Industri perunggasan Indonesia tengah memasuki era transformasi melalui riset dan pengembangan yang inovatif. Dalam menghadapi tuntutan pasar protein hewani yang kian meningkat, sektor perunggasan berupaya menerapkan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan kualitas produksi.
Riset genetika unggas, sebagai salah satu bidang strategis, telah membuka jalan bagi peningkatan performa melalui pemilihan strain unggul dan adaptasi terhadap lingkungan tropis. Inovasi ini mencakup pengembangan metode pemuliaan terarah, penggunaan data analitik dalam seleksi, serta penerapan teknik bioteknologi untuk menghasilkan unggas berkualitas tinggi.
Para peneliti dan praktisi industri semakin menyadari bahwa sinergi antara riset akademik, kebijakan pemerintah, dan aplikasi lapangan harus semakin ditingkatkan. Kolaborasi ini menghasilkan terobosan yang tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu peternak mengoptimalkan sumber daya yang ada. Pendekatan interdisipliner mendorong terciptanya sistem peternakan yang responsif terhadap perubahan iklim dan dinamika pasar, sehingga membangun fondasi yang kokoh bagi masa depan sektor perunggasan.
Meskipun riset genetika unggas menawarkan potensi besar untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, sejumlah tantangan masih harus diatasi. Biaya penelitian yang tinggi, keterbatasan fasilitas laboratorium, serta kekurangan tenaga ahli menjadi hambatan utama penerapan teknologi mutakhir. Selain itu, distribusi inovasi kepada peternak skala kecil sering terhambat oleh kurangnya akses informasi dan sumber daya penunjang. Namun, peluang untuk mengoptimalkan pemanfaatan genetika unggas tetap terbuka lebar, terutama dengan peningkatan kerjasama antar lembaga dan dukungan kebijakan pemerintah yang progresif.
Strategi pengembangan efektif memerlukan investasi berkelanjutan dalam penelitian dan pelatihan, sehingga hasil riset dapat segera diadaptasi oleh industri. Adopsi teknologi digital dan pemanfaatan data besar dalam proses seleksi genetik merupakan solusi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan akurasi pemilihan strain unggas. Sinergi antara sektor swasta, lembaga riset, dan pemerintah menjadi kunci untuk mengatasi hambatan tersebut dan membuka jalan bagi inovasi yang lebih aplikatif serta terjangkau.
Di tengah tantangan yang ada, keberlanjutan menjadi aspek tak terpisahkan dalam setiap upaya pengembangan perunggasan. Dr. Rina Kartika, ahli nutrisi ternak, menekankan pentingnya manajemen pakan yang efisien sebagai faktor utama penunjang keberlanjutan produksi. Pemanfaatan bahan pakan lokal berkualitas, dikombinasikan dengan teknologi enzim dan probiotik, telah menunjukkan hasil positif dalam menekan biaya serta meningkatkan kesehatan unggas. Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor pakan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan para peternak.
Melihat ke depan, riset genetika unggas diyakini akan membuka peluang baru untuk menciptakan strain unggas yang lebih adaptif, tahan penyakit, dan produktif. Dukungan dari semua pihak—pemerintah, akademisi, dan pelaku industri—sangat diperlukan untuk menerjemahkan hasil riset ke dalam praktik nyata. Dengan pendekatan kolaboratif, sektor perunggasan Indonesia diharapkan mampu bersaing di pasar global dan memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Laporan Utama pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasipoultry@gmail.com









