POULTRYINDONESIA, Bogor – Sebagai upaya penyempurnaan standar penilaian kontes ayam hias di Indonesia, Himpunan Peternak Unggas Hias Nusantara (HIMPARA), akademisi dan peneliti Fakultas Peternakan IPB University, serta MIPI-WPSA Indonesia berkolaborasi mengadakan pertemuan pada 20 September 2025 di Stadion Pakansari, Cibinong. Pertemuan ini adalah langkah awal untuk membahas tahapan program dalam penyempurnaan standar katuranggan ayam cemani dan ayam kate untuk mendukung penilaian yang lebih objektif, terukur, dan berbasis kajian ilmiah
Ketua HIMPARA, Tarmudi, menjelaskan bahwa standar katuranggan ayam cemani dan ayam kate yang sudah ada perlu dikaji ulang bersama para peneliti dan ahli. Penilaian ayam hias di tingkat asosiasi dan komunitas maupun kontes kerap menggunakan standar katuranggan yang berbeda-beda antar asosiasi dan daerah. Hal ini menimbulkan perbedaan dalam menentukan katuranggan dan kualitas ayam hias.
“Ada yang lebih menonjolkan warna bulu, ada pula yang lebih menilai bentuk tubuh, dan sebagian yang lain juga mengutamakan gaya dan keindahan,” ungkapnya dalam rilis yang diterima Poultry Indonesia, Senin (29/9).
Ia juga menambahkan bahwa ayam cemani sudah dikembangkan oleh banyak pembibit dan peternak di Amerika dan juga negara lain. Karakter ayam cemani yang dibuat asing bisa menjadi rancu dengan ayam cemani di Indonesia dan menjadi ancaman bagi keberlanjutan ayam cemani asli Indonesia. Oleh karena itu, kolaborasi dengan peneliti diharapkan dapat mengungkap cara cepat dan akurat untuk menguji keaslian ayam cemani Indonesia.
Maria Ulfah, peneliti ayam hias di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University sekaligus Presiden MIPI-WPSA Indonesia menambahkan bahwa standarisasi ini sangat penting agar penilaian lebih adil dan konsisten.
“Selama ini, kriteria yang berbeda-beda sering menimbulkan perdebatan. Dengan standar yang jelas, kontes akan menjadi lebih profesional, penghobi, pembibit dan peternak punya acuan yang sama. Di samping itu, standarisasi juga dapat menjaga keunikan ayam hias Indonesia agar semakin diakui di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Maria melanjutkan, program standarisasi ini tidak hanya berfokus pada aspek seni, estetika dan keindahan, tetapi juga mengintegrasikan karakter morfologis, genetik, dan performa unik lainnya dari ayam hias. Konfirmasi keaslian ayam cemani dan ayam kate memerlukan data genetik dan standar katuranggan yang jelas dan stabil. Dengan adanya standar baku, diharapkan proses penilaian kontes ayam hias Indonesia juga akan menjadi rujukan nasional yang seragam, sehingga ayam hias Indonesia berpotensi mendapat pengakuan lebih kuat dan lebih luas di kancah internasional.
Sebagai organisasi perunggasan internasional yang menginduk ke WPSA Pusat di Belanda, melalui kolaborasi ini MIPI-WPSA Indonesia akan berperan penting untuk lebih mengenalkan ayam hias Indonesia ke cabang-cabang WPSA di seluuh dunia.
“Kolaborasi ini merupakan bentuk nyata kontribusi ilmuwan perunggasan dalam mendukung pelestarian plasma nutfah ayam hias Indonesia serta memberikan nilai tambah ekonomi melalui sektor hobi dan kompetisi. Di program studi kami juga ada mata kuliah khusus tentang keanekaragaman ternak hobi, termasuk ayam hias dan pelestariannya untuk membekali mahasiswa S1 sampai S3 tentang kekayaan sumberdaya genetik ayam hias dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Anggota HIMPARA juga menyambut baik inisiatif ini sebagai upaya memperkuat posisi ayam hias Indonesia yang memiliki keragaman dan keunikan tersendiri,” imbuh Maria.
Langkah kolaboratif ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk menciptakan ekosistem perunggasan hias yang berkelanjutan, terstandar, dan berdaya saing tinggi. Dengan standar penilaian yang diakui bersama, para penghobi, peternak, maupun juri kontes akan memiliki acuan yang sama dalam menjaga kualitas sekaligus mengembangkan potensi ayam hias Indonesia.