Oleh: Dr. drh. Dahliatul Qosimah, drh, Mkes
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya
                Bayangkan seorang peternak baru memanen flock-nya. Namun, hasil dari bobot panen di bawah target, FCR membengkak, dan kematian mendadak muncul di minggu ketiga. Saat dibedah, hati dan jantung ayam dilapisi selaput kekuningan dengan tanda khas perkejuan. Diagnosisnya jelas: kolibasilosis.
                Kisah ini bukan hal baru. Justru karena terlalu sering terjadi, kolibasilosis kerap dianggap penyakit “biasa” di perunggasan Indonesia. Padahal, penelitian Wibisono dkk. (2018) menunjukkan kerugian ekonomi akibat kolibasilosis mencapai 13,10% dari total aset perunggasan nasional, angka ini sangat signifikan.
                Risikonya meningkat tajam di musim hujan. Kelembapan tinggi, litter sulit kering, dan ventilasi terganggu menciptakan kondisi ideal bagi E. coli untuk berkembang dan menyerang. Perlu dipahami, tidak semua E. coli berbahaya. Sebagian hidup normal di usus ayam tanpa menimbulkan gangguan. Namun, sekitar 10–15% di antaranya merupakan Avian Pathogenic E. coli (APEC) yang memiliki faktor virulensi sehingga mampu menembus usus, menyebar ke organ vital, dan menyebabkan kerusakan serius (Kathayat et al., 2021).
                APEC paling sering masuk melalui saluran pernapasan. Debu kandang yang mengandung partikel feses terhirup ayam, bakteri masuk ke kantung udara, lalu menyebar ke jantung, hati, dan organ lain hingga menyebabkan koliseptisemia dan kematian cepat. Jalur lain adalah melalui telur tetas terkontaminasi, yang menghasilkan DOC lemah, pusar meradang, pertumbuhan terhambat, dan tingginya kematian dini.
Mengapa Kolibasilosis Disebut Penyakit Sekunder?
                Kolibasilosis sering disebut penyakit sekunder karena APEC jarang menjadi penyerang pertama. Umumnya, infeksi dimulai oleh penyakit lain seperti IB atau Mycoplasma yang lebih dulu merusak pertahanan saluran pernapasan ayam. Kerusakan ini membuka “pintu masuk” bagi E. coli dari lingkungan kandang.
                Akibatnya, gejala klinik seperti ngorok dapat berkembang cepat menjadi airsacculitis berat, perkejuan pada hati dan jantung, hingga kematian massal. Karena muncul bersamaan, kasus di lapangan sering membingungkan dan tampak seperti satu penyakit, padahal sebenarnya merupakan infeksi multipel: penyakit primer membuka jalan, kolibasilosis memperparah dampaknya.
PENYAKIT YANG SERING “MENGUNDANG” KOLIBASILOSIS:                        
▸  Newcastle Disease (ND) — merusak mukosa saluran napas
▸  Infectious Bronchitis (IB) — sasaran utama: saluran napas atas dan oviduk
▸  Mycoplasmosis (CRD) — infeksi kronis yang melemahkan pertahanan pernapasan
▸  Gumboro/IBD — menekan sistem imunitas  (imunosupresi)
▸  Coccidiosis — merusak mukosa usus, membuka jalan masuk E. coli  melalui pembuluh darah   dan lanjut ke pencernaan  lebih dalam
Musim Hujan: Saat Semua Faktor Risiko Datang Bersamaan
                Musim hujan adalah periode paling rawan terjadinya kolibasilosis. Kelembapan tinggi membuat litter sulit kering, sementara ventilasi tidak mampu membuang uap air secara optimal. Litter basah menjadi pemicu utama. Saat kadar air mencapai 25–35%, litter menggumpal dan menjadi tempat ideal bagi E. coli berkembang. Kondisi ini juga mempercepat pelepasan amonia, yang merusak saluran pernapasan ayam dan meningkatkan kejadian dermatitis telapak kaki.
                Amonia bekerja sebagai perusak diam-diam. Paparan 15 ppm sudah memicu peradangan saluran napas, sementara 25 ppm menyebabkan pertumbuhan terhambat, FCR memburuk, dan meningkatnya airsacculitis. Kerusakan epitel pernapasan ini membuka jalan bagi E. coli untuk masuk ke kantong udara, aliran darah, dan organ vital. Sedangkan Ventilasi di musim hujan menjadi dilema. Tirai tertutup menahan hujan tetapi menumpuk amonia; tirai terbuka memperbaiki sirkulasi namun membasahi litter. Solusinya adalah pengaturan bukaan sebagian di sisi aman dari tampias, serta menjaga ventilasi minimum, termasuk penggunaan exhaust fan bila memungkinkan.
Gambar 2. Faktor Risiko Kolibasilosis di Musim Hujan
 
Antibiotik Makin Tidak Mempan: Alarm Serius
                Banyak antibiotik yang selama ini digunakan untuk kolibasilosis kini kehilangan efektivitas akibat resistensi antimikroba (AMR). Studi di Indonesia menunjukkan lebih dari 50% isolat E. coli broiler resisten terhadap tetrasiklin dan siprofloksasin, dan sekitar 25% sudah tergolong MDR (kebal ≥3 golongan antibiotik). Penyebab utamanya adalah penggunaan antibiotik tanpa diagnosis, tanpa uji sensitivitas, serta dosis dan frekuensi yang tidak rasional. Antibiotik yang diberikan rutin pada ayam sehat justru “melatih” bakteri menjadi kebal, dan risikonya tidak hanya bagi kesehatan ayam, tetapi juga ancaman bagi kesehatan manusia melalui rantai pangan.
Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?
Kolibasilosis bisa dicegah, dan pencegahan jauh lebih murah daripada pengobatan. Berikut langkah kunci yang perlu diterapkan:
  1. Jaga Litter Tetap Kering : Litter kering adalah faktor terpenting. Gunakan bahan berdaya serap tinggi (sekam padi kering atau serutan kayu), jaga ketebalan 5–10 cm, balik secara rutin, segera ganti area basah terutama di sekitar tempat minum, dan pastikan nipple drinker tidak bocor.
  2. Atur Ventilasi dengan Baik : Hindari udara diam di kandang. Pada kandang terbuka, buka tirai secara asimetris di sisi yang aman dari hujan. Pada closed house, pastikan exhaust fan dan ventilasi minimum berfungsi. Target ideal: RH <70% dan amonia <25 ppm.
  3. Perkuat Biosekuriti : E. coli ada di lingkungan kandang, tetapi populasinya dapat ditekan. Lakukan desinfeksi dan pengeringan kandang antar siklus produksi, serta kendalikan vektor seperti tikus, lalat, kecoak, dan burung liar.
  4. Vaksinasi Tepat Waktu : Karena kolibasilosis sering bersifat sekunder, cegah penyakit primer. Pastikan vaksinasi ND, IB, dan Mycoplasma sesuai jadwal. Hindari vaksinasi saat kondisi lingkungan buruk. Vaksin APEC dapat dipertimbangkan sebagai tambahan.
  5. Gunakan Antibiotik Secara Bijak : Antibiotik bukan untuk pencegahan rutin. Jika pengobatan diperlukan, lakukan uji sensitivitas. Alternatif non-antibiotik seperti probiotik, asam organik, dan fitobiotik dapat membantu menekan E. coli tanpa risiko resistensi.