Dalam rangka mencari solusi untuk berbagai permasalahan dalam industri perunggasan,
penting untuk senantiasa memperbaharui pengetahuan mengenai penelitian dan perkembangan untuk menciptakan industri perunggasan yang lebih maju.

Di tengah ketidakpastian cuaca, meningkatnya frekuensi penyakit pencernaan pada unggas, serta kesulitan dalam memperoleh bahan baku pakan yang berkualitas, para pelaku di industri perunggasan dihadapkan pada serangkaian tantangan besar yang mempengaruhi kelangsungan usaha mereka. Oleh karena itu, diperlukan suatu strategi yang matang untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas produk hasil ternak. Sejalan dengan hal tersebut, Novus selaku perusahaan global yang bergerak dibidang nutrisi dan kesehatan hewan senantiasa memberikan pengetahuan dengan memanfaatkan strategi yang lebih efektif dan efisien.

Pada Kamis, (21/11) Novus mengadakan seminar bertajuk “Advanced Strategies for Broiler Success” untuk membahas strategi dalam menghadapi tantangan yang mungkin muncul. Pada acara yang berlangsung di Hotel Vivere, Gading Serpong tersebut, Novus juga mengingatkan kembali produk mereka yaitu MINTREX® dan CIBENZA®. Seminar ini dihadiri oleh para nutrisionis dan formulator, yang diberikan kesempatan untuk belajar dan berdiskusi dengan mendengarkan paparan dari tiga pemateri.

Dalam sambutannya, drh. Rika Riantika selaku Regional Sales Director Novus Indonesia, Singapura, Malaysia mengumumkan branding Novus International yang baru sebagai Intelligence Nutrition Company yang mana kedepannya Novus akan berfokus pada pengembangan atau penyediaan produk-produk nutrisi ternak yang di rancang dengan pendekatan berbasis pengetahuan dan riset ilmiah yang akan menjawab kebutuhan pasar untuk mengahasilkan produk yang relevant. Beliau juga dengan bangga memperkenalkan tim Novus yang baru, para profesional muda yang sudah berpengalaman di Animal Nutrition & Animal Health Business sehingga tim Novus lengkap untuk memenuhi kebutuhan Perusahaan dalam menciptakan peluang dan membangun hubungan yang kuat dengan customer Novus. Beliau percaya bahwa kesuksesan perusahaan ini berawal dari kerjasama yang solid, kepercayaan dan integritas dalam setiap interaksi yang dilakukan. Menurut beliau masih banyak potensi untuk pertumbuhan sektor perunggasan di Indonesia dan Malaysia. Ia mengatakan bahwa konsumsi unggas di kedua negara telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir, sehingga ia optimis bahwa sektor unggas akan terus berkembang kedepannya.

Sambutan selanjutnya di berikan oleh Rajeev S. Murty selaku Sr. Director & Managing Director Asia mengemukakan visi Novus International adalah berkomitmen untuk membawa perubahan besar di industri nutrisi hewan dengan pendekatan yang berbasis pengetahuan ilmiah dan inovasi terbaru yang efektif efisien untuk memaksimalkan potensi genetik ternak, mengedepankan pencegahan dan perbaikan melalui pemberian solusi yang berbasis nutrisi yang tepat. Novus juga mempunyai Misi untuk menginspirasi setiap produsen dan pemilik hewan di dunia. Untuk mendukung pemberian Nutrisi dengan teknologi yang berdasarkan pada penelitian ilmiah yang dirancang untuk membantu hewan tersebut mencapai potensi maksimal genetiknya.

Saat menyampaikan gambaran dinamika industri perunggasan di Indonesia, Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant Nutrition & Feed Technology menyampaikan bahwa industri perunggasan yang berkelanjutan itu bergantung pada hubungan antara 3P yaitu (Profit, People and Planet) yang mana saat ini fokus pasar sudah bergeser yang tadinya people hanya memikirkan profit, sekarang sudah memikirkan dampak pada planet juga.

Menariknya, ada korelasi antara tingkat pendapatan dengan konsumsi protein hewani di Indonesia. Setiap kenaikan 10% pendapatan maka ada peningkatan sebanyak 1% konsumsi protein hewani. Terlebih ada perubahan pola konsumsi berdasarkan pendapatan dan generasi. Generasi sekarang sudah lebih peduli akan kesehatan dan kesejahteraan hewan, mereka mau membayar lebih.

Prof. Budi pun menjelaskan, dalam menjaga kesehatan pencernaan unggas, kita harus mampu untuk menyediakan pakan yang memiliki kualitas dan kuantitas yang konsisten. Terlebih, produksi kedelai di Amerika terus mengalami peningkatan dengan kualitas dan kuantitas yang semakin baik. Ia menyampaikan kedelai itu mengandung 38% protein dan 68% bungkil kelapa itu mengandung kedelai.

“Bungkil kedelai mengandung protease inhibitors, lectins, dan saponins sebagai anti nutrisi. Untuk meningkatkan performa unggas menggunakan bungkil kedelai, kuncinya adalah meminimalisir faktor anti nutrisinya. Terlebih untuk pakan ayam usia 0-7 hari yang organ pencernaan belum berkembang sehingga mereka membutuhkan pakan yang mengandung bahan bahan yang lebih mudah dicerna,” ujarnya.

