POULTRYINDONESIA, Jakarta – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi terus digencarkan melalui kolaborasi lintas lembaga. Sinergi ini melibatkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Kementerian Pertanian, serta Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER), dengan fokus pada pelatihan dalam budi daya unggas.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara LPER dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Jakarta, pada Senin (6/4). Kesepakatan ini menjadi landasan pelaksanaan program berbasis usaha yang menyasar warga binaan di lembaga pemasyarakatan. Program ini dirancang tidak hanya untuk mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan ekonomi yang aplikatif sebagai langkah strategis di tengah tantangan global pada sektor pangan dan energi, sekaligus menjawab kebutuhan peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan bahwa ketahanan pangan saat ini menjadi prioritas nasional, sehingga pemanfaatan lahan di lingkungan pemasyarakatan harus diarahkan untuk mendukung agenda tersebut. Ia menekankan bahwa program pembinaan harus memberikan dampak nyata.
“Pengembangan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan bukan hanya sarana pembinaan, tetapi juga kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional”.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa subsektor peternakan memiliki potensi besar dalam memberdayakan warga binaan. Menurutnya, unggas menjadi pilihan strategis karena relatif mudah diterapkan, adaptif, dan memiliki pasar yang terus tumbuh, sehingga menjadikannya peluang nyata bagi warga binaan untuk memiliki usaha mandiri setelah dibebaskan.
Agung juga menekankan pentingnya pembinaan yang berorientasi pada keterampilan praktis dan bernilai ekonomi. Dengan pelatihan yang tepat dan berkelanjutan, warga binaan diharapkan dapat kembali ke masyarakat dengan kesiapan untuk bekerja maupun berwirausaha. Meningkatnya kebutuhan produk unggas seperti daging ayam dan telur, terutama untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG) semakin memperbesar peluang usaha di sektor ini.
“Kami mendorong agar pelatihan disusun berbasis kebutuhan pasar sehingga usaha yang dijalankan memiliki nilai ekonomi dan daya saing,” ujarnya
Dalam implementasinya, LPER berperan sebagai mitra pelaksana yang menyediakan pelatihan berbasis praktik. Cakupannya meliputi budi daya unggas pedaging dan petelur, penguatan manajemen usaha, hingga pembukaan akses permodalan melalui jaringan perbankan dan asuransi. Program ini juga mencakup pendampingan lanjutan bagi warga binaan setelah bebas, agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ketua Umum LPER, Mulyadi Atma, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam keberhasilan program ini. Menurutnya program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan membuka peluang usaha bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
“Pembinaan harus memberikan bekal keterampilan produktif agar mereka mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia