Saat ini, unggas merupakan salah satu produk pangan yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, menjadi daging kedua yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di Uni Eropa (UE) setelah daging babi. Selain itu, produksi daging global telah meningkat selama bertahun-tahun. Dari perspektif global, dan menurut FAO, pada tahun 2020, produksi daging unggas mewakili hampir 40% produksi daging global. Akibatnya, terjadi pergeseran global menuju sistem peternakan intensif di mana infeksi, termasuk zoonosis, lebih mudah menular, sehingga berdampak pada kesehatan dan produktivitas hewan.
Dengan terus meningkatnya populasi manusia, maka persoalan mengenai ketahanan pangan menjadi perhatian utama. Maka dari itu, Produk pangan hewani termasuk daging unggas, memegang peranan penting dalam pola makan manusia. Permintaan bahan makanan ini sedang meningkat, dan konsumsi daging unggas meningkat lebih dari 4 kali lipat dalam 50 tahun terakhir.
Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Raquel Abreu dkk, dalam jurnal berjudul “Resistensi Obat Antimikroba dalam Produksi Unggas: Status Saat Ini dan Strategi Inovatif untuk Pengendalian Bakteri “ yang diterbitkan dalam jurnal Microorganisms tahun 2023, edisi 11, nomor 953, Seiring dengan kekhawatiran terkait keamanan pangan, peningkatan populasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan dan keamanan produksi. Produksi produk hewani mempunyai dampak yang melekat pada One Health, seperti peningkatan gas rumah kaca, kontaminasi air minum, pencemaran lingkungan, penyebaran resistensi obat antimikroba, dan kemunculan kembali penyakit zoonosis. Produksi pangan dalam jumlah yang cukup untuk populasi global merupakan salah satu tantangan utama saat ini.
Karena meningkatnya konsentrasi hewan di peternakan intensif dan penggunaan antibiotik konvensional untuk menjaga kesehatan hewan dan produk hewani, resistensi antimikroba telah berkembang dan menyebar, yang menyebabkan masalah kesehatan masyarakat global. Tinjauan ini bertujuan untuk fokus pada peran produksi unggas dalam pengembangan AMR dan bakteri patogen utama yang mempengaruhi unggas, dan untuk membahas potensi peran senyawa antimikroba inovatif sebagai strategi alternatif atau pelengkap terhadap penggunaan antibiotik konvensional dan, sebagai konsekuensinya, untuk pengurangan dan penyebaran AMR antara hewan, manusia dan lingkungan dalam Pendekatan One Health. Disadur dan dialih bahasa oleh tim Poultry Indonesia dari jurnal berjudul : Antimicrobial Drug Resistance in Poultry Production: Current Status and Innovative Strategies for Bacterial Control, Microorganisms 2023, 11, 953. https://doi.org/ 10.3390/microorganisms11040953
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Riset pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com
Menyukai ini:
Suka Memuat...