POULTRYINDONESIA, Bogor – Dalam upaya menstabilkan harga ayam hidup (livebird/LB) yang anjlok di bawah biaya produksi, sejumlah perusahaan integrator dan produsen pakan ternak menyerap ayam dari peternak mandiri. Aksi ini dipantau langsung oleh pemerintah melalui Kementerian Pertanian.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional per 23 April 2025, harga ayam hidup di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jabodetabek hanya berkisar antara Rp13.200 hingga Rp14.400 per kilogram berat hidup. Harga ini jauh di bawah titik impas atau Break Even Point (BEP) yang mencapai Rp19.000/kg, bahkan lebih rendah dari Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp25.000/kg.
Sebagai bentuk pengawasan, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, melakukan pemantauan langsung pada Kamis, 24 April 2025 di dua lokasi di Kabupaten Bogor. Dalam kunjungan tersebut, dirinya menyaksikan transaksi pembelian LB oleh PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT Malindo Feedmill dari peternak mandiri.
“Salah satu langkah penting dalam menstabilkan harga adalah menyerap ayam langsung dari peternak mandiri. Ini sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab sosial dari perusahaan-perusahaan besar,” ujar Agung di sela kunjungannya.
Dalam kegiatan itu, PT Charoen Pokphand Indonesia sebagai perusahaan integrator membeli 2.037 ekor ayam hidup dengan bobot rata-rata 1,9 kilogram/ekor dari peternak mandiri, dengan harga Rp17.000/kg. Sementara itu, PT Malindo Feedmill yang merupakan produsen pakan ternak, menyerap 5.448 ekor ayam hidup peternak mandiri Kandang Jati, dari Kecamatan Tajurhalang  dengan bobot rata-rata 2,7–2,8 kilogram/ekor, juga dengan harga yang sama.
Lebih lanjut, Agung menambahkan bahwa perusahaan integrator lain yaitu PT Japfa Comfeed Indonesia juga telah bergerak cepat menunjukkan komitmennya untuk menyerap ayam hidup dari peternak mandiri. Dimana PT Japfa comfeed Indonesia telah melakukan pembelian 5.000 ekor ayam hidup dengan rataan bobot badan 2,2-2,6 kg/ekor di 2 lokasi, yaitu Cigudeg dan Serang.
“Kami ingin memastikan tidak ada ayam besar yang tidak terserap pasar, terutama saat pasokan sedang tinggi. Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi kelangsungan usaha peternak mandiri. Pada intinya, pemerintah akan terus mendorong sinergi antara perusahaan besar dan peternak rakyat. Kami ingin menciptakan rantai pasok yang sehat dan berkeadilan. Kita ingin menciptakan rantai pasok yang sehat dan berkeadilan,” pungkasnya.
Salah satu peternak dari lokasi pemantauan, Agus Suwarna selaku pemilik Kandang Jati, menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah. “Terima kasih dan apresiasi kepada Ditjen PKH atas respon cepat dalam mengatasi situasi. Terima kasih telah menyerap ayam-ayam jumbo kami dengan harga yang sangat layak,” ujarnya.
Di kesempatan yang berbeda, Heri Iriawan, seorang peternak broiler di Bogor Barat, Kota Bogor menyampaikan apresiasinya terhadap langkah cepat perusahaan pakan yang menyerap ayam dari peternak mandiri. “Saya sangat mengapresiasi langkah cepat perusahaan pakan dalam menyerap ayam kami. Pasalnya harga ayam sudah berada di bawah HPP sejak sebelum puasa hingga sekarang,” ujarnya.
Menurut Heri, intervensi pemerintah yang mendorong perusahaan pakan untuk membeli ayam dari peternak mandiri memberikan sedikit harapan. “Dengan adanya intervensi tersebut, kami peternak  bisa sedikit bernapas lega karena harga yang ditawarkan lebih baik daripada harga pasar,” tuturnya.
Ia berharap harga ayam di tingkat peternak mandiri dapat segera naik di atas HPP agar kelangsungan usaha peternakan tetap terjaga. “Kami berharap harga segera membaik agar kami bisa melanjutkan usaha ini,” tambahnya.