Kunjungan ke Trouw Nutrition

POULTRYINDONESIA, Jakarta – Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor kunci dalam memenangkan persaingan global saat ini. Apalagi di tengah arus globalisasi yang sangat kuat, maka diperlukan adanya sebuah sikap untuk bagaimana caranya memanfaatkan arus global tersebut. Pembangunan sumber daya manusia Indonesia sudah menjadi perhatian khusus bagi pemerintah.

Ada banyak sekali lini bisnis untuk sektor perunggasan di Indonesia dari hulu ke hilir. Dengan banyaknya lini bisnis tersebut, sektor perunggasan juga tentunya menyumbangkan banyak lapangan kerja yang diisi oleh berbagai lapisan kalangan masyarakat.

Di tengah era ketidakpastian seperti sekarang, langkah strategis ini sudah selayaknya mendapatkan dukung penuh dari seluruh pemangku kepentingan. Penguatan sumber daya manusia menuju manusia unggul memiliki korelasi yang erat dengan peningkatan produktivitas kerja, dalam memenangkan persaingan di tengah perubahan-perubahan yang berlangsung cepat dalam dunia bisnis, ekonomi, politik, dan budaya.
Jumlah angkatan kerja
Tantangan dunia ke depan, apalagi saat ini sudah memasuki era industri 4.0, di mana para pekerja harus mampu memiliki keterampilan di bidang teknologi dan digitalisasi, tentu menjadi kendala tersendiri jika tenaga kerja yang ada tidak memiliki keterampilan yang mendukung. Tentu, dalam bidang peternakan juga berlaku demikian. Sumber daya manusia yang ada harus selaras dengan kebutuhan dan tantangan zaman.
Menurut Buku Statistik Peternakan 2019, dari jumlah angkatan kerja sebanyak 4.786.119 orang didominasi oleh pekerja dengan latar belakang pendidikan SMP ke bawah dengan jumlah pekerja sebanyak 4.121.812 orang. Sedangkan untuk latar belakang pendidikan SMA, SMK, Diploma dan Perguruan Tinggi jika dijumlahkan tidak lebih dari 664.307 jiwa.
Baca Juga : Menyiapkan SDM Peternakan yang Mampu Menjawab Tantangan Zaman
Untuk sektor perunggasan sendiri, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia pada tahun 2015, menyebutkan bahwa sektor ini menyerap sekitar 2,5 juta tenaga kerja langsung. Namun dari angka tersebut, tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai jenjang pendidikannya.
Berdasarkan data dari Buku Statistik Peternakan 2019 tersebut, maka jika merujuk pada data dari ISPI yang menyebutkan bahwa sektor perunggasan menyumbangkan lapangan kerja sebesar 2,5 juta jiwa, maka industri perunggasan menyumbangkan 60% pekerja dari total pekerja yang bekerja di bidang subsektor peternakan.
Dalam data statistik tersebut terlihat bahwa, pada faktanya di lapangan memang tenaga kerja yang dibutuhkan dalam menjalankan budi daya lebih banyak dikerjakan oleh tenaga kerja dari lulusan SD dan SMP. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti faktor sosial dan demografi, di mana lokasi peternakan unggas biasanya berada di perdesaan dan jauh dari perkotaan.
Fakta tersebut tidak memungkiri bahwa para investor yang menggelontorkan dananya untuk mendirikan usaha budi daya perunggasan pasti akan meletakan lokasi usahanya di daerah perdesaan, sehingga dipastikan akan mencari tenaga kerja yang tidak jauh dari lokasi peternakannya.
Hal tersebut untuk meningkatkan ekonomi di sekitar lokasi peternakan, juga untuk meningkatkan rasa memiliki dari para pekerja terhadap suatu peternakan. Kemampuan finansial yang terbatas dari perusahaan juga merupakan salah satu latar belakang banyak perusahaan lebih tertarik untuk menerima warga sekitar karena jika akses antara lokasi peternakan dan tempat tinggal pekerja itu dekat, maka perusahaan bisa menekan biaya operasional.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juli 2020 dengan judul “ Selayang Pandang SDM Perunggasan di Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153