Oleh: Stefany Eloidia*
Industri perunggasan rakyat khususnya peternakan ayam mandiri selalu diwarnai dengan berbagai macam perundungan. Bukan menjadi hal yang baru bagi industri yang menjadi salah satu sumber penopang pemasukan masyarakat ini terancam gulung tikar. Berbeda dengan peternakan rakyat, perusahaan besar multinasional telah menitikberatkan pengetahuan dan teknologi serta pengembangan riset pada berbagai sektor, sehingga mereka mampu meningkatkan usaha yang inovatif dan jauh lebih efisien, mampu menekan biaya produksi, dan semakin meningkatkan daya saing.
Ayam lokal memang dikenal sebagai ternak dengan daya hidup yang tinggi. Ayam Lokal dapat hidup dengan kondisi pakan dengan kandungan nutrisi yang rendah, dan mampu hidup di berbagai kondisi iklim tropis yang cukup ekstrem.
Persaingan tidak sehat yang terjadi pada peternakan broiler diharapkan tidak terjadi pada peternakan ayam lokal. Sampai dengan saat ini, peternakan ayam lokal menjadi salah satu alternatif usaha rakyat yang masih cukup menjanjikan, di samping kebanyakan industri belum masuk pada industri ini, permintaan terhadap dagingnya pun terus meningkat.
Kontribusi ayam lokal dalam pemenuhan kebutuhan daging ayam memang bisa dibilang masih rendah, padahal permintaan pasar terhadap DOC ayam lokal semakin meningkat, hal ini yang dirasakan oleh para anggota dari Gabungan Pembibit Ayam Lokal Indonesia (GAPALI). Peningkatan permintaan terhadap daging ayam lokal ini tidak terlepas dari semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut ternyata banyak mengalami kendala, salah satu yang menjadi kendala dalam pengembangan usaha ayam lokal adalah belum berimbangnya ketersediaan DOC.
Usaha budi daya ayam lokal tersebut tentu membutuhkan dukungan dalam modal dan fasilias usaha serta ketersediaan bibit ayam asli dan lokal dengan kualitas yang unggul. Selama ini penyediaan ayam lokal masih dilakoni oleh pelaku usaha dengan skala usaha menengah ke bawah dan masih enggan dalam menerapkan prinisip pembibitan yang sesuai standar Good Breeding Practice (GBP), hal inilah menjadi salah satu alasan masih kalahnya eksistensi ayam lokal di peredaran rantai perekonomian masyarakat Indonesia.
Sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal secara berkelanjutan dalam penyelenggaraan pembibitan ayam asli dan ayam lokal, tentunya sangat diperlukan prasarana dan sarana yang memadai. Manajemen cara pembibitan harus senantiasa diimbangi dengan pelayanan kesehatan hewan. Selain itu, sumber daya manusia yang mumpuni juga dibutuhkan dalam memulai pembibitan. Berdasarkan hal-hal tersebut maka diperlukan panduan pembibitan ayam asli dan ayam lokal yang baik dan sesuai SOP pemeliharaan.
Oleh karena itu, untuk menunjang peningkatan populasi ayam lokal maka sistem pemeliharaan sebaiknya dapat mulai diperbaiki, dari sistem ekstensif beralih ke sistem semi intensif. Untuk memulai pemeliharaan dengan sistem intensif, mengandangkan ayam merupakan syarat utama. Fungsi kandang di sini selain sebagai shelter, juga untuk memberikan perlindungan dari segala pengaruh luar, serta akan memberikan kemudahan dalam eksekusi tata laksana pemeliharaan, sehingga hasil produksi dapat memberikan hasil yang memuaskan.*Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga dan Ketua Organisasi Kelompok Minat Profesi Veteriner Unggas dan Burung
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Saatnya Pemeliharaan Ayam Lokal Menerapkan Good Breeding Practice”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...