Oleh: Putri Ulaya Firyal*
Hampir 5 dekade terakhir peranan unggas baik lokal maupun ras semakin meningkat tajam dalam sumbangannya terhadap produksi daging nasional. Berdasarkan data statistik peternakan (2018), pada awal tahun 70-an kontribusi daging unggas hanya sebesar 15 %, tetapi pada tahun 2017 telah mencapai 66,34 % terhadap produksi daging secara keseluruhan. Selain itu produksi telur juga memiliki kontribusi yang cukup besar dalam penyediaan kebutuhan protein hewani.

Jika pemuda sarjana peternakan mau menaruh perhatian lebih di bidang peternakan, maka akan terbuka beragam peluang yang bisa mereka masuki untuk menghidupi dirinya dan menyelamatkan kebutuhan protein hewani bangsa.

Walaupun telah mengalami pertumbuhan angka produksi yang signifikan, kondisi industri perunggasan di Indonesia belum sepenuhnya bisa dikatakan mampu bersaing dengan negara lain. Hal ini menyusul santernya isu terkait ancaman produk perunggasan dari negara Brasil dan beberapa negara yang mengikutinya. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara importir untuk ayam pembibit/grandparent stock (GPS), bahan pakan dan kebutuhan obat-obatan unggas. Hal ini menyebabkan industri perunggasan mempunyai ketergantungan besar pada dinamika global, seperti yang terjadi pada pakan beberapa waktu ini.
Permasalahan yang cukup menonjol dari tahun ke tahun adalah adanya indikasi ketimpangan struktur pasar pada pasar output yang pada akhirnya menempatkan peternak mandiri dan peternak plasma dalam posisi lemah. Hal ini diperparah oleh kondisi peternak mandiri dan peternak plasma yang masih dihadapkan pada kenaikan sapronak dan harga broiler hidup yang berfluktuasi. Alhasil permasalahan harga ayam di pasaran selalu menjadi momok bagi para peternak rakyat yang ingin melakukan usaha di bidang perunggasan.
Baca Juga: Berjuang Bersama Membangun Peternakan Indonesia
Lebih lanjut, bangsa kita masih memiliki setumpuk tugas di depan mata. Tugas tersebut akan menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar terkait industri perunggasan, sehingga dibutuhkan sokongan tenaga-tenaga dalam memajukan industri ini, khususnya pemuda-pemudi sarjana peternakan Indonesia.
Banyaknya lulusan peternakan yang tidak bekerja pada bidang yang sejalur, dan berakhir pada profesi di dunia asuransi, perbankan, dan industri retail disinyalir menyebabkan berkurangnya jumlah SDM yang memperjuangkan kemajuan peternakan di Indonesia. Hal ini umum terjadi di masyarakat, terlebih tidak semua lulusan sarjana peternakan memiliki modal untuk membeli berbagai sarana produksi ternak untuk memilih bergelut di bidang usaha perunggasan.
Di satu sisi, masih menurut penulis, penting bagi sarjana peternakan untuk segera sadar terhadap perannya setelah menempuh keilmuan peternakan di dunia perkuliahan. Padahal jika pemuda sarjana peternakan ini mau menaruh perhatian di bidang peternakan, maka akan terbuka beragam peluang yang bisa mereka masuki untuk menghidupi dirinya dan menyelamatkan kebutuhan protein hewani bangsa. Di samping berusaha mengayomi diri sendiri, juga diharapkan mampu mengupayakan untuk mengayomi bangsanya sehingga dapat turut berkontribusi ambil peran dalam memperbaiki sistem atau kondisi perunggasan yang ada saat ini. *Mahasiswi Program Studi Peternakan, Universitas Sebelas Maret (UNS)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2021 dengan judul “Saatnya Sarjana Peternakan Mengayomi Dunia Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153