(Sumber: onegreenplanet.org)
(Sumber: onegreenplanet.org)
Terkait penerapan kesejahteraan unggas, adalah berbicara tentang bagaimana kita dapat meningkatkan cara pandang dunia perunggasan secara utuh. Memandang kesejahteraan unggas jangan dianggap sebagai penghambat sebuah produktivitas usaha. Namun kesejahteraan unggas merupakan suatu kebutuhan yang harus dilakukan oleh seluruh stakeholders perunggasan, sebagai bentuk tanggung jawab moral sesama makhluk bernyawa di muka bumi ini. Justru apabila masyarakat menyadari dengan benar apa makna implementasi kesejahteraan unggas, maka seyogyanya penerapan kesejahteraan unggas dapat secara nyata mendorong peningkatan produksi, serta kualitas produk hasil peternakan unggas.

Penerapan kesejahteraan unggas memang bukan sebuah tindakan yang harus dilakukan oleh manusia. Melainkan sebuah keniscayaan untuk meningkatkan kualitas hidup unggas sebagai sesama makhluk yang bernyawa.

Sebagai hewan ternak, unggas juga merupakan makhluk hidup yang memiliki hak untuk mendapatkan kualitas hidup yang mumpuni. Adanya ketentuan kesejahteraan hewan secara umum melalui Undang-undang RI No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, merupakan titik awal yang baik untuk penerapan kesejahteraan unggas. Hal ini disempurnakan oleh terbitnya Peraturan Pemerintah No. 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.
Selain pemerintah, akademisi dan asosiasi  juga harus bersinergi untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat edukatif. Sinergi yang diciptakan oleh seluruh stakeholders dapat menciptakan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penerapan kesejahteraan hewan, dalam hal ini unggas. Mengingat, penerapan kesejahteraan unggas juga dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, melalui produk hasil unggas yang berasal dari ternak unggas yang sejahtera.
Menyikapi hal tersebut, Dr. drh. Muhammad Munawaroh, MM. selaku Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), mengatakan bahwa selama ini asosiasi selalu melakukan diskusi internal. Hal ini diharapkan agar anggota asosiasi dapat memberikan resonansi berupa sosialisasi kepada masyarakat luas. “Jadi PDHI yang anggotanya dokter hewan seluruh Indonesia, kita sering memberikan penyuluhan dan guideline kepada seluruh anggota, untuk bagaimana mempunyai kegiatan yang sifatnya mengedukasi kepada masyarakat. Jadi ini tugas kita, mensosialisasikan apa yang namanya kesejahteraan hewan,” tutur Munawaroh saat berdiskusi bersama Poultry Indonesia di Kantor PB PDHI, Senin (25/4).
Seiring berjalannya waktu, Munawaroh meyakini bahwa telah terjadi perbaikan dengan semakin memerhatiakan aspek kesejahteraan hewan. Secara sederhana hal ini dapat dilihat dari semakin menjamurnya sistem kandang closed house dalam pemeliharaan broiler.  Kandang closed house dibangun untuk membuat ayam senyaman mungkin, sehingga ayam dapat terbebas dari rasa stres lingkungan. Hal ini merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Namun demikian, terkait perkandangan layer, Munawaroh menyinggung bahwa penerapan bebas kandang dapat dilakukan, namun juga perlu dilakukan riset lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi peternak.
Hal senada diutarakan oleh Erik Kadarsyah selaku Technical Specialist PT. Cahaya Technology Unggas. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia secara daring, melalui aplikasi Zoom, Senin (23/5) dirinya mengatakan bahwa kenyamanan ayam perlu diciptakan sedari masa pemeliharaan. Menurut Erik, unsur pertama yang harus diperhatikan untuk mendorong kenyamanan pada ayam adalah mengenai sirkulasi udara. Dirinya menegaskan, pengaturan sirkulasi udara ini harus disesuaikan dengan ketinggian lokasi kandang karena hal tersebut memengaruhi temperatur lingkungan.
