Richard Alfonta, peternak sekaligus pemilik Berline Farm, di Desa Maguon, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, bercerita mengenai kondisi peternak ayam ras mandiri yang kian hari kian susah dalam melanjutkan aktivitas budi dayanya. Kepedulian itu tumbuh karena ia juga pernah mengalami nasib yang sama ketika masih menekuni peternakan ayam petelur. Di mana saat itu ia selalu mengalami pola usaha yang tidak stabil, harga pakan yang naik turun, begitupula dengan harga telur ayam. Ia selaku peternak mandiri merasa terkotak, tidak mampu berbuat banyak dikala kondisi seperti itu.
Peternakan ayam ras mandiri seiring dengan bertambahnya waktu semakin tercekik, dominasi integrator menjadikan posisi para paternak mandiri menjadi semakin terhimpit. Tentu butuh alternatif agar para peternak mandiri tetap bisa tumbuh. Salah satunya dengan kehadiran ayam jowo persilangan (joper),yang merupakan hasil karya anak bangsa sendiri.
Sejak pengenalannya itu, ia kemudian mencoba membeli DOC joper untuk diternakkan, sambil memantau berbagai macam kelebihan dan kekurangan dari joper yang sudah ada. Setelahnya, ia berinisiatif untuk membuat joper yang lebih dari yang sudah ada. Sebab, joper yang sudah ada menurutnya terdapat banyak kekurangan. Akhirnya, ia mulai mencoba melakukan persilangan dengan berbagai macam indukan
Sedangkan untuk pejantannya, ia sudah mencoba menggunakan ayam pelung, jago jawa, bangkok asli, serta bangkok yang sudah persilangan dengan ayam jawa. Hingga kemudian ia berkesimpulan bahwa bangkok persilangan yang sudah diseleksi ternyata lebih cocok sebagai pejantan untuk menghasilkan joper final stock yang bisa diterima pasar, dan bisa menjadi substitusi ayam lokal.
Richard mengaku, proses seleksi untuk menghasilkan final stock joper yang baik membutuhkan waktu yang tidak singkat. Paling tidak ia membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk menemukan hasil seperti yang dikehendaki pasar, dan yang bisa menguntungkan peternak. Baik dalam segi konversi pakan, kualitas dagingnya, serta menguntungkan dalam segi usaha budi daya. Ia mengaku, proses seleksi itu masih terus berlangsung hingga sekarang bahkan untuk memperkuat program seleksi ini, pihaknya bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB), Malang. Dengan kerjas ama tersebut, harapannya bisa ditemukan strain untuk jantan yang lebih bagus.
Ayam persilangan akhir-akhir ini sudah bisa diterima masyarakat, meskipun demikian ia bersama tim sedang berupaya untuk menaruh perhatian lebih pada pengenalan joper untuk memajukan ayam ini lebih jauh lagi dengan berbagai media online seperti melaui website, aplikasi, dan sosial media, serta kelompok ternak, yang secara rutin dilakukan pertemuan setiap bulannya.
Secara pendidikan, Richard sebenarnya bergelut di bidang fotografi. Ia sendiri merasa ada sinergi antara fotografi dan peternakan, seperti dalam bidang marketing, adanya dasar bidang fotografi dan videografi ternyata sangat membantunya untuk promosi, serta membuat konten promosi bagus, termasuk konten untuk edukasi, serta memasyarakatkan ayam joper.
Pantang menyerah
Seperti umumnya para pengusaha yang sering jatuh bangun dalam mengembangkan usahanya, Richard pun mengalami hal yang sama. Ia mengaku pernah mengalami titik terendah dalam usahanya yakni ketika mengawali usaha di indukan, yang ternyata banyak ditemukan kerusakan di indukan. Hal itu disebabkan karena Insemenasi Buatan (IB) yang kurang bagus, penurunan produksi, hasil tetas kurang baik, daya tetas kurang baik, serta hasil DOC nya juga kurang baik. Bahkan, ia pernah mengalami waktu di mana kandang indukan miliknya kosong tidak terisi.
Peristiwa itu membuatnya terpukul. Namun, ia merasa beruntung karena mempunyai keluarga yang perhatian dan terus memberinya semangat. Ia mengaku peran keluarga sangat besar. Kegagalan bahkan menimpanya berkali-kali, termasuk ditipu orang, tapi lagi-lagi keluarga tetap percaya dan mendukung. Ia berpesan bahwa menjadi peternak itu harus telaten, tidak gampang menyerah, dan terus melakukan evaluasi yang sudah terjadi. Selain itu, penting menciptakan peluang-peluang yang lain sambil mencari tahu apa yang bisa dikembangkan.
Ia sangat termotivasi untuk memunculkan hasil karya anak bangsa agar tidak tergantung pada ayam ras saja. Kegigihan itu ia lakukan hingga pada akhirnya ayam lokal bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Menurut Richard, pasar daging ayam joper sendiri juga semakin hari semakin luas. Ayam joper yang sudah tersedia dan dipasarkan biasanya setelah melalui masa pemeliharaan 60 hari, dengan bobot rata-rata 0,9 kilogram dibarengi dengan Feed Convertion Rate (FCR) sebesar 2,2.
Ia bercerita bahwa pasar DOC joper sudah semakin terbuka dan semakin meluas, bahkan ia sendiri sudah melakukan pengiriman DOC ayam joper hampir ke seluruh Indonesia. Dengan produksi DOC sebesar 1.200 boks per minggu, ternyata animo masyarakat juga tinggi, produksinya sudah terserap baik di pasar. Yafi
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2020 dengan judul “Richard Alfonta – Memunculkan Hasil Karya Anak Bangsa”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...