Kasus Runting Stunting Syndrome di kandang dapat menyebabkan kerugian yang besar. Untuk itu diperlukan manajemen biosekuriti yang ketat, memperbaiki sistem perkandangan, serta memastikan vaksinasi yang tepat.

Stunting atau kekerdilan bukan hanya menjadi masalah kesehatan pada manusia, tetapi juga dapat terjadi pada ayam ras. Runting Stunting Syndrome (RSS) merupakan kondisi pertumbuhan yang terhambat pada ayam akibat gangguan penyerapan nutrisi yang terjadi di saluran pencernaan, terutama di usus halus. Kejadian RSS pada ayam tidak hanya berdampak pada performa pertumbuhan, tetapi juga berimbas pada aspek ekonomi peternakan ayam, baik broiler maupun layer.

Sindrom ini pertama kali ditemukan di Belanda oleh Kouwenhoven pada tahun 1978, kemudian dilaporkan juga di Inggris pada tahun 1981 oleh Boucewell dan Wyeth. Sejak saat itu, RSS menjadi ancaman serius bagi industri perunggasan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampak utama dari RSS adalah penurunan bobot badan ayam, peningkatan rasio konversi pakan (FCR), serta meningkatnya risiko infeksi penyakit sekunder.

Penyebab RSS

Kasus RSS umumnya disebabkan oleh infeksi virus, dengan Reovirus sebagai penyebab utama. Namun, ada beberapa virus lain yang juga dapat memicu kejadian RSS, seperti coronavirus, enterovirus, birnavirus, circovirus, adenovirus, dan astrovirus. Selain faktor infeksi, RSS juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, kualitas Day Old Chicken (DOC), manajemen pemeliharaan, kualitas pakan, air, serta kondisi lingkungan yang menyebabkan stres pada ayam.

Pada ayam broiler, RSS mulai berkembang pada usia tiga hari, meskipun gejala klinisnya baru tampak jelas pada usia enam hingga dua puluh satu hari. Peternak biasanya melakukan penimbangan DOC di awal pemeliharaan untuk memantau pertumbuhan ayam, sehingga bisa mendeteksi kemungkinan hambatan pertumbuhan yang mengarah pada RSS. Sementara pada ayam layer, RSS lebih sering terjadi pada fase pre-laying, yakni pada usia 12 hingga 16 minggu, yang dapat menyebabkan keterlambatan produksi telur.

Gejala dan dampak RSS

Ayam yang mengalami RSS menunjukkan beberapa tanda klinis yang khas. Gejala utama meliputi ayam yang tampak pucat, pertumbuhan terhambat, perut buncit akibat akumulasi gas di usus, diare, serta pertumbuhan bulu yang tidak normal. Bulu ayam yang terkena RSS seringkali tampak kusam, kotor, dan sebagian tumbuh terbalik.

Selain itu, RSS juga berdampak pada performa produksi dan ekonomi peternakan. Ayam dengan RSS memiliki bobot badan yang jauh lebih rendah dibandingkan ayam sehat dalam satu populasi, bahkan bisa mencapai 40% lebih ringan dari bobot idealnya. Akibatnya, ayam yang mengalami RSS tidak bisa dijual dalam bobot standar dan menyebabkan kerugian bagi peternak. Selain itu, RSS juga berkontribusi pada peningkatan angka kematian serta memicu munculnya penyakit sekunder akibat penurunan imunitas.

Secara anatomi, ayam yang terkena RSS menunjukkan berbagai perubahan patologis yang mencerminkan gangguan pada saluran pencernaan. Salah satu tanda utama adalah infeksi gastroenteritis yang menyebabkan malabsorbsi nutrisi di usus halus, sehingga ayam mengalami pertumbuhan yang terhambat. Selain itu, ayam yang terkena RSS sering mengalami hepatitis dan degenerasi hati, yang ditandai dengan perdarahan pada jaringan hati. Gangguan lain yang dapat diamati adalah distensi usus halus akibat akumulasi gas, yang menyebabkan perut ayam tampak membesar. Peradangan pada usus (enteritis) juga sering terjadi, ditandai dengan tinja yang lembek dan mengandung sisa pakan yang tidak tercerna.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com