Saat ini sumber pangan protein hewani masyarakat tidak terlepas dari komoditas daging dan dan telur ayam ras. Secara umum, pemeliharaan ayam ras di Indonesia dipelihara dengan sistem intensif untuk mendukung potensi genetik yang telah melalui proses riset dan pengembangan yang sangat panjang. Namun, dengan sistem intensif yang diterapkan oleh para peternak, ternak unggas sangat rentan dengan tindakan eksploitasi dengan dalih untuk mencapai produksi yang diinginkan.
Aspek animal welfare yang berpegang pada prinsip five freedom of animal welfare memang sejatinya merupakan sebuah keniscayaan. Walaupun saat ini Indonesia secara umum masih belum sepenuhnya memenuhi kelima prinsip tersebut, Roby memutuskan untuk menjadi perintis dalam memberikan produk pada masyarakat, melalui pemeliharaan yang paling mendekati five freedom of animal welfare.
Hal tersebut tak terlepas dari tujuan pemeliharaan unggas yaitu untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. ternak unggas sangat disukai oleh masyarakat karena memiliki nilai ekonomis yang mampu dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat di seluruh belahan dunia, didukung produktivitas yang tinggi, mudah disimpan, hingga memiliki cita rasa yang disukai oleh berbagai lapisan masyarakat.
Berawal dari permasalahan diatas, Roby Dharma selaku pemilik dari peternakan PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS) memutuskan untuk berbeda dari peternakan kebanyakan dengan menerapkan prinsip kesejahteraan hewan berdasarkan prinsip five freedom of animal welfare. Menjadi generasi kedua dari perusahaan yang ia pimpin bukanlah menjadi halangan, bahkan ia menegaskan bahwa sebetulnya menjadi peternak merupakan sebuah kebanggaan tersendiri baginya.
Dalam menjalani kegiatan peternakan yang berlokasi di Sukabumi hingga bisa menjadi sebesar ini, memang bukanlah suatu hal yang mudah. Roby menceritakan dalam perjalannya memang tidak serta merta selalu menemui hal yang indah terutama di periode awal tahun 2000.
“Jadi memang sebelumnya itu PT Inti Prima Satwa Sejahtera itu bergerak dibidang ayam pedaging atau kita biasa disebut broiler. Dulu kami memiliki unit usaha broiler, pembibitan broiler, hingga penetasannya pada periode tahun 1980-an hingga tahun 2000. Memasuki periode tahun 2000-an, harga broiler betul-betul jatuh, yang pada akhirnya tercetuslah ide untuk beralih menjadi peternak ayam petelur,” kenang Roby.
Pada masa peralihan dari beternak broiler menjadi layer, Roby juga menerapkan pola pemeliharaan konvensional menggunakan baterai, seperti peternakan layer pada umumnya. Menjadi peternak layer konvensional juga dirasa sulit menurut Roby. Sampai akhirnya ia harus menelan kerugian akibat serangan beragam penyakit pada satu periode.
“Waktu pertama kali saya mempelajari budi daya ayam petelur, satu periode itu ayam saya sakit, bahkan serangan penyakit yang dialami ternak pada periode itu sangat banyak sekali, dari mulai snot, ngorok, berak kapur, cholera, sampai kecacingan dalam satu periode,” ujarnya.
Tak berhenti sampai disitu, periode selanjutnya ia jalani dengan berbekal pada kesalahan – kesalahan yang ia alami di periode sebelumnya. Dengan menjalankan perlakuan yang sangat memperhatikan kesehatan unggas, periode kedua bisa dilewati tanpa serangan penyakit yang berarti, hanya saja ada sedikit kesalahan dari segi kepadatan ternak yang ia pelihara.
“Manajemen pemeliharaan yang saya lakukan sudah tepat dimana ayamnya sudah sehat tapi ternyata populasinya terlalu padat, akhirnya masalah datang lagi, dan ayam kembali terserang penyakit.”
Momen itulah yang membuat Roby memutar otak untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapinya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengubah sistem pemeliharaan di kandang petelurnya dengan pola cage free.
“Dari kesalahan itulah kami belajar, ternyata ada yang salah dari pemeliharaan yang kami lakukan, kenapa bisa salah? nah dari situlah ada proses pembelajaran kembali. Dalam manajemen pemeliharaan zaman dahulu kami memang belum ada guide yang bisa saya jadikan patokan. Akhirnya dengan otodidak bagaimana kita memberikan pelayanan terbaik kepada ayam kita supaya bisa memberikan telur yang berkualitas,” jelas Roby.
Awal mula inspirasi kandang cage free adalah ketika ia melakukan studi sarjana di luar negeri. Ia melihat bahwa ayam yang ia pelihara dengan menerapkan sistem cage free dibanderoll dengan harga yang lebih mahal dari ayam yang dipelihara secara konvensional.
“Saya Sarjana Ekonomi, S1 Ekonomi, Pasca Sarjana saya mengambil jurusan Keuangan di luar negeri. Saya akhirnya berpikir, kenapa harus Cage Free karena memang saya pernah kuliah di luar negeri. Di luar negeri itu ada yang namanya telur Free Range, saya tanya ke meat shop di Australia ternyata harga telurnya mahal karena dipelihara dengan Free Range. Setelah saya coba memang telurnya bagus dan memiliki rasa yang berbeda,” terangnya.
Hal tersebut juga yang membuat ia memutuskan untuk terjun langsung meneruskan usaha dari ayahnya. Ia menilai bahwa walaupun sebagai sarjana ekonomi dan magister keuangan, menjadi peternak itu bukanlah pekerjaan yang layak disepelekan. Bahkan ia merasa sangat bersyukur bisa bersekolah di luar negeri karena usaha peternakan yang ayahnya jalankan. Dari situlah ia merasa bahwa menjadi peternak merupakan pekerjaan yang mulia.
“Selalu saya seringkali bilang bahwa profesi peternak itu dipandang sebagai sebelah mata. cuma dari situ saya bilang, kenapa harus dipandang sebelah mata, bahkan para peternak ini saya bilang salah satu profesi yang mulia karena bisa memberikan gizi kepada masyarakat. Malah seharusnya kita bangga sebagai peternak bisa memberikan sesuatu bagi bangsa, itulah yang membuat saya sangat menekuni bidang peternakan ini,” tegas Roby.
Lebih lanjut Roby juga berpesan kepada rekan – rekan sesama peternak agar sedikit demi sedikit menerapkan prinsip animal welfare ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Karena menurutnya ternak merupakan mitra yang harus diperhatikan aspek kesejahteraannya agar bisa menghasilkan produk yang berkualitas.
“Untuk teman-teman, sebenarnya saya sudah dari dulu sering menggaungkan gerakan untuk beralih ke cage free. Memang tidak perlu berubah secara drastis, pelan-pelan saja beralih ke kandang cage free. Memang bukan hal yang mudah untuk beralih ke kandang cage free karena didalamnya dibutuhkan komitmen yang tinggi. Apakah tidak boleh dengan kandang battery, boleh kandang-kandang konvensional boleh, memang semua itu pilihan. Tetapi kalau boleh saya saran larilah ke kandang Cage Free, dari sini anda bisa tahu bagaimana menjadi peternak yang sesungguhnya,” pungkas Roby.
Menyukai ini:
Suka Memuat...