Produksi unggas modern menghadapi tantangan besar akibat meningkatnya resistensi antimikroba (AMR). 
Resistensi Antimikroba tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan tetapi juga berimplikasi serius pada kesehatan manusia melalui konsep pendekatan “One Health.” Permasalahan ini mendorong para ilmuwan untuk mencari solusi baru yang dapat menggantikan atau melengkapi peran antibiotik. Dalam artikel ini, penulis membahas status terkini resistensi antimikroba di industri unggas serta inovasi yang tengah dikembangkan untuk mengatasi tantangan ini.
Dengan peningkatan populasi global, kebutuhan akan produk unggas terus meningkat. Hal ini memaksa peternakan unggas untuk menerapkan sistem intensif yang berisiko lebih tinggi terhadap penyebaran penyakit. Ditambah lagi, resistensi antimikroba yang berkembang memperumit penanganan penyakit di peternakan, sehingga menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan manusia dan ekosistem. Menghadapi realitas ini, pemahaman mendalam tentang AMR dan strategi pengendaliannya menjadi kebutuhan mendesak.
Dampak Global dari Resistensi Antimikroba
Antibiotik telah menjadi tulang punggung dalam pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi pada unggas selama lebih dari lima dekade. Sayangnya, penggunaan yang tidak terkendali telah mendorong perkembangan resistensi, yang kini menjadi perhatian global. Sebuah laporan memperkirakan bahwa pada tahun 2050, kematian akibat infeksi bakteri resisten akan melampaui angka kematian akibat kanker, menjadikannya ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Di industri unggas, resistensi ini berdampak pada efisiensi produksi dan keamanan pangan.
Secara global, resistensi ini memperparah ketidakmampuan sistem kesehatan untuk mengatasi penyakit zoonosis yang berasal dari unggas. AMR tidak hanya mengancam keselamatan pangan tetapi juga memengaruhi ekonomi peternakan. Biaya kesehatan yang melonjak dan kerugian ekonomi akibat penurunan produktivitas ternak adalah beberapa dampak nyata dari permasalahan ini.
Penggunaan Antibiotik dalam Produksi Unggas dan Tantangan AMR
Antibiotik telah digunakan dalam produksi hewan selama lebih dari lima puluh tahun sebagai agen terapi, metaflaksis/proflaksis, atau sebagai pemacu pertumbuhan. Efektivitas dan biaya yang efisien dari sebagian besar senyawa ini menyebabkan penggunaannya yang tidak terkendali. Namun, penggunaan antibiotik yang berlebihan dan tidak tepat telah mendorong pembentukan reservoir mikroba yang membawa penanda resistensi antimikroba di ternak, termasuk unggas. Sebagian antibiotik yang digunakan pada hewan sama dengan yang diberikan kepada manusia, sehingga penyebaran AMR menjadi ancaman serius bagi pengobatan infeksi bakteri pada manusia. Hal ini berakibat pada biaya medis yang lebih tinggi, rawat inap yang lebih lama, dan peningkatan angka kematian.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com