Oleh : Dr. drh. Muhammad Munawaroh, MM*
Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam penyediaan pangan bagi masyarakat Indonesia, terkhusus pangan sumber protein hewani.  Dalam upaya mendukung pembangunan peternakan, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) sebagai asosiasi yang menaungi seluruh dokter hewan di Indonesia mempunyai tugas untuk membantu pemerintah dalam menyediakan protein hewani, mencegah penyakit zoonosis serta mendorong atau mengimplementasikan kesejahteraan hewan. Tentu isu terkait medis atau kesehatan menjadi fokus bagi PDHI dalam pembangunan peternakan tersebut. Terdapat beberapa poin yang patut disorot PDHI dalam dinamika pembangunan peternakan.

Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) menegaskan akan selalu siap mendukung dan membantu pemerintah serta berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama membangun peternakan Indonesia.

Pertama, penulis menyoroti terkait komoditas sapi potong. Saat ini, kebutuhan daging di Indonesia terpenuhi dari impor dan dalam negeri. Untuk sumber daging dalam negeri, sapi bali menjadi alternatif solusi yang sering kali dikembangkan. Namun, dalam hal ini sapi bali mempunyai penyakit khusus yaitu jembrana. Berdasarkan hasil diskusi PDHI dengan  Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), proses produksi dari vaksin jembrana belum berjalan maksimal karena minimnya dukungan dari pemerintah.
Kedua terkait komoditas perunggasan. Permasalahan Avian Influenza (AI) atau lebih dikenal flu burung masih menjadi permasalahan klasik yang belum diselesaikan secara tuntas. Pasalnya, hingga saat ini Indonesia belum dinyatakan bebas sepenuhnya dari virus AI. Hal ini menyebabkan ayam dari Indonesia belum dapat diekspor ke beberapa negara. Selain itu, dalam perkembangannya telah terjadi berbagai proses mutasi AI dan memperlihatkan adanya dinamika molekuler, klinis, patologis dan imunologis.
Ketiga, juga terjadi kasus kesehatan yang parah pada ternak babi. Dengan munculnya kasus African Swine Fever (ASF), populasi babi di Indonesia telah turun secara drastis. Pasalnya penyakit ini sangatlah menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 persen. Namun, hingga saat ini, Indonesia belum mampu menghasilkan vaksin dari ASF tersebut. Tentu hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, karena virus ASF sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap desinfektan.
Baca Juga: Peran Penting Dokter Hewan dalam Penggunaan Antibiotik yang Bertanggungjawab
Seiring upaya PDHI dalam mendukung pembangunan peternakan, peraturan atau dasar hukum masih menjadi sebuah hal yang seringkali menjadi tantangan. Terlebih, ketika berhubungan dengan pemerintahan, hal ini menjadi sesuatu yang serius. Menurut penulis, peraturan yang selama ini berlaku, tidak dapat mengakomodasi perkembangan isu yang ada, sehingga segala hal di bawahnya tidak dapat mengatur dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Untuk itu, PDHI juga berupaya menyusun peraturan terkait praktik kedokteran hewan, yang nantinya diharapkan dapat mengakomodasi semua masalah kedokteran hewan di Indonesia.
Lebih lanjut, penulis sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) menegaskan akan selalu siap mendukung dan membantu pemerintah serta berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama membangun peternakan Indonesia. *Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi April 2021 dengan judul “Selalu Siap Mendukung Pembangunan Peternakan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153