Para pelaku di industri perunggasan kembali melakukan rembuk perunggasan nasional untuk kestabilan harga
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Setelah diadakan Rembuk Perunggasan Nasional pada Rabu, 22 Januari 2020 silam, para pelaku di industri perunggasan kembali menggelar Rembuk Perunggasan Nasional yang digelar di Hotel Aston Priority, TB Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (12/02).
Sugeng Wahyudi, perwakilan peternak sekaligus ketua panitia penyelenggara, mengatakan bahwa acara tersebut digelar bukan karna harga ayam hidup di tingkat peternak kembali turun, namun dengan harga yang sudah membaik, harapannya ada tindak lanjut tentang apa yang perlu dilakukan ke depannya.
“Setelah diadakan rembuk pertama memang harga sudah membaik sampai seminggu ke depan, bahkan sampai saat ini sudah mencapai harga Rp18.000-18.500 per kilogram, namun para peternak mandiri ini belum sepenuhnya merasakan keuntungan. Oleh karenanya rembuk lanjutan ini perlu kita lakukan,” ucap peternak asal Bogor ini.
Acara tersebut dihadiri oleh para pimpinan perusahaan, para peternak mandiri, para petinggi asosiasi peternakan unggas (PINSAR, GOPAN, PPUN, dan GPPU), serta turut hadir perwakilan pemerintah yang diwakili oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Ir. Sugiono, MP.
Dalam Rembuk Perunggasan Nasional, menghasilkan panduan harga referensi penjualan di tingkat peternak mulai hari Kamis, 13 Februari 2020 sampai dengan hari Minggu, 16 Februari 2020 dengan kisaran harga Rp19.000-20.500 di Pulau Jawa (Jatim, Jateng, Jabotabek-Sukabumi, Bandung-Purwasuka, dan Banten), dan kemudian akan dievaluasi pada Senin, 17 Februari 2020.
Semua pihak yang hadir sepakat untuk menjaga kekompakan di antara semua pelaku agar harga tidak jatuh dan harga ayam hidup tetap di atas harga pokok produksi (HPP) di hari-hari berikutnya. Dengan demikian salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menekan harga pokok produksi, di antaranya harga sapronak (DOC dan pakan) agar bisa menjadi lebih rendah, dan tentu ini perlu adanya evaluasi terkait kebijakan jagung.