Telur puyuh dalam penetasan
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Jika melihat perkembangan penduduk saat ini, maka sangat dibutuhkan salah satu alternatif pangan berbasis protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Selama ini masyarakat memenuhi kebutuhan gizi protein hewani dengan mengonsumsi susu, daging (ayam, sapi, domba, kambing), telur, dan ikan. Namun, yang paling terjangkau secara kuantitas, kualitas, maupun harga yang murah, masyarakat umumnya memilih mengonsumsi produk komoditas asal unggas.

Puyuh merupakan ternak unggas yang memiliki produktivitas tinggi dan relatif tidak memerlukan banyak tempat untuk budi daya. Namun ada beberapa hal teknis yang perlu diperhatikan jika ingin menghasilkan usaha budi daya puyuh yang menguntungkan.

Secara produksi, ayam ras pedaging maupun petelur memang sudah mencukupi kebutuhan masyarakat bahkan diklaim telah surplus produksi. Akan tetapi, budi daya ayam ras pedaging dan petelur kerap menimbulkan konflik sosial di masyarakat. Lahan yang semakin terbatas, membuat para peternak harus memutar otak jika ingin melakukan ekspansi. Bahkan untuk beberapa kasus, lahan peternakan harus mengalah dengan warga sekitar karena dianggap mengganggu pemukiman sekitar dengan alasan polusi udara, air, dan suara. Padahal biasanya yang terjadi adalah pemukiman yang semakin mendekati area peternakan.
Salah satu alternatif usaha untuk yang ingin mencoba beternak unggas namun berada di lahan yang terbatas atau di daerah yang cukup padat adalah dengan beternak puyuh. Puyuh merupakan salah satu dari sekian banyak jenis unggas di dunia. Sebagian orang terkadang menyebut hewan ini dengan sebutan burung puyuh. Puyuh memang merupakan salah satu jenis burung, tetapi dikategorikan dalam jenis yang tidak bisa terbang. Puyuh memiliki ukuran tubuh yang kecil tetapi terlihat gemuk dengan kaki yang pendek.
Baca Juga: Permintaan Telur Puyuh Tinggi, Suplai Belum Mencukupi
Kebanyakan puyuh yang ada di Indonesia adalah puyuh berwarna cokelat kemerahan atau cokelat kekuningan dengan variasi garis dan totol yang khas. Di Indonesia, perkembangan puyuh sebagai ternak memang sedikit ketinggalan dibanding beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Thailand dan Jepang. Namun saat ini pengembangan puyuh di Indonesia terus dilakukan seiring dengan pertambahan jumlah minat dan kemampuan beternak.
Tingginya minat beternak puyuh berbanding lurus dengan bertambahnya kebutuhan para peternak terhadap bibit unggul. Oleh karena itu, berbagai pihak pun mencoba menghasilkan bibit puyuh yang bisa dibudidayakan secara produktif oleh para peternak. Salah satu upaya penyediaan bibit itu pun dilakukan oleh Dosen Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, Endang Sujana S.Pt., M.P.
Menurut Endang, puyuh telah dikembangkan puluhan tahun di Indonesia dan sudah bisa dikategorikan sebagai ternak lokal. Salah satu keuntungan dari ternak puyuh yaitu sangat adaptif dengan lingkungan yang ada di Indonesia, baik di dataran tinggi maupun dataran rendah.
“Keunggulan yang lain yaitu dari sisi reproduksi, belum ada ternak di komoditas unggas yang mampu bertelur pada umur 40 hari. Selain itu feed intake dari puyuh ini sangat sedikit, sekitar 20-22 gram untuk petelur sedangkan untuk pedaging memang bisa sampai di antara 25-30 gram per hari,” jelas Endang saat seminar virtual melalui aplikasi zoom meeting yang bertajuk “Puyuh Potensi yang Tersembunyi,” Sabtu (6/6). *Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi September 2020 ini dilanjutkan pada judul “Bibit Puyuh yang Kompetitif” Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153