POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bertepatan dengan hari pertama Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia 2020 atau World Antimicrobial Awareness Week (WAAW), Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, FAO, USAID, dan Yayasan Orangtua Peduli mengadakan Media Briefing: Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia 2020, melalui aplikasi Zoom, Rabu (18/11).
drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Ph.D yang membuka acara tersebut mengatakan bahwa berdasarkan laporan dari beberapa negara, terlihat adanya laju resistensi antimikroba. Peningkatan ini berbanding terbalik dengan penemuan antimikroba baru yang berjalan secara lambat.
“Hal inilah yang menyebabkan laju resistensi antimikroba menjadi isu global dalam forum internasional yang dianggap menjadi suatu ancaman serius untuk ditangani bersama,” tutur Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan ini.
Tidak hanya mengancam kesehatan manusia, resistensi tersebut juga mengancam kesehatan hewan. Menurutnya, resistensi dari antimikroba juga menjadi ancaman pada ketahanan pangan, karena pembangunan kesehatan hewan yang berkelanjutan tetap perlu dilakukan.
Baca Juga: Waspada Ancaman Bencana Kemanusiaan Akibat Resistensi Antibiotik
Fadjar mengajak semua masyarakat untuk memerangi resistensi antimikroba, termasuk peran media untuk memberikan pesan positif dan persuasif untuk memerangi ancaman resistensi antimikroba.
Kerja sama multisektoral diperlukan karena berdasarkan laporan yang ditulis tahun 2016, yaitu pada Global Review tentang perkembangan resistensi antimikroba, kejadian resistensi antimikroba diprediksi menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada tahun 2050.
Menyoroti persoalan resistensi antimikroba pada kesehatan hewan, Luuk Schooman selaku Team Leader FAO ECTAD Indonesia mengatakan bahwa produk pangan yang berasal dari hewan memiliki risiko dalam menyebarkan bakteri yang resisten.
Senada dengan Fadjar, Luuk menjelaskan, hal tersebut dapat mengancam ketahanan pangan dan menimbulkan kerugian ekonomi pada peternak akibat banyaknya penyakit pada hewan yang bisa menurunkan produksi.
“Jika antibiotik tidak bekerja lagi untuk menangani penyakit bakterial pada hewan dan hewan tersebut mati, maka produk pangan yang berasal dari hewan akan berkurang. Risiko lainnya yaitu menyebarnya bakteri yang resisten pada rantai makanan,” paparnya.