Runting Stunting Syndrome bukan sekadar masalah ayam bertumbuh lambat, tetapi gangguan kompleks yang merusak sistem pencernaan, menurunkan efisiensi pakan, dan mengancam profitabilitas peternakan, sehingga pencegahan sejak fase awal pemeliharaan menjadi kunci utama keberhasilan produksi.

Runting Stunting Syndrome (RSS) telah lama menjadi salah satu tantangan serius dalam industri perunggasan modern. Sindrom ini mengganggu pertumbuhan ayam muda, terutama broiler, dengan tanda utama berupa kekerdilan dan laju pertumbuhan yang jauh lebih lambat dibandingkan standar normal. Meski telah dikenali sejak era 1940-an dan semakin mendapat perhatian ketika industri ayam pedaging berkembang pesat pada tahun 1970-an, RSS masih terus muncul hingga hari ini. Kondisi ini bukan hanya urusan kesehatan ternak, tetapi juga persoalan ekonomi yang berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi peternak.

RSS merupakan masalah metabolik dan infeksius yang terutama menyerang sistem pencernaan ayam, khususnya usus halus. Ketika proses penyerapan nutrisi terhambat, ayam tidak dapat memanfaatkan pakan secara optimal. Dampaknya bukan hanya tubuh yang kerdil, tetapi juga penurunan efisiensi pakan, meningkatnya angka kesakitan, dan potensi kegagalan mencapai bobot panen sesuai target. Banyak laporan di lapangan menunjukkan bahwa ayam dengan RSS dapat memiliki bobot hingga 40% lebih rendah dibanding standar pada usia yang sama. Kondisi ini tentu berimbas pada permintaan pasar yang menginginkan keseragaman dan bobot ideal. Ayam yang terlalu ringan sering kali dijual di bawah harga, bahkan mengalami culling karena dianggap tidak menguntungkan.

Secara klinis, ayam dengan RSS menampilkan ciri-ciri yang mudah dikenali. Tubuh tampak lebih kecil, warna kulit dan paruh terlihat pucat, dan bulu sering kali tumbuh tidak sempurna, tampak kusam, atau bahkan berdiri terbalik. Perut ayam terlihat membesar karena penumpukan gas di usus, sementara feses cenderung encer dan mengandung sisa pakan yang tidak tercerna. Ayam tampak pasif, kurang agresif dalam berebut pakan, serta berada dalam posisi inferior dibandingkan kelompok lain dalam satu kandang. Gejala mulai terlihat jelas ketika ayam berumur enam hingga dua puluh satu hari, meskipun proses gangguan sudah mulai sejak hari-hari awal setelah menetas. Pada layer, kasus lebih sering ditemukan pada fase pre-laying usia 12–16 minggu dan berpotensi menghambat pencapaian umur produksi.

Bila diamati secara anatomi, perubahan yang terjadi akibat RSS sangat khas. Permukaan usus menunjukkan tanda-tanda peradangan, vili usus menyusut atau rusak sehingga penyerapan nutrisi menjadi sangat buruk, dan usus menggelembung karena gas terakumulasi. Hati mengalami degenerasi dan bercak perdarahan, pertanda hepatitis yang muncul akibat toksin dan gangguan metabolik. Organ vital seperti pankreas, timus, dan bursa fabricius terlihat mengecil, menunjukkan adanya penurunan fungsi metabolik dan imunitas. Kerusakan ini semakin jelas terlihat pada pemeriksaan mikroskopis, di mana sel-sel epitel usus mengalami degenerasi, villi menyusut, dan organ limfoid mengalami fibrosis. Virus penyebab RSS, terutama Reovirus, diketahui menyerang sel dan merusak mitokondria, sehingga kemampuan sel menghasilkan energi menurun drastis. Ketika energi untuk pertumbuhan terganggu, ayam tidak mampu mengejar perkembangan normal, sekalipun manajemen nutrisi kemudian diperbaiki.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com