Oleh : Anton J Supit*
Perunggasan Indonesia adalah sektor yang penuh potensi sekaligus tantangan. Sebagai industri strategis, perunggasan berkontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Tahun 2024 menandai perjalanan penuh dinamika bagi sektor ini, dengan berbagai pelajaran yang perlu dicatat untuk membangun masa depan yang lebih baik. Salah satu aspek penting dari perunggasan adalah perannya dalam memberikan protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat. Daging ayam dan telur telah lama menjadi pilihan utama sumber protein karena harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan daging sapi atau ikan. Dalam konteks ini, industri perunggasan memiliki nilai sosial yang tinggi. Sebagai penyedia kebutuhan pokok, sektor ini berperan penting dalam upaya pemerintah untuk mengatasi masalah kekurangan gizi, yang masih menjadi tantangan besar bagi bangsa ini.
Dalam refleksi saya, industri perunggasan memiliki nilai yang jauh melampaui aspek ekonomi. Selain memberikan penghasilan bagi peternak dan pengusaha, perunggasan adalah sektor dengan misi sosial yang tinggi. Produk unggas, seperti daging ayam dan telur, adalah sumber protein hewani yang paling terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Di tengah tantangan kekurangan gizi yang masih dihadapi bangsa ini, peran perunggasan menjadi semakin krusial.
Masalah gizi buruk, terutama pada ibu hamil dan anak-anak, adalah isu serius yang harus kita tangani bersama. Data menunjukkan bahwa puluhan persen ibu hamil di Indonesia masih kekurangan gizi. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia masa depan, mulai dari kecerdasan hingga produktivitas. Solusinya tidak hanya dimulai setelah anak lahir, tetapi juga harus mencakup perbaikan gizi ibu sebelum dan selama kehamilan.
Peluang komoditas perunggasan
Di sinilah perunggasan memainkan peran strategis. Sebagai sumber protein yang murah dan mudah diakses, produk unggas menawarkan solusi yang praktis. Jika dibandingkan dengan daging sapi atau ikan, daging ayam dan telur memiliki harga yang lebih terjangkau, menjadikannya pilihan utama bagi masyarakat luas. Karena itu, keberlanjutan sektor perunggasan adalah isu yang tidak bisa diabaikan.
Namun, penting bagi kita untuk memastikan industri ini berjalan sehat, baik secara bisnis maupun dampaknya pada masyarakat. Pemerintah harus memberikan perhatian lebih untuk mendukung sektor ini, mulai dari kebijakan yang mendukung stabilitas harga hingga program-program yang mendorong peningkatan konsumsi protein hewani. Tanpa langkah-langkah ini, kita berisiko kehilangan salah satu pilar utama dalam membangun generasi yang sehat dan produktif.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama di pasar perunggasan global. Namun, dibandingkan dengan negara seperti Thailand, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Thailand telah berhasil memanfaatkan teknologi dan efisiensi manajemen untuk menjadi eksportir unggas terbesar di dunia.
Agar dapat bersaing, perunggasan Indonesia harus berinvestasi dalam teknologi modern yang dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi. Selain itu, sertifikasi internasional yang memastikan kualitas produk menjadi kunci untuk menembus pasar ekspor. Pemerintah juga perlu mendukung pelaku industri dengan kebijakan yang mendorong efisiensi produksi dan memperbaiki infrastruktur logistik.
Grand Design untuk masa depan perunggasan nasional
Industri perunggasan nasional membutuhkan arah strategis yang terencana dengan matang untuk menjawab tantangan dan peluang yang ada. Saat ini, salah satu persoalan utama adalah memastikan ketersediaan bahan baku pakan yang efisien. Jagung, sebagai komponen terbesar pakan ternak, memegang peranan krusial. Upaya seperti meningkatkan produktivitas jagung lokal melalui benih hibrida, perbaikan teknik budidaya, dan pengelolaan stok nasional harus menjadi bagian dari rencana besar ini. Pemerintah juga perlu memperhatikan kebijakan perdagangan yang mendorong stabilitas harga bahan baku tanpa mengorbankan kepentingan petani lokal.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com