian pakan lebih efektif dan efisien, dengan sekali jalan pengisian pakan akan merata ke tempat Untuk beternak dibutuhkan ketekunan yang luar biasa dan disertai dengan doa. Yang terpenting jangan menyerah, meski dalam keadaan yang sulit. Bagaimana pun juga setelah puasa pasti ada hari raya. pakan. Redi sebelumnya sudah menggunakan hopper rel bawah, untuk kandang ayam petelur dengan kapasitas 1.200 ekor. Ia menjelaskan bahwa hopper sangat membantunya dalam mengelola pekerjaan di dalam kandang, di mana jika pemberian pakan dilakukan secara manual, makan akan memakan waktu sekitar 30 menit. Namun dengan hopper hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja.
“Yang pasti, hopper ini lebih efisien dalam bidang tenaga dan waktu. Pemberian pakan bisa dilakukan sekali, yakni pada pagi hari saja, sedang untuk siang dan sore cukup diratakan saja. Hopper sendiri bisa menjadi dua fungsi, untuk mengisi pakan, dan untuk meratakan pakan,” terangnya. Redi bercerita, awal mula menggunakan hopper karena sulitnya mencari tenaga kerja. Akhirnya ia teringat akan kandang temannya yang sudah menggunakan hopper terlebih dulu, yang kemudian ia mencontoh dengan sedikit modifikasi.
“Saya mencontoh hopper milik teman saya, kemudian bagian bawahnya saya modifikasi agar bisa lebih fleksibel, dan bisa naik turun tergantung kondisi kerataan pakannya. Pemakaian hopper juga bisa menjadi alternatif menghemat pakan yang tercecer. Sebab dengan pemberian pakan manual seringkali membuat pakan tercecer. Seumpama sehari dua ons saja, kalau sudah satu bulan berapa, belum lagi setahun berapa?,” tanyanya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2022 dengan judul “Redi Wibowo, Berbagi Peran Demi Kemajuan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153