Dokter hewan yang sedang memeriksa ayam (sumber gambar: https://www.dreamstime.com/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi COVID-19 memang sangat memukul banyak dunia usaha termasuk usaha pelayanan klinik hewan. Hal tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “Adaptasi Kebiasaan Baru dalam Pelayanan Kesehatan Hewan” yang diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama melalui aplikasi Zoom, Senin (19/10).
Muhammad Munawaroh selaku Ketua Umum PB PDHI dalam paparannya mengatakan bahwa selama pandemi, terjadi penurunan kunjungan klien ke klinik hewan di berbagai wilayah.
Menurutnya, berdasarkan survei terhadap 314 responden (dokter hewan) yang memiliki klinik, sekitar 26-50 persen ada penurunan klien yang mana hal tersebut berdampak pada pendapatan serta kebutuhan operasional.
“Sebanyak 11,7 persen di antaranya memilih tutup/rencana untuk menutup sementara praktik yang dijalankan,” ujarnya.
Masih menurut data yang ia miliki, sebanyak 86,3 persen responden memiliki jam operasional tertentu, 13,7 persen tidak memiliki jam operasional tertentu (termasuk yang buka 24 jam). Sedangkan 65,6 persen repsonden tetap menerima layanan gawat darurat 24 jam setiap harinya.
Munawaroh juga tak menampik bahwa selama masa pandemi terdapat beberapa kendala yang dialami oleh dokter hewan di lapangan seperti barang praktik yang sulit didapat atau harganya mahal. Beberapa barang tersebut di antaranya masker, gloves, obat bius, alkohol, anestesia dan obat-obatan lainnya.
Baca Juga: Peran Penting Dokter Hewan dalam Penggunaan Antibiotik yang Bertanggungjawab
Adanya pandemi juga berdampak tidak hanya pada usaha pelayanan klinik hewan di Indonesia saja, di negara tetangga seperti Singapura juga mengalami hal yang sama.
Shane Ryan, Presiden WSAVA Singapore dalam acara yang sama mengatakan bahwa sejak ada pandemi, terjadi juga upaya adaptasi terhadap pelayanan di klinik hewan.
Shane berujar, beberapa hal yang dilakukan seperti melalui tele-medicine, tele-triage dan tele-concultation. Hal itu untuk mengurangi kontak fisik antara dokter hewan dan klien selama masa pandemi.
“Pelayanan house-calls hanya dilakukan jika ada sesuatu yang darurat,” jelasnya.
Sementara itu, pendapat lain juga dikemukan oleh Made Restiati yang merupakan Founder of Bali Veterinary, menurutnya komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam menjaga hubungan dengan klien. Dokter hewan dan klien merupakan satu kesatuan sehingga klien akan tetap mempercayai klinik hewan selama masa yang sulit ini.
“Dokter hewan harus tetap optimis bahwa usaha ini bisa tetap bertahan walaupun dalam masa pandemi seperti saat ini,” ujarnya.