Dekade demi dekade terlewati, penyakit gumboro masih tetap menghantui. Munculnya varian dan strain IBDV yang sangat virulen (very virulent IBDV/vvIBDV) bisa dikatakan telah mengubah epidemiologi penyakit secara dramatis. Hal ini tentu menjadi pecut bagi para peneliti dan dokter hewan untuk dapat mencari dan memberikan solusi serta upaya baru akan langkah-langkah pengendalian gumboro yang efektif. Pengendalian dan pencegahan gumboro saat ini dilakukan dengan pengaplikasian vaksin yang disertai dengan biosekuriti yang memadai dengan berbagai tingkat keberhasilan dan keterbatasan.
Baca juga : Cegah Tetelo Masuk Kandang
Menurut Müller, et al. (2012), tindakan menjaga kebersihan yang ketat dan vaksinasi rutin awam digunakan untuk mencegah IBD. Kedua hal tersebut biasa dilakukan bersamaan dengan biosekuriti yang baik dengan berbagai tingkat keberhasilan dan keterbatasan. Namun, menghilangkan partikel virus IBD yang kuat dan persisten dari peternakan adalah tugas yang sulit dan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai karena virus IBD tetap bersifat infeksius selama 122 hari di kandang ayam dan selama 52 hari pada pakan dan air.
Meskipun vaksin hidup yang dilemahkan biasa digunakan untuk mencegah IBD, kejadian wabah IBD di lapangan tidak jarang terjadi pada kawanan yang sudah divaksinasi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh munculnya varian antigenik IBDV baru di lapangan (Dulwich et al., 2017).
Di India sendiri, pengobatan secara herbal telah digunakan secara luas di India di bawah sistem pengobatan ayurveda sejak dahulu kala. Tanaman brotowali (T. cordifolia) telah terbukti memiliki sifat imunomodulator yang kuat (Aranha, et al. 2012; Sharma, et al. 2017). Ekstrak air brotowali telah terbukti dapat mengaktifkan makrofag yang membentuk garis pertahanan pertama melawan patogen yang mengancam kesehatan (More, et al., 2011).
Pada penelitian yang dilakukan oleh Swati Sachan, et al. (2019), potensi imunomodulator dari ekstrak T. cordifolia atau brotowali (grup C), CpG-ODN yang merupakan molekul DNA sintetik (grup D), dan kombinasi antara keduanya (grup E) dievaluasi untuk melihat efek profilaksis atau pencegahannya terhadap vvIBDV pada ayam pada usia 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan tingkat ekspresi tertinggi IL-2, IFN-γ, IL-4, dan IL-1β ditemukan pada bursa fabricius di grup E, diikuti oleh grup D, dan kemudian grup C.
Hasil yang ditemukan menunjukkan bahwa ketiga kelompok yang diobati dengan agen imunomodulator, baik hanya dengan satu bahan, yaitu brotowali dan CpG-ODN, maupun campuran antara keduanya, menunjukkan lebih banyak ekspresi sitokin dibandingkan dengan kontrol virus positif. Peningkatan signifikan pada level ekspresi sitokin IL-2 dan IFN-γ pada grup E menunjukkan pengaruh aditif ekstrak CpG ODN dan brotowali dalam menstimulasi sel imun pada bursa fabricius, sehingga turut menstimulasi cell-mediated immunity pada ayam ketika terpapar oleh vvIBDV.
Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Lillehoj, H.S., et al. (2001) bahwa IL-2 diekspresikan secara eksklusif oleh T-limfosit dan mempromosikan pertumbuhan T-limfosit, sehingga meningkatkan cell-mediated immunity, sedangkan IFN-γ yang merupakan interferon tipe 2, menghasilkan efek pleiotropik pada sel imun, yaitu aktivitas antivirus, stimulasi makrofag dan sel pembunuh alami (Song, B., et al., 2017).
Selain itu, pada penelitian ini juga ditemukan bukti bahwa ayam SPF yang ditantang dengan vvIBDV menginduksi respons imun protektif yang jelas untuk menghindari hasil yang buruk, dalam hal ini kematian, di mana pada kontrol virus positif, kematian 100 persen diamati terjadi selama pengamatan. Perlindungan 100 persen dari virus vvIBD dicapai oleh kelompok ayam SPF yang diberikan campuran ekstrak air brotowali dan CpG ODN. Keduanya memiliki potensi imunomodulator, sehingga brotowali dan CpG ODN dapat digunakan sebagai agen profilaksis.
Swati Sachan et al., (2019) menyampaikan bahwa campuran atau ramuan dari sediaan herbal lain dan agonis TLR reseptor permukaan transmembran yang terlibat dalam respons imun alami (innate immunity) juga dapat dievaluasi untuk melihat efek sinergisnya dalam merangsang respon imun terhadap berbagai penyakit menular. Evaluasi herbal dan ekstraknya untuk memodulasi respon imun bawaan (innate immunity) akan sangat membantu, karena murah dan mudah tersedia untuk digunakan dalam bentuk agen imunomodulator, guna melindungi kawanan unggas terhadap berbagai penyakit menular.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2022 dengan judul “Potensi Imunomodulator Brotowali terhadap IBD”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...