Pemeliharaan sistem umbar (Sumber gambar: Flick.com)
POULTRYINDONESIA,Jakarta – Kesejahteraan ternak/hewan (kesrawan) semakin kuat disorot oleh banyak negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari peningkatan kesadaran masyarakat dunia akan tren konsumsi pangan protein hewani yang aman, kepedulian kelestarian lingkungan, kesehatan dan kesejahteraan ternak. Fenomena inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa kandang baterai konvensional telah dilarang di Uni Eropa dan banyak negara bagian di Amerika Serikat. Berangkat dari hal tersebut IndonesiaLivestock Alliance (ILA), Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) dan Poultry Indonesia mengelar seminar virtual bertema “Tren Budi Daya Ayam Bebas Sangkar” melalui aplikasi zoom, Rabu (30/6).
Roby T Dharma Gandawijaya, Manager PT. Inti Prima Satwa Sejahtera menjelaskan bahwa telur bebas sangkar merupakan potensi pasar baru yang dapat dipertimbangkan oleh para peternak. Kendati saat ini pasarnya masih belum signifikan, namun seiring dengan berjalannya waktu akan terus berkembang, mengingat semakin tumbuhnya kesadaran akan kesehatan dan kesejahterawaan hewan di masyarakat.
“Peternak yang akan mengadopsi budi daya bebas sangkar wajib memiliki mentalitas peternak yang seutuhnya, yaitu memberikan waktu dan tenaga yang lebih untuk memberikan yang terbaik untuk ayam peliharaannya,” tegasnya.
Hal senada disampaikan oleh Muhammad Ridwan selaku Owner Rasyid Barokah Farm. Menurutnya banyak tantangan dalam budi daya ayam bebas sangkar, terutama dalam hal pengendalian penyakit yang jauh lebih sulit di kontrol ketimbang kandang baterai.
Ridwan mengaku bahwa melakukan budi daya dengan sistem bebas sangkar ini membuat dirinya puas.
Baca Juga: Fapet UGM Kembangkan Pusat Pelatihan Ayam Petelur Sistem Kandang Umbaran
“Awalnya saya menggunakan kandang baterai, dan di Nopember 2020 berubah jadi sistem bebas sangkar karena kasihan melihat ayam tersebut hidup tidak sesuai kodratnya. Dan semoga kedepan semakin banyak pihak yang mendukung pemeliharaan ternak dengan konsep kesejahteraan hewan ini,” harapnya.
Dari latar belakang akademisi Prof. Dr. Ali Agus, DEA., DAA, IPU., ASEAN Eng, Guru Besar Fakultas Peternakan, UGM menyampaikan materi terkait tren budidaya ayam bebas sangkar dan strategi implementasinya.
“Dari survei yang kami lakukan beberapa waktu lalu, ternyata masih sedikit sekali peternak yang menerapkan sistem budi daya bebas sangkar ini. Mungkin hanya 1-2 pesen,” jelasnya.
Ali menyarankan dalam penerapan budi daya sistem ini peternak perlu belajar sambil praktek, memulai dengan populasi kecil (<10 ribu ekor), meningkatkan kerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian serta membuat asosiasi yang bergerak dalam usaha sejenis.