Sebelum memegang peran di perusahaan, saya hanya terlibat dalam memberi saran berdasarkan teori, tetapi ternyata sering kali tidak sesuai kondisi lapangan. Dari situ, saya belajar pentingnya observasi dan memperbarui pemahaman.

Bagi Steven William, gemasnya ayam DOC dan pullet yang berlarian di tengah kandang bukan lagi sebuah pemandangan baru. Lahir di Blitar pada 28 September 1999, Steven kecil tumbuh di tengah keluarga yang mengelola peternakan ayam sekaligus menjadi pemasok telur di Blitar. Meski sejak kecil ia kerap diajak berkeliling ke kandang, namun ketertarikannya terhadap dunia perunggasan belum begitu kuat sampai bisa mendorongnya untuk benar-benar ikut terjun dalam industri ini.

Generasi ke-4 Sidodadi Group ini mengaku tidak pernah merasa dituntut oleh orang tuanya untuk mengikuti jalur yang sama. Justru, ia diberi kebebasan untuk belajar apa saja. “Dari kecil saya memang dibiarkan melakukan banyak hal, yang penting tetap bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan setiap hari. Sederhananya seperti saat sekolah, tidak masalah walaupun nilai akademis biasa saja, yang penting tidak sampai ketinggalan kelas,” ceritanya saat dihubungi via telepon WhatsApp, Senin (21/7).

Karena kebebasan itu pula, ia belajar soal kedisiplinan, bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi dan setiap tindakan harus dijalani dengan komitmen. Prinsip ini tidak datang begitu saja, melainkan terbentuk dari didikan keluarganya. Tak hanya itu, teladan dari keseharian ayah dan kakeknya juga menjadi sumber inspirasi bagi Steven, baik itu dari cara mereka menghadapi masalah, atau dari bagaimana sebaiknya mengambil keputusan, serta tentang kepercayaan dalam memegang nilai-nilai dengan teguh.

Ayahnya, misalnya, sering memberi nasehat untuk selalu menyiapkan lebih dari satu jalan keluar ketika menghadapi masalah. Pesan ini mengajarkannya agar tidak pernah membatasi diri hanya pada satu solusi. Sementara itu, dari kakeknya ia belajar tentang pentingnya kehati-hatian dalam mengambil keputusan. Kakeknya selalu mencontohkan untuk tidak pernah impulsif atau tergesa-gesa dalam memutuskan, apalagi dalam urusan pekerjaan. 

Dua sifat ini, inovatif dalam mencari alternatif solusi sekaligus tetap berhati-hati, menekankan pentingnya sikap penuh petimbangan yang sangat berguna bagi perannya saat ini di perusahaan. Meski belum sepenuhnya berhasil mengimplementasikan nilai-nilai tersebut, namun ia berupaya untuk terus mencoba menerapkannya dalam segala situasi.

“Meski banyak belajar dari tindakan mereka, tetapi menurut saya, agak tidak berhati-hati di awal tidak apa-apa, terutama karena saya baru mulai terjun di bisnis ini dan masih dalam tahap mempelajari pengalaman baru. Di tambah saya juga masih muda, kalau terlalu hati-hati khawatirnya di masa depan malah terbiasa tidak berani mengambil keputusan,” jelasnya.

Tahun 2021 menjadi titik awal yang berkesan bagi Steven. Untuk pertama kalinya, ia terjun langsung dalam manajemen bisnis keluarga, dan seketika itu juga dihadapkan pada tantangan besar, yaitu penurunan performa keuangan akibat pandemi Covid-19. Kondisi pasar yang lesu, penurunan daya beli konsumen, hingga harga jual telur yang naik turun tetapi tidak diimbangi dengan harga pakan, membuat banyak pelaku usaha harus memutar otak. Tak sedikit pula peternak atau pemasok telur yang gulung tikar di saat wabah dari China ini menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com