POULTRYINDONESIA, Blitar — Dalam rangka mendukung peningkatan konsumsi protein hewani dan penguatan ketahanan pangan nasional, ILDEX bersama HANTER IPB menggelar Seminar Nasional bertajuk “Inovasi dan Tantangan Peternakan Ayam Petelur dalam Menjawab Kebutuhan Gizi Bangsa”, pada Selasa (1/7). Acara digelar secara hybrid di Hotel Santika Blitar dan melalui platform Zoom Meeting.
Acara ini menghadirkan pembicara dari kalangan pemerintah, akademisi, dan pelaku industri perunggasan. Topik yang dibahas mencakup inovasi teknologi, efisiensi produksi, dan tantangan sektor peternakan ayam petelur di tengah dinamika kebutuhan gizi masyarakat yang terus meningkat.
Dalam sambutan pembukanya, Fitri Nursanti Poernomo dari PT Permata Kreasi Media (PKM) selaku penyelenggara pameran ILDEX Indonesia, menegaskan bahwa ILDEX bukan sekadar ajang promosi produk peternakan, melainkan juga menjadi ruang kolaborasi untuk berbagi pengetahuan, teknologi, dan inovasi antar pelaku industri. 
“Kami bukan event organizer biasa, kami bagian dari stakeholder peternakan. Setiap acara yang kami selenggarakan selalu disisipkan kegiatan edukatif seperti seminar dan festival ayam dan telur,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya telur ayam sebagai sumber protein hewani yang bergizi tinggi, terjangkau, dan sangat relevan dengan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak lupa ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra, sponsor, dan media yang telah mendukung terselenggaranya acara ini, termasuk kolaborasi dengan Himpunan Alumni Peternakan IPB (HANTER).
Sementara itu, Dr. Harry Suhada selaku Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian RI yang hadir secara daring menyoroti peran penting Kabupaten Blitar sebagai lumbung produksi telur nasional. 
“Sekitar 30% dari total produksi telur nasional berasal dari Blitar. Namun, saya rasa perlu ada peningkatan kualitas dan efisiensi produksi agar dapat menjawab tantangan pasar,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penyusunan data struktur populasi ayam petelur secara akurat. Data ini, menurutnya, akan menjadi dasar dalam perumusan kebijakan stabilisasi pasokan dan harga telur di tengah fluktuasi permintaan pasar. 
Dalam sambutan yang dibacakan oleh Muhammad Badrodin selaku Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Blitar, Bupati Blitar Rijanto menekankan bahwa subsektor peternakan, terutama unggas, merupakan salah satu fokus utama dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Timur 2011–2031. Kabupaten Blitar ditetapkan sebagai sentra pengembangan peternakan, sekaligus memiliki potensi besar dalam mendukung visi nasional terkait swasembada pangan dan peningkatan gizi masyarakat.
Paparan materi pertama disampaikan oleh Bhinuko selaku perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia, yang menyoroti pentingnya adopsi sistem kandang closed house untuk menghadapi tantangan perubahan iklim, kestabilan suhu, dan peningkatan efisiensi produksi.
“Satu-satunya manipulasi yang diperbolehkan adalah manipulasi suhu dalam kandang closed house. Agar produksi optimal, ayam harus dalam kondisi nyaman. Di tengah ketidakpastian cuaca dan fluktuasi iklim global, kandang closed house membantu untuk meningkatkan produktivitas produksi,” paparnya.
Sementara itu, Andrew Darmawan dari PT Alltech Biotechnology Indonesia membahas tantangan lain dalam budi daya unggas, yaitu bahaya mikotoksin dalam pakan. Mikotoksin, yang merupakan racun alami hasil metabolisme jamur, dapat merusak organ internal ayam, menurunkan daya tahan tubuh, dan pada akhirnya mengganggu performa produksi telur.
“Sering kali penurunan produksi bukan disebabkan oleh penyakit infeksius, tapi oleh mikotoksin dalam pakan yang tak terdeteksi. Kontaminasi mikotoksin bisa terjadi sejak bahan baku disimpan, terutama dalam kondisi lembap. Saat ini, banyak jenis toxin binder yang beredar di pasaran untuk meminimalkan resiko kontaminasi,” ungkapnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Agustiar Yeta dari PT Japfa Comfeed Indonesia, mengingatkan bahwa genetik ayam layer saat ini sudah jauh berkembang dibanding satu dekade lalu. Ayam-ayam petelur sekarang memiliki potensi produksi yang lebih tinggi, lebih efisien, dan lebih sensitif terhadap manajemen.
“Genetik ayam terus upgrade, tapi ini harus dibarengi dengan recording yang disiplin. Tanpa data produksi, peternak akan kehilangan arah dan tidak bisa memaksimalkan potensi genetik itu,” tegasnya.
Sebagai penutup sesi narasumber, Prof. drh. Antimon Ilyas dari Hydra Group, menekankan urgensi digitalisasi dalam seluruh rantai produksi perunggasan. Mulai dari monitoring lingkungan kandang, pencatatan data produksi, manajemen logistik, hingga pemasaran produk olahan, semuanya kini bisa dikendalikan melalui teknologi digital.
Ia menambahkan bahwa pencatatan data harian, mulai dari konsumsi pakan, produksi telur, hingga mortalitas merupakan dasar dalam pengambilan keputusan bisnis, perencanaan distribusi, hingga pengembangan produk turunan.