Sarasehan perunggasan nasional
POULTRYINDONESIA, Bogor – Kendati telah menjadi sebuah industri yang maju, persoalan perunggasan masih saja terjadi. Surplus produksi yang terjadi belum dapat dimanfaatkan, dan justru menjadi sebuah persoalan. Di lain sisi, disparitas harga yang cukup besar juga masih terjadi di peternak dan konsumen. Belum lagi, fenomena oversupply yang seringkali berulang, membuat peternak tak bisa menghindari kerugian.
Hal ini menjadi sebuah diskusi yang menarik dalam acara Sarasehan Perunggasan Nasional, yang digelar oleh Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), di Bogor, Kamis (22/9). Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Musyawarah Nasional (MUNAS) IV, yang telah terselenggara 1 hari sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dewan Pakar GOPAN, Prof Bustanul Arifin mengatakan, peternak harus melakukan transformasi bisnis menuju integrasi horizontal. Peternak mandiri harus membentuk koperasi peternak atau bergabung dengan koperasi peternak yang sudah ada, dan bahu membahu meningkatkan kinerja koperasi. Jika perlu, refreshing lagi pemahaman tentang prinsip-prinsip koperasi peternak, bergotong royong, berjamaah menjadi satu kekuatan, untuk mewujudkan koperasi peternak yang tangguh.
Ia melanjutkan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi memfasilitasi suatu konsolidasi perusahaan pakan mandiri, parent stock mandiri, sarana-prasarana mandiri dalam suatu korporatisasi petani, dan bersinergi dengan koperasi peternak.
“Integrasi horizontal peternak mandiri perlu berposisi untuk hidup berdampingan dengan integrator vertikal dalam membangun industri perunggasan yang tangguh, berintegritas dan berdaya saing, menembus pasar global dan berkompetisi sehat,” tandas Tenaga Ahli Utama KSP (Kantor Staf Presiden) ini.
Baca Juga: Kembali Nahkodai GOPAN, Herry Dermawan Minta Organisasi Berbenah
Sementara itu, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Badan Pangan Nasional / National Food Agency (NFA), I Gusti Ketut Astawa mengatakan bahwa NFA sedang menyusun peta jalan ekosistem perunggasan bagi peternak mikro dan kecil melalui skema close loop ekosistem perunggasan. Ekosistem Perunggasan hulu-hilir ini pada intinya mengatur penugasan BUMN pangan untuk menyediakan pakan, DOC bagi peternak mikro dan kecil, dan sekaligus juga bertindak sebagai offtaker livebird (LB) hasil peternak.
“Saat ini disparitas harga yang terjadi sangat besar. Dengan sistem close loop ini, kita dapat mengatur mulai dari produksi hingga ke konsumen. Dan akan lebih stabil, karena tidam tergantung isu. Selain itu, kita juga terlalu dini berbicara oversupply, sedangkan saudara kita di luar pulau, masih merasakan harga ayam yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi kita belum merata,” tegasnya.
Dirinya menambahkan bahwa LB yang diserap oleh BUMN pangan ini, nantinya akan dihubungkan dengan program pengurangan stunting di daerah, sehingga distribusi lebih merata.
“Mari kita melakukan mitigasi masalah bersama-sama sekaligus mencari solusi untuk menghadapi tantangan ke depan yang lebih ketat. Melalui kolaborasi kita bisa meminimalkan problem yang dihadapi,” tegas Ketut.