“Misalkan di kandang open house dengan lokasi kandangnya di bawah 500 mdpl, pada ayam umur 2 hari, kipas manual dapat dinyalakan itu selama 2 jam. Hari pertama dinyalakan selama 1 jam, kemudian perhari dinaikkan per setengah jam. Jadi, hal ini untuk menciptakan suatu kenyamanan bagi ayam yang dipelihara di dataran rendah yang cuacanya panas. Kemudian, untuk kandang closed house yang lokasi kandangnya di bawah 500 mdpl, saya sarankan untuk menghidupkan kipas dengan prinsip 4 menit on 1 menit off. Jika di lokasi kandang di atas 500 mdpl, saya sarankan 1 menit on 5 menit off. Hal ini dilakukan, karena terdapat perbedaan temperatur pada ketinggian yang berbeda,” tandas Erik.
Di kesempatan lain, Qodim seorang peternak broiler asal Pasuruan mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memerhatikan kenyamanan ternak ayamnya. Bahkan, untuk menunjang kenyamanan tersebut, pihaknya telah beralih ke kandang closed house. Peralihan kandang ini membawa dampak positif dan menciptakan kenyamanan dalam proses pemeliharaannya.
“Saya sangat puas dengan kinerja kandang closed house, karena memberikan dampak yang luar biasa pada produksi di kandang. Angin dalam kandang bisa diatur secara baik, termasuk pula suhunya. Ketika ayam merasa kedinginan, suhu bisa naik, bila kepanasan suhu bisa turun secara otomatis. Dengan begitu ayam menjadi nyaman karena diberikan lingkungan yang baik sehingga ayam dapat dikatakan sejahtera,” terangnya saat ditemui secara langsung oleh Poultry Indonesia di kandangnya, Selasa (17/5).
Selain itu, dengan menerapkan sistem kandang closed house, membuat peternakannya lebih aman dari serangan hama tikus maupun hewan lainnya. Ditambah lagi, Qodim merasakan dampaknya secara langsung melalui turunnya nilai FCR dan persentase mortalitas bila dibandingkan dengan sistem kandang open house yang sudah ditinggalkannya setahun yang lalu.
“Dulu ketika kandang terbuka, di bawah kandang sering menjadi tempat berteduh kambing, akibatnya ayam stres dan terganggu produksinya. Sewaktu saya masih menggunakan kandang open house, FCR saya berada di atas angka 1,6 dengan persentase mortalitas 7% ke atas. Namun ketika beralih ke kandang closed house, FCR saya menjadi 1,5 ke bawah dengan persentase mortalitas tidak sampai 5%,” ujarnya.
Masih terkait pemeliharaan, Ismail sebagai peternak layer yang tinggal di Pasuruan, Jawa Timur, ketika ditemui Poultry Indonesia, Selasa (17/5) mengungkapkan bahwa kenyamanan ayam adalah hal utama agar bisa produksi maksimal. Ia mengaku sangat jeli mengamati konsumsi pakan dari ayam, yang sejalan dengan nafsu makan ayam. Menurutnya, jatah pemberian pakan dapat dijadikan indikator kesejahteraan unggas.
“Seumpama jatah pakan ayam adalah 1 gram/hari. Dan ternyata tidak habis, maka biasanya sedang terjadi masalah pada ayam. Biasanya hal ini memiliki gejala, entah menceret, suhu tubuh meningkat atau tanda penyakit yang lain,” terangnya.
Ia mengaku lebih nyaman untuk memberi pakan dua kali dalam sehari, karena hal itu sudah membuat ayam nyaman. Untuk air, ia memastikan kalau airnya tetap tersedia. Khusus untuk air minum ia menggunakan nipple. Ia mengaku penggunaan nipple untuk ayam, jauh lebih memberi kenyamanan pada ayam dibandingkan memakai talang. Hal ini dikarenakan, pemakaian talang mudah lumutan dan mudah terkontaminasi, sedangkan dengan nipple lebih aman.