Stok telur di gudang salah satu peternak
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Komoditas telur ayam ras sebagai salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat dipastikan berada dalam kondisi aman dan mencukupi. Selama ini, kebutuhan konsumsi telur nasional sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi peternak dalam negeri.
Berdasarkan proyeksi Badan Pangan Nasional (Bapanas), ketersediaan telur ayam ras dipastikan aman hingga momen Lebaran mendatang. Kondisi ini didukung oleh surplus produksi telur dalam negeri yang relatif besar.
Bapanas menilai fluktuasi harga telur yang terjadi saat ini lebih bersifat musiman dan tidak berkaitan langsung dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga saat ini, kontribusi MBG terhadap peningkatan kebutuhan konsumsi telur ayam ras dinilai masih belum signifikan.
“Stok telur kita secara nasional sangat mencukupi kebutuhan. Selama Ramadan juga aman karena kita surplus. Tidak ada masalah dari sisi ketersediaan telur. Program MBG memang ada pengaruhnya, tetapi masih kecil. Saat ini kita juga menjelang Natal dan Tahun Baru, sehingga wajar jika permintaan sedikit meningkat,” ujar Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, di Jakarta, Rabu (24/12/2024).
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang diperbarui setiap bulan, pemerintah mencatat bahwa kebutuhan nasional telur ayam ras, termasuk untuk kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Dari total kebutuhan konsumsi nasional, porsi kebutuhan untuk SPPG masih relatif kecil.
Dimana, total kebutuhan konsumsi telur ayam ras nasional per tahun diperkirakan mencapai 6,487 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan SPPG pada 2025 diperkirakan sekitar 1,96 persen atau setara 127,3 ribu ton. Sementara itu, produksi telur nasional masih lebih tinggi dan dapat mencapai 6,561 juta ton per tahun.
Stok akhir telur ayam ras nasional pada 2025 juga diproyeksikan meningkat signifikan. Bapanas memperkirakan stok akhir tahun dapat mencapai 74,5 ribu ton, melonjak hingga 154,2 persen dibandingkan stok akhir 2024 yang berada di angka 29,3 ribu ton.
Meski demikian, pemerintah tetap akan mencermati perkembangan harga telur ayam ras di pasaran. Harga telur di tingkat konsumen diharapkan tetap berada sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp30.000 per kilogram.
“Secara prinsip, kami rutin berkoordinasi dengan para peternak. Mereka berkomitmen menjaga harga di tingkat peternak pada kisaran Rp22.000–Rp25.000 per kilogram. Dengan demikian, pedagang seharusnya masih bisa menjual di harga Rp30.000,” jelas Ketut.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya kewaspadaan dalam memantau dinamika harga telur ayam ras meskipun stok nasional berada dalam kondisi aman.
“Telur alhamdulillah dalam kondisi baik, tetapi kita tidak boleh lengah. Stok cukup, jadi harga tidak boleh naik. Kalau naik, akan kita tindak. Telur ayam ras lebih dari cukup, sehingga aman,” tegas Amran saat meninjau Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/12/2025).