Sistem rantai dingin diperlukan untuk mencegah kerusakan produk asal hewan (sumber gambar: https://www.trinetrawireless.com/case_studies/fmcg/)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Indonesia membutuhkan sistem logistik yang terintegrasi, efektif, dan efisien untuk meningkatkan daya saing dan menjamin keberadaan komoditas pangan secara merata dan terjangkau. Berbicara mengenai daya saing, menurut Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), mengatakan bahwa biaya logistik di Indonesia mencapai 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, jika ingin bersaing, nilai tersebut idealnya berada di angka 15%. Melihat kondisi tersebut, Poultry Indonesia menyelenggarakan Poultry Indonesia Forum serie ke-14 bertemakan “Sistem Logistik Sektor Hilir Perunggasan” melalui aplikasi Zoom, Sabtu (29/5).
drh. Boethdy Angkasa selaku Koordintor Substansi Pengolahan, Ditjen PKH, Kementan dalam paparannya mengatakan bahwa industri perunggasan termasuk kategori industri pangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dikarenakan unggas mudah didapat dan harganya terjangkau. Namun di dalam perjalanannya, sistem logistik peternakan nasional masih perlu dioptimalkan dalam aspek efisiensi biaya dan efektifitas proses bisnisnya.
“Biaya logistik di Indonesia masih sangat tinggi diukur dari Poduk Domestik Bruto-nya. Keterbatasan sarana dan prasarana distribusi merupakan salah satu penyebab tingginya biaya logistik nasional. Oleh karena itu, kerja sama antarlembaga dan partisipasi masyarakat serta harmonisasi kebijakan merupakan kunci dalam melakukan perbaikan sistem logsitik peternakan nasional,” ujarnya.
Salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah dalam mengefisiensikan sistem logistik termasuk di dalamnya memperpendek rantai pasok (supply chain) adalah membangun kerja sama dengan berbagai pihak seperti dengan lapak daring (market place). “Kita sudah menjajaki kerja sama dengan TaniHub, sayurbox, etanee dan lain-lain,” ujarnya.
Sementara itu, adanya kemajuan digitalisasi logisitik juga berdampak positif terhadap kelancaran arus produk hilir perunggasan. Seperti yang disampaikan Bayu Wedha selaku Chief Exceutive Officer PT Integrasia Utama. Menurutnya, penerapan teknologi pada sektor logistik hilir perunggasan dapat bermanfaat seperti kepastian kualitas barang yang dikirim dan diangkut tetap aman dan terjaga, pencegahan dan penanganan keadaan abnormal secara efektif, maupun peningkatan kinerja armada dan tenaga kerja yang terlibat dalam proses pengiriman.
Baca Juga: Manajemen Logistik untuk Profitabilitas Usaha Perunggasan
“Adanya teknologi digital juga bermanfaat dalam penghematan dan efisiensi biaya operasional, meminimalisir terjadinya kesalahan data/data tidak akurat, penyajian data, informasi, juga laporan dengan cepat dan akurat, serta meminimalisir ketidakefisienan pola kerja dalam setiap tahapan bisnis,” imbuh Bayu.
Melihat kondisi tersebut, Bayu memperkenalkan (Fleet Management System/FMS) yang lebih difokuskan untuk mengakomodir proses bisnis logistik yang dapat meningkatkan enam kemampuan yakni visibilitas, prediksi, pengambilan keputusan, kecepatan, efisiensi biaya, dan sistem otomatisasi. FMS ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi pelaku industri di bidang logistik untuk mengelola bisnis mereka.
Hal yang tidak jauh berbeda disampaikan drh. Sigit Pambudi yang merupakan Public Relation Asosiasi Rantai Potong Hewan Unggas Indonesia. Sigit mengatakan bahwa rantai pasok produk unggas di Indonesia mengalami perubahan cukup signifikan setelah adanya pandemi COVID-19. Menurutnya untuk karkas beku mulai ada di pasar tradisional yang sudah menuju konsep pasar modern.
“Saat ini karkas beku mulai banyak diminati masyarakat karena memang lebih higienis. Mereka juga mulai melirik bisnis daging beku sehingga toko daging (meat shop) mulai menjamur di mana-mana. Toko online juga signifikan peningkatannya, hanya saja tantangannya seputar handling rantai dingin agar daging yang dikirim kualitasnya tidak menurun,” kata Sigit.
Sementara mengenai rantai pasok yang terjadi dari kandang hingga ke RPHU, Dr. Rudi Afnan yang merupakan Akademisi Fakultas Peternakan IPB University memiliki pendapat bahwa solusi operasional yang bisa diterapkan antara lain memastikan lokasi kandang tidak terlalu jauh dengan RPHU, menghitung jarak/waktu perjalanan dan standar susut, mengawasi dan melakukan monitoring perjalanan, mengecek isi per keranjang angkut serta mengecek ruang dan waktu tunggu kendaraan.
“Semua ini berkaitan dengan sumber daya manusia. Jadi, untuk mengatasi masalah logistik di perunggasan juga harus didukung dengan teknologi dan SDM yang juga memahami sistem kerja ini dengan baik” kata Rudi.