POULTRYINDONESIA, Yogyakarta – Beberapa bulan terakhir, persoalan jagung kerap kali mewarnai perjalanan bisnis ayam ras petelur (layer) nasional. Melihat fenomena tersebut, berbagai asosiasi dan koperasi peternak layer  yang tergabung dalam wadah Rumah Bersama berkumpul di Fakultas Peternakan UGM pada kamis (29/2) untuk melakukan rembuk bersama membahas persoalan jagung sekaligus menyongsong panen raya jagung yang perkiraan akan terjadi pada bulan Maret – April 2024.
Guru Besar Fakultas UGM, sekaligus tenaga ahli Menteri Pertanian, Prof Ali Agus menyebut bahwa persoalan pangan menjadi perhatian serius bagi semua pihak. Ia mengakui bahwa saat ini memang ada persoalan yang harus dihadapi, yakni masalah jagung yang merupakan bahan pakan utama dalam penyusunan formulasi pakan unggas. Dimana ketersediaanya terdampak oleh fenomena El Nino baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga musim tanam mundur, akhirnya panen juga mundur sementara ayam setiap hari harus makan,
“Hari ini kita diskusi, rembukan supaya jagung bisa tersedia, kualitasnya juga memenuhi standar. Dan disini para pihak terkait masing-masing punya peranan untuk turut serta membantu menyelesaikan sebagian persoalan kita, yaitu ketersediaan jagung serta keterjangkauan harganya. Dan kedepan harus ada akselerasi program pemerintah. Seperti halnya Kementan yang sudah bekerja keras melakukan percepatan untuk memenuhi kebutuhan jagung,” tambahnya.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan, Badan Pangan Nasional, Maino Dwi Hartono, menyampaikan bahwa berdasarkan survei Kerangka Sampel Area (KSA) BPS, panen raya jagung akan terjadi sekitar bulan Maret-April 2024 yang diperkirakan sejumlah 1,9 juta ton jagung dengan estimasi kadar air 14%. Namun ini dirinya mengingatkan untuk harus hari-hati juga, dimana kebutuhan jagung nasional 1,2-1,3 juta ton/bulan. Katakanlah di Maret ada sejumlah 1,9 juta ton, berarti ada surplus disitu. Akan tetapi, hal ini tidak lebih baik daripada tahun kemarin.
“Dari Bapanas, kami lebih banyak berkecimpung dari sisi ketersediaan, baik dari produksi dalam negeri maupun stok yang harus dikelola pemerintah. Nah menyikapi fenomena jagung yang akan datang, tentu banyak hal yang harus kita kita antisipasi dan kerja sama kan dengan baik. Kita sudah punya Perbadan Nomor 13 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP). Dan kami terus mendorong Bulog untuk bisa menjalankan CJP. Harapannya pun sama bagi trader, feedmill hingga koperasi bisa menyerap produksi jagung, sehingga harga jagung di petani tidak jatuh dan menanggung kerugian. Bapanas akan memastikan Harga Acuan Pembelian (HAP) jagung dapat menjaga stabilitas harga agar tidak terjadi gejolak khususnya pada saat panen raya,” ujarnya.
Sementara itu, Pujo Setio selaku Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan, Kemenko Perekonomian mengatakan bahwa hal yang paling penting dalam persoalan ini adalah adanya data yang akurat. Baik data produksi jagung maupun data peternak. Program sudah siap, tapi datanya masih carut marut. Bahkan sampai saat ini, dirinya mengaku beberapa kali mengunjungi daerah, dan mendapatkan komplain dari peternak yang belum terdata, atau datanya tumpang tindih, bahkan ada yang disalahgunakan.
“Inilah pentingnya data. Mungkin yang ada di forum ini sudah terdata dengan baik semua, namun di luar sana masih banyak yang belum terdata dan ini menjadi persoalan kita. Oleh sebab itu, libatkan Pemda dalam melakukan pendataan ini. Untuk itu saya usul kedepan terkait perunggasan ini Kemendagri bisa diikutsertakan, karena ujung tombak peternak ini ada di daerah. Kemudian Pemda juga ada kewajiban untuk menjaga inflasi daerah. Ini harus klita kuatkan, sehingga kolaborasi bisa lebih baik”.
Mewakili Menteri Pertanian, Nur Saptahidayat selaku Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menerangkan bahwa dalam perkembangannya, pertanaman jagung di Indonesia diwarnai dengan tumbuhnya sentra-sentra produksi baru di luar pulau Jawa. Sementara sentra pabrik pakan sebagai pengguna mayoritas jagung masih berada di Pulau Jawa. Oleh karena itu, pengembangan pertanaman jagung ke depan harus didukung dengan sistem logistik yang baik, skema cadangan yang kuat dan pengaturan harga acuan regional, mengingat adanya perbedaan biaya produksi antar wilayah.
“Dan menyongsong panen ini, alangkah baiknya semua pelaku usaha bisa berbagai, baik antara feedmill, trader maupun peternak. Kita tidak ingin, ke depan tim satgas pangan harus kembali turun untuk menertibkan. Karena, apabila melihat jagung ini menjadi sebuah peluang bagi pelaku usaha yang punya uang dan gudang, biasanya hal ini dimiliki trader dan feedmill. Persoalan utama jagung ini adalah penyimpanan yang berbeda dengan komoditas lain, kalau tidak dilakukan dengan baik maka akan terjadi kerusakan. Kedepan saya berharap, teman-teman peternak ini bisa bekerja sama membuat 1 model penyimpanan, sehingga tidak hanya mengharapkan pembelian langsung yang secara musim tidak lama, dan juga tidak harus membeli dari trader. Hal ini harus segera dirintis dan nanti pemerintah akan terlibat di dalamnya,”
Masih dalam forum yang sama, Ketua Rumah Bersama, sekaligus Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso menyampaikan bahwa para peternak berharap agar Peraturan Badan Perbadan nomor 13 tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Jagung Pemerintah dapat diimplementasikan, untuk kepastian jagung bagi para peternak. Dirinya berharap CJP ini dapat disiapkan di sentra peternak agar penyaluran dapat dilakukan secara efisien dan tepat waktu.
“Kami berharap, saat panen raya yang akan datang, peternak dapat dimitrakan dengan Bulog, sebagai buffer stock jagung. Kemudian, melihat beberapa fenomena ke belakang, dimana harga jagung naik luar biasa tinggi, sedangkan telur tidak bisa otomatis mengikuti. Untuk itu Perbadan No 5 Tahun 2022 mohon untuk dievaluasi sesuai dengan kondisi saat ini. Selain itu  program-program bantuan pangan pemerintah (telur) kami mohon agar dimitrakan dengan Koperasi maupun Asosiasi yang berbadan hukum sebagai penyedia,” tegasnya.