Merupakan ibu kota provinsi Sumatra Selatan, kota Palembang menjadi kota terpadat dan terbesar kedua di pulau Sumatra setelah Kota Medan dan kota terpadat keenam di Indonesia. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,7 juta penduduk, masyarakat Palembang terdiri dari suku asli Nusantara dan bangsa asing menetap di kota ini. Didominasi oleh orang Melayu yang melebur dengan berbagai suku bangsa lainnya yang kemudian disebut dengan Melayu Palembang atau Uwong Pelémbang, kota ini juga memiliki komunitas Tionghoa yang cukup besar.
Terkenal dengan Sungai Musi dan Jembatan Ampera sebagai objek wisatanya, kota ini memiliki berbagai hidangan khas.
Banyak ditemukannya prasasti kedatuan Sriwijaya di kota Palembang menandakan kota ini sebagai salah satu kota tertua di Indonesia. Oleh karena itu, kota ini juga dijuluki ‘Bumi Sriwijaya’. Salah satu peninggalan Kedatuan Sriwijaya yang sudah mendunia adalah kain songket. Hingga kini, kain dengan ciri khas warna emas dan merah yang menandakan masa keemasan Kedatuan Sriwijaya masih dibuat secara manual dengan menggunakan alat tenun tradisional.
Kota Palembang memiliki berbagai hidangan khas, salah satunya yang paling terkenal adalah pempek. Dengan bahan dasar utama daging ikan dan sagu, hidangan ini berhasil dikembangkan menjadi beragam jenis pempek dengan berbagai varian isian maupun bahan tambahan lainnya, contohnya telur ayam. Tak lengkap rasanya jika menyantap pempek tanpa cuko atau saus kental berwarna kehitaman dari rebusan gula merah, cabai, dan udang kering. Saking terkenalnya pempek, kota Palembang juga dijuluki sebagai ‘Kota Pempek’.
Selain pempek, Palembang juga terkenal dengan pindang patinnya yang merupakan hidangan berbahan dasar daging ikan patin yang direbus dengan bumbu pedas yang memiliki rasa gurih, pedas, dan segar. Memiliki julukan ‘Venesia dari Timur’ karena banyaknya sungai dan anak sungai yang mengalir, tak heran jika hidangan berbahan dasar daging ikan menjadi andalannya.
Kali ini, Poultry Kuliner akan memberikan resep modifikasi dari pindang patin, yakni pindang ayam, dari Fimela.com yang dapat menjadi pilihan atau selingan ketika memasak. Rasanya yang segar sangatlah nikmat jika dinikmati dengan nasi hangat. Selain lezat, hidangan ini juga dapat memenuhi kebutuhan protein hewani harian Anda. Selamat mencoba!
Bahan:
-
600 g ayam
-
1200 ml air
Bumbu utuh:
-
6 buah tomat kecil, potong-potong
-
4 buah cabai rawit utuh
-
3 buah cabai merah keriting, potong-potong
-
1 buah asam kandis (bisa diganti asam jawa)
-
1 ikat kemangi, siangi
-
3 cm jahe, bakar lalu geprek
-
2 ruas jari lengkuas, iris-iris
-
2 batang daun bawang, potong-potong
-
2 batang serai, geprek
-
2 lembar daun salam
-
1 sdt kaldu ayam/jamur
-
Garam secukupnya
Bumbu halus:
-
1 buah cabai merah
-
8 butir bawang merah
-
3 siung bawang putih
-
3 cm kunyit
Cara membuat:
-
Sangrai bumbu yang akan dihaluskan. Jika sudah matang, ulek halus.
-
Rebus daging ayam selama 10 menit, tiriskan, dan buang air rebusan yang kotor. Rebus kembali ayam hingga matang.
-
Masukkan bumbu halus dan bumbu utuh. Masak hingga ayam matang dan empuk.
-
Masukkan garam dan kaldu bubuk, lalu lakukan tes rasa. Jika rasanya sudah asam asin pedas segar, berarti sudah pas. Angkat.
-
Sajikan pindang ayam Palembang dengan nasi hangat.










