Setelah menghadapi berbagai dinamika sepanjang 2025, industri perunggasan nasional menyambut tahun 2026 dengan optimisme yang disertai beragam peluang, sekaligus tantangan yang siap menghadang.

Tahun 2025 menjadi periode pembelajaran penting bagi industri perunggasan nasional. Dinamika pasar yang terjadi sepanjang tahun menunjukkan bahwa sektor ini semakin dipengaruhi oleh kombinasi faktor struktural, kebijakan, serta psikologi pasar. Berbagai tantangan yang muncul tidak hanya menguji daya tahan pelaku usaha, tetapi juga membentuk fondasi adaptasi menuju tahun 2026.

Pada semester pertama 2025, industri perunggasan menghadapi tekanan berat akibat rendahnya harga live bird (LB) di tingkat peternak. Kondisi oversupply yang masih berlanjut, sementara daya serap pasar belum optimal, menyebabkan harga LB berada di bawah HPP peternak. Situasi ini menekan margin usaha bahkan menimbulkan kerugian bagi peternak. Namun, memasuki semester kedua, harga LB mulai menunjukkan perbaikan secara bertahap. Perbaikan ini kemudian bertahan hingga akhir tahun, seiring dengan penyesuaian produksi, membaiknya serapan pasar, serta ekspektasi yang lebih positif terhadap kebijakan pemerintah. Berbeda dengan daging ayam, harga telur relatif lebih stabil sepanjang 2025, meskipun tetap menghadapi fluktuasi musiman.

Salah satu faktor penting yang memengaruhi dinamika pasar pada 2025 adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara kuantitatif, serapan produk unggas oleh program ini dinilai oleh berbagai pemangku kepentingan belum signifikan terhadap total produksi nasional. Namun demikian, dampak psikologisnya terhadap pasar sangat besar. Program MBG menciptakan optimisme baru, memperkuat ekspektasi permintaan, serta memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah menempatkan produk unggas sebagai komponen utama pemenuhan gizi nasional. Sentimen ini turut berkontribusi dalam menahan tekanan harga dan memperbaiki kepercayaan pelaku usaha.

Memasuki akhir 2025, dinamika industri perunggasan tidak lantas mereda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa daging ayam ras dan telur ayam ras tidak hanya berperan sebagai sumber protein utama masyarakat, tetapi juga memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan daya beli. Hal ini tercermin dari catatan BPS yang menyebutkan bahwa pada Oktober 2025, komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi, dengan laju inflasi tercatat sebesar 0,28 persen.

Di sisi lain, dinamika akhir tahun juga diwarnai oleh ancaman masuknya chicken leg quarter (CLQ) impor dari luar negeri sebagai dampak kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Produk CLQ impor yang memiliki keunggulan harga berpotensi menekan harga ayam lokal dan mengganggu keseimbangan pasar domestik. Bersamaan dengan itu, rencana investasi perunggasan senilai Rp20 triliun melalui Danantara yang difokuskan ke luar Pulau Jawa turut memunculkan beragam respons dari pemangku kepentingan perunggasan nasional.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com

Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.