Kandang layer sistem panggung
Oleh: drh. Andi Ibrahim Risyad*
Meskipun koksidia memiliki tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi, koksidia termasuk ke dalam self-limiting disease, atau dalam arti penyakit tersebut dapat sembuh dengan sendirinya. Hal tersebut tentu memerlukan kontrol yang tepat untuk menekan angka ookista yang teringesti serta sistem imun ayam itu sendiri. Peningkatan sistem imun ini dapat dilakukan dengan pengaturan manajemen kandang yang baik untuk meminimalisir stres serta mengontrol cemaran mikotoksin pada pakan.
Jika berbicara perihal memberantas koksidia dalam peternakan, tentu akan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Hal tersebut disebabkan ookista memiliki resistensi terhadap beberapa jenis desinfektan, sehingga meskipun sudah dilakukan pembersihan dalam kandang beserta peralatannya secara berkala, kasus koksidia masih akan tetap muncul. Hanya saja tindakan ini setidaknya dapat mengurangi insidensi penyakit. Jumlah ookista yang rendah juga dapat berpengaruh positif untuk merangsang sistem imun terhadap koksi pada ayam. Beberapa jenis disinfektan yang seringkali digunakan untuk pencegahan koksidiosis yaitu pemberian kapur dan soda api.
Baca Juga: Jenis Jenis Desinfektan
Saat ini, tindakan untuk menangani kasus koksidiosis pada ayam memang masih tertuju pada penggunaan sediaan antikoksidia. Penggunaan antikoksidia ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1948 dengan sediaan sulphaquinoxaline dan nitrofurazone yang pertama dari American Food and Drug Administration (FDA). Sediaan antikoksidia ini dibagi menjadi dua, yaitu sediaan ionophore (lasalocid, monensin, narasin, salinomycin, dan semduramicin) serta sediaan sintetik (amprolium, diclazuril, sulphonamide, decoquinate, dan clopidol). Sediaan tersebut juga ada yang bersifat koksidiosidal (membunuh koksi) dan koksidiotat (menghambat pertumbuhan koksidia).
Sediaan yang umum dipakai pada layer sebagai pengobatan terhadap kasus koksidia yaitu amprolium atau toltrazuril. Kedua sediaan tersebut memiliki cara kerja obat yang berbeda. Sebagai contoh, amprolium berkompetensi dengan koksi dalam hal absorbsi thiamine. Penggunaan sediaan antikoksidia tersebut dilakukan selama tiga hari. Jika penyakit masih saja muncul, pengobatan diulangi seminggu kemudian. *Technical Service PT East Hope Agriculture Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2021 dengan judul “ Serangan Koksidiosis yang Tidak Pernah Habis”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153