POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam industri perunggasan, gangguan kesehatan atau penyakit pada unggas merupakan penghambat utama, karena dampak yang ditimbulkan oleh gangguan kesehatan pada unggas pun tidak bisa dianggap enteng. Ditambah dengan faktor cuaca dan kerusakan lingkungan, kejadian penyakit pada unggas menjadi tak terhindarkan. Tren penyakit yang menyerang unggas dari tahun ke tahun cenderung sama. Kejadian berulang seperti ini perlu menjadi perhatian, baik bagi kalangan peternak maupun stakeholder perunggasan lainnya.
Dari berbagai kejadian penyakit yang muncul pada unggas, yang wajib diperhatikan adalah manajemen kandang, pemberian pakan, dan hal lain yang menyakut gizi dan kesehatan ayam. Jangan sampai kasus penyakit ini dibiarkan dan berkepanjangan karena nantinya bisa menurunkan produktivitas
Tren penyakit yang terjadi setiap tahunnya relatif sama. Beberapa penyakit masih menjadi ‘juara’ dalam hal menyerang kesehatan ayam. Hal ini disampaikan oleh drh. Hadi Wibowo selaku Wakil Ketua Umum Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI). Hadi mengatakan bahwa tren penyakit unggas di lapangan dari tahun ke tahun selalu sama. “Beberapa penyakit yang muncul antara lain penyakit viral, penyakit bakterial, penyakit yang disebabkan oleh protozoa, parasit darah, dan cacing atau helmintiasis,” ungkapnya dalam webinar Poultry Indonesia Forum pada Sabtu (13/11).
Lebih lanjut lagi, Hadi menjelaskan bahwa penyakit yang muncul yang disebabkan oleh virus antara lain Newcastle Disease (ND), Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro, Infectious Bronchitis Variant (IB-Variant), dan Avian influenza (AI). Menurut laporan yang ia dapatkan dari lapangan, kejadian penyakit ND sepanjang tahun dan setiap tahunnya selalu terjadi. “ND ini lebih banyak terjadi pada broiler. Hal ini bisa diakibatkan oleh faktor vaksin atau faktor lainnya yang kurang mendapatkan perhatian. Kalau pada layer, kejadian ND menyangkut masalah resistensi,” ungkapnya.
Menurutnya penyakit ND ini selalu berulang karena Maternal Antibody (MAB) yang rendah. “Sepertinya kebanyakan pemilik ternak agak sedikit malas untuk memeriksakan MAB pada saat ayam tiba di kandang. Dengan MAB yang rendah atau mendekati titik nol, maka akan terjadi reaksi antigen-antibodi yang tidak baik saat kita vaksin. Jika serangan dari ND kuat, maka akan terjadi kasus ND. Sehingga, sebaiknya MAB dideteksi lebih awal dan kita bisa mencari solusi agar ketahanannya lebih bagus,” jelas Hadi.
Senada dengan Hadi, Prof. Dr. drh. I Wayan T Wibawan, MSc., selaku guru besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB University) juga mengatakan bahwa untuk kejadian penyakit ND, biasanya ayam sudah divaksin, namun kemudian timbul gejala. “Gejala yang timbul itu merupakan kegagalan ayam merespon vaksin. Bisa disebabkan oleh banyak hal dan salah satunya adanya agen imunosupresi,” jelasnya pada tim Poultry Indonesia ketika disambangi ke kediamannya, Selasa (10/11).
Menurut Wayan, penyakit unggas yang mendominasi adalah penyakit saluran pernapasan dan pencernaan. “Apalagi di bulan Desember, mulai ada kelembaban yang meningkat, musim hujan juga mulai. Predisposisi pada bulan tertentu selalu berulang setiap tahunnya. Pada musim hujan, sering terjadi penyakit yang disebabkan oleh E. coli, yaitu Colibacillosis. Hal ini terjadi seolah-olah akibat adanya kegagalan dari vaksin Coryza-Coli,” ujarnya.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2021 dengan judul “Refleksi Penyakit Unggas 2021”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...