Melanjutkan pembahasan tentang pencernaan, Dr. Edgar O. Oviedo Rondon selaku Professor of Poultry Science in North Carolina State University menyampaikan ada kaitan yang pasti antara kesehatan pencernaan unggas dengan performa dan keberlangsungan perunggasan. Faktor manajemen budi daya yang dijalankan sejatinya adalah untuk menjaga kesehatan pencernaan unggas.

Litter management, feed management, komposisi nutrisi pakan, bahkan vaksinasi semuanya bertujuan untuk menjaga kesehatan pencernaan ayam karena terdapat fungsi imunitas yang membuat ayam sehat secara keseluruhan dimulai dari pencernaannya. Fungsi ekskresi, absorpsi, metabolis dan imunitas semuanya membutuhkan banyak protein.”

Edgar menambahkan bahwa stress, litter dan udara, antinutrisi, pakan dan air serta agen infeksius seperti parasit, virus dan bakteri mempengaruhi kesehatan pencernaan, khususnya gizzard dan proventrikulus yang dikenal sebagai ‘health maker.’ Sehingga semua yang berkaitan dengan pencernaan harus dipertimbangkan dengan baik seperti ukuran partikel pakan, dan pH air yang biasanya diabaikan oleh peternak.

“Survey menunjukan bahwa 54% penggunaan feed additives adalah untuk meningkatkan daya cerna. Jenisnya pun beragam mulai dari prebiotic, probiotic, postbiotic. Masing-masing memiliki peran spesifik dalam mendukung kesehatan dan stabilitas mikrobioma di saluran pencernaan ayam,” jelas Edgar.

Agar lebih tergambar, Edgar pun menyampaikan cara untuk memaksimalkan profit dan potensi genetik pada unggas melalui nutrisi. Dengan mengelola data pakan yang ada, formulator dan nutritionist dapat berkolaborasi untuk menciptakan formulasi pakan yang paling efektif dengan harga yang lebih murah dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi ayam dan mendapatkan performa maksimal.

“Dulu feed formulation hanya mengacu pada guidebook yang dikeluarkan oleh perusahaan pembibitan, tapi sekarang sudah banyak tools yang dapat digunakan untuk feed formulation seperti EFG Software, OmniPro dan Avinesp yang banyak digunakan dan dianggap paling canggih dan memiliki referensi terpercaya. Sehingga kita dapat mengkombinasikan konsep lama tetapi menggunakan pendekatan yang baru.”

Masih dalam kesempatan yang sama, dr. Hugo Romero selaku Exec Manager Global Poultry Technology Lead Novus International memaparkan bahwa selama ini perusahaan dipusingkan dengan pilihan antara feed cost dan performance maka ia menyusun strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan performa broiler melalui pemanfaatan mineral dan asam amino.

Meski banyak manfaatnya, konsumsi copper dalam jumlah besar tetap tidak baik bagi hewan dan manusia. Negara-negara di Eropa adalah yang paling ketat, mereka menolak semua unggas impor yang memiliki kandungan copper diatas 30 ppm. Mintrex Cu adalah suplemen mineral organik tembaga (Cu) yang membentuk ikatan kelat dengan HMTBa, yaitu asam organik prekursor metionin. Ikatan kelat ini meningkatkan bioavailabilitas Cu, sehingga lebih mudah diserap di saluran pencernaan bagian belakang.

Tim Novus dan para pembicara berfoto bersama

“Tembaga memiliki peran penting dalam berbagai fungsi fisiologis, termasuk metabolisme energi, pembentukan kolagen, dan fungsi sistem imun. Dengan menggunakan MINTREX® Cu, peternak dapat meningkatkan efisiensi pemberian pakan, mengurangi risiko defisiensi tembaga, dan mendukung kesehatan hewan secara menyeluruh.”

Dalam kesempatan yang sama, Hugo menyoroti perkembangan genetik pada soybean yang memproduksi lebih banyak Trypsin Inhibitor (TI) sebagai bentuk mekanisme pertahanan yang membuatnya lebih tahan terhadap serangga. Kadar TI pada soybean meal AS telah meningkat menjadi di atas 4 TIU, kadar TI yang tinggi ini akan berdampak pada menurunnya kecernaan pakan unggas.

“CIBENZA® Protease Enzyme Feed Additive adalah produk enzim yang berfungsi untuk menghidrolisis trypsin inhibitor, meningkatkan kecernaan protein dan efisiensi penggunaan pakan. Enzim protease dalam CIBENZA® dirancang untuk memecah protein kompleks dalam pakan menjadi asam amino yang lebih sederhana dan lebih mudah diserap oleh tubuh hewan,” jelas Hugo.

Dengan meningkatkan pemecahan protein, CIBENZA® membantu meningkatkan ketersediaan nutrisi, mengoptimalkan pertumbuhan, dan meningkatkan kesehatan hewan. Penggunaan CIBENZA® dalam pakan ternak dapat mengurangi pemborosan protein, meningkatkan konversi pakan, dan mendukung performa produksi yang lebih baik pada unggas. ADV

TESTIMONI
Retno – PT Charoen Pokphand Indonesia

Acaranya sangat menarik dan informatif, memberikan wawasan baru terkait teknologi dalam industri pakan ternak. Selain itu, kesempatan untuk berdiskusi dengan para ahli dan sesama praktisi juga membuka peluang untuk kolaborasi di masa depan.

Fauzan Alfi – PT Sreeya Sewu Indonesia

Sangat mengesankan, saya harap acara seperti ini diperbanyak karena memberikan wawasan mengenai perkembangan terbaru dalam teknologi pakan. Materi yang disampaikan relevan dengan tantangan yang kami hadapi sehari-hari.