Oleh : Muhammad Zainurrohim*
Invasi Rusia ke Ukraina memberikan pengaruh terhadap perekonomian di seluruh dunia. Invasi Rusia ke Ukraina menunjukkan adanya ketegangan politik antara blok barat dan blok timur. Tentu hal tersebut akan berakibat pada beberapa komoditas yang terhambat pendistribusiannya, yang menyebabkan tidak dapat dihindarinya kenaikan harga bahkan inflasi di negara tertentu.

Tidak hanya berdampak pada industri energi, invasi Rusia terhadap Ukraina juga berdampak pada industri pakan yang mana Rusia dan Ukraina merupakan salah satu negara eksportir gandum dan jagung

Ukraina dan Rusia merupakan negara produsen gandum yang menyumbangkan setidaknya 30% dari total suplai ke seluruh dunia. Ukraina merupakan salah satu negara produsen dan eksportir jagung, yaitu sekitar 80% hasil produksinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan global, atau setidaknya Ukraina menjadi negara produsen terbanyak keempat setelah Brasil, Argentina, dan Amerika Serikat dengan proporsi 15%. Selain itu, Rusia juga menjadi salah satu negara pengekspor minyak mentah ke seluruh dunia, sekitar 11% dari total suplai untuk kebutuhan minyak global.
Jagung dan minyak mentah juga dipastikan akan mengalami gangguan secara global akibat dari efek domino yang ditimbulkan oleh perang tersebut. Sampai saat ini (15/03) melalui situs tradingeconomics.com terpantau harga jagung tengah mengalami kenaikan harga US$7,46 per bushel alias setara 27,21 kg atau mengalami kenaikan sebesar 13,91% selama satu bulan terakhir.
Tahun 2021 secara nasional produksi pipilan jagung (kadar air 14%) dapat mencapai 15,79 juta ton dan akan diprediksi mengalami kenaikan sebesar 17,1 juta ton pada tahun 2022. Namun kita juga bisa melihat bahwa pergerakan harga jagung saat ini di pasar juga tengah mengalami kenaikan, terhitung Rp5.890,00 per kilogram pada Desember 2021 dan mencapai Rp5.964,00 per kilogram pada Februari 2022.
Di dalam industri perunggasan, 60-70% didominasi oleh biaya untuk pakan, sedangkan sisanya untuk manajemen pemeliharaan maupun untuk operasional perusahaan. Jagung memberikan kontribusi terbanyak dibandingkan sumber bahan baku yang lain (sekitar 50-55%), artinya apabila harga jagung mengalami kenaikan, maka bisa dipastikan hal ini akan berpengaruh terhadap kenaikan harga daging ayam. Setidaknya pada Februari 2022 lalu dapat dilihat harga daging ayam sudah mengalami tren kenaikan.
Tren kenaikan harga daging ayam tersebut tidak hanya disebabkan oleh ancaman kenaikan harga bahan baku pakan. Akan tetapi kenaikan harga tersebut juga disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak mentah digunakan sebagai bahan baku untuk aktivitas transportasi, seperti bahan bakar minyak.
Baca juga : Dinamika Global Menyebabkan Kenaikan Harga Pakan Nasional
Terhitung sejak awal mulanya invasi Rusia ke Ukraina, tercatat bahwa harga minyak mentah WTI mengalami kenaikan yang cukup signifikan sekitar 4,58% atau US$99,4 per barel (15/03) dan Brent naik sekitar 3% atau US$106,1. Apabila tren kenaikan minyak mentah terus menerus menunjukkan angka transaksi lebih tinggi, maka dapat dipastikan bahwa prediksi akan kenaikan harga bahan bakar minyak akan mengalami kenaikan. Seperti yang kita tahu bahwa bahan bakar minyak diperlukan sebagai pendukung kelancaran distribusi berbagai aspek penunjang bisnis perunggasan.
Bahan bakar minyak yang murah dapat mengefisiensikan biaya distribusi unggas, terutama produk olahannya seperti daging untuk didistribusikan ke wilayah tertentu, terutama kawasan timur Indonesia dan luar pulau Jawa. Daerah seperti Nusa Tenggara dan Maluku merupakan salah satu daerah yang memiliki permintaan tinggi namun tidak banyak memproduksi produk unggas, oleh karena itu mereka mengandalkan pasokan dari wilayah lain.
Tidak hanya daging, jagung juga akan mengalami kesulitan distribusi. Hal ini mengacu pada pasokan domestik jagung yang terpencar di berbagai wilayah sehingga membutuhkan akses distribusi yang mudah dan murah. Hal ini juga menjawab pertanyaan kenapa kita membutuhkan impor jagung untuk stabilisasi harga, karena dari persebaran produksi yang memakan biaya yang tinggi sehingga produksi domestik sangat susah bersaing dengan jagung impor.
Adanya konstelasi dan ketegangan politik Rusia dan Ukraina terbukti memberikan sinyal efek domino yang signifikan apabila pemerintah tidak bergerak cepat untuk mengantisipasinya. Fluktuasi harga daging ayam, telur, maupun jagung memang tidak dapat terhindarkan, akan tetapi hal tersebut tentu dapat diminimalisir. *Mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada