POULTRYINDONESIA, Jakarta – PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. menyelenggarakan Business Appreciation & Entreprenurial Talk dengan tema Capitalizing Join Corporate & University Research on Digital Innovation sebagai bagian dari program Entrepreneurship Training Center (ETC) secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Rabu (7/12).
Hadir dalam acara ini, Dr. Eng. Munadi, ST., MT, dari Universitas Diponegoro yang memaparkan materinya mengenai pemanfaatan teknologi dalam mempermudah pemeliharaan broiler pada kandang dengan sistem closed house. Salah satu riset yang dilakukan oleh Munadi menghasilkan alat penggugah DOC. Menurutnya, DOC yang ditebar harus mendapatkan asupan pakan yang optimal pada hari-hari pertama ditebar, sehingga anak kandang yang ada harus terus-menerus keliling kandang untuk mengawasi apakah ayam tersebut sudah makan atau belum. Inilah yang melatar belakangi penelitian Munadi.
“Jika anak kandang terus-menerus bolak-balik untuk mengawasi DOC makan atau tidak, maka energinya akan habis di situ, sehingga sudah tidak bisa memperhatikan hal lainnya. Dengan teknologi penggugah DOC ini, kami pernah mencoba dengan sistem suara ini yang agak kencang, akan tetapi ayam menjadi kaget dan stres. Kami baru meneliti, suara tepuk tangan berapa desibel (dB), akan tetapi belum dicoba,” terangnya.
Baca Juga: Penyakit dan Stress Menyedot Energi Pertumbuhan Ayam
Melengkapi hasil riset dari Munadi, Dr. Ir. Sri Wahjuni, M.T.., dari FMIPA IPB University, memaparkan hasil risetnya mengenai sistem pemantauan jarak jauh perilaku broiler pada kandang pintar. Menurutnya, ada dua faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas broiler, yakni lingkungan dan perilaku. Banyak perangkat terotomasi yang sudah dapat mengatasi tantangan di lingkungan, akan tetapi belum banyak perangkat untuk perilaku yang dikembangkan.
“Sependapat dengan Pak Munadi, DOC harus dibangunkan agar mereka rajin makan karena pola pemberian pakan berpengaruh pada kesehatan, terutama jika daya dukung ayam tidak berkembang dengan baik. Hal ini dapat berpengaruh pada perilaku ayam yang mungkin berakibat negatif. Anak kandang yang harus mondar-mandir mengawasi DOC, tentu akan bertambah bebannya jika harus mengamati perilaku ayam, sehingga akan sangat bermanfaat jika monitoring perilaku ini dapat dilakukan secara remote dari jarak jauh,” jelasnya.
Perilaku makan dan perilaku agresif dari ayam menjadi fokus penelitian Sri. Namun, tantangannya adalah bagaimana secara pemrosesan citra kita dapat membedakan individu ayam. Hal ini agak sulit karena ayam berukuran kecil dan bergerombol, sehingga hasil deteksinya akurasinya belum cukup bagus. Oleh karena itu, data yang dikumpulkan dari kandang akan dilanjutkan pada proses pre-processing data dan training model untuk kemudian diuji dengan mengenali data yang sesungguhnya, sehingga akan menghasilkan akurasi.
Selanjutnya berdasarkan pemaparan dari Ir. Galuh Adi Insani, S.Pt., M.Sc., IPM, dari Universitas Gadjah Mada yang juga merupakan Co-Founder dari BroilerX melengkapi webinar ini dengan pemanfaatan teknologi dalam bidang perunggasan. Galuh mengatakan bahwa unggas yang diternakan sebenarnya lebih dari hewan ternak. Menurutnya, tanpa adanya data, akan sulit bagi peternak untuk mengetahui sesuatu terjadi pada ayamnya. Salah satunya, adalah kondisi penumpukan ammonia yang tinggi. Tanpa data, peternak akan kesulitan untuk mengidentifikasi hal tersebut dan ayam akan lebih lama terekspos oleh ammonia hingga mengalami keracunan. Dengan melakukan recording menggunakan IoT, peternak akan mendapatkan notifikasi peringatan, sehingga hal-hal tersebut dapat dihindari.
“Ternak akan memberikan data kepada kita kita, kemudian kita proses data tersebut untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat akan mempermudah kita dalam mengambil keputusan, sehingga tindakannya semakin nyata. Jadi, dengan pemanfaatan teknologi, prosesnya pengambilan keputusan akan lebih cepat,” pungkasnya.