Oleh: Tony Unandar*
Walaupun sudah lebih dari setengah abad sejak Dr. Albert Cosgrove untuk pertama kalinya berhasil memindai kasus penyakit Gumboro alias Infectious Bursal Disease (IBD) pada ayam di kota kecil Gumboro, Delaware – Amerika, namun sampai kini para peneliti, dokter hewan dan praktisi perunggasan universal belum juga berhasil meminimalkan dampak kerugian yang ditimbulkannya.  Alih-alih melakukan eradikasi, tetapi justru sekarang penyakit tersebut semakin tersebar luas secara global, terutama pada sentra perunggasan modern yang intensif.  Mengapa dan ada apa sebenarnya?  Tulisan singkat ini mencoba menelisik pola-pola tingkah laku (behavior) virus Gumboro di dalam tubuh ayam (patogenesis) dan di lingkungan ayam (epidemiologis) serta informasi adekuat terkait strategi kontrol via teknologi vaksin, khususnya immune complex vaccine.
Macam-macam strategi
Secara mendasar, strategi kontrol penyakit hewan dalam bentuk populasi (termasuk unggas atau ayam) terdiri dari 2 bagian yang sama pentingnya, yaitu :
Pertama, strategi Pencegahan (Prevention), yaitu segenap tindakan yang terfokus pada bagaimana pengelolaan terhadap agen penyebab penyakit dalam suatu area tertentu (bisa kandang, flok atau unit farm), misalnya: bagaimana program istirahat kandang (downtime program) yang diterapkan, program biosekuritas, program reduksi/eradikasi patogen yang bersifat endemik, dan tata laksana pemeliharaan yang higienis. Tegasnya, strategi pencegahan adalah segala tindakan untuk meminimalisir dekontaminasi patogen di suatu kandang, area atau tempat dari waktu ke waktu agar kesehatan prasarana hewan ternak (ayam) tetap prima.

Secara mendasar, strategi kontrol penyakit hewan dalam bentuk populasi (termasuk unggas atau ayam) terdiri dari dua bagian yang sama pentingnya yaitu pencegahan dan perlindungan.

Kedua, strategi perlindungan (Protection), yaitu segenap tindakan yang terfokus pada bagaimana mempertahankan kondisi induk semang (host) tetap prima dari waktu ke waktu.  Contoh dari strategi kedua ini adalah bagaimana program pemberian pakan dengan asupan nutrisi yang cukup dan berimbang, program vaksinasi, program medikasi dan tatalaksana pemeliharaan terutama terkait dengan tindakan-tindakan untuk mereduksi faktor stres lapangan semaksimal mungkin.  Di lapangan, walaupun tidak seratus persen benar, strategi perlindungan (protection) sering kali hanya diidentikkan dengan program vaksinasi.
Pada tingkat operasional lapangan, ada variasi penekanan antara kedua bagian strategi tersebut, tergantung pada karakteristik agen penyebab penyakit, distribusi atau sebaran populasi induk semang (dalam hal ini ayam) dan strategi umum yang ditetapkan oleh pemegang otoritas setempat.  Contohnya beberapa penyakit viral pada unggas yang merupakan penyakit infeksius yang mempunyai potensi epizootik, misalnya Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Laryngotracheitis (ILT), dan Avian Influenza (AI). Walaupun bisa dikontrol melalui kedua bentuk strategi tersebut secara serempak, namun beberapa negara lebih memilih penekanan pada strategi pertama (prevention) saja secara total dan menerapkan tindakan “stamping out” jika terjadi ledakan kasus, serta tidak menggunakan program vaksinasi sama sekali.
Kondisi yang agak berbeda dengan penyakit viral lainnya pada ayam, yaitu penyakit Marek dan Gumboro alias IBD yang bersifat endemik.  Karena karakteristik agen penyebabnya agak unik, maka tak satupun sentra peternakan ayam modern di dunia yang bebas terhadap kedua penyakit viral tersebut (van den Berg TP et al., 2000).
Pada penyakit Marek misalnya, program vaksinasi Marek dikatakan sukses bila maksimum hanya bisa melindungi ayam dari kemunculan manifestasi gejala klinis, tetapi tidak melindungi ayam dari infeksi virus Marek yang berasal dari lapangan. Walaupun begitu, kerugian ekonomis akibat Marek sudah dapat diminimalkan secara signifikan. Hal ini tentu saja sudah dibuktikan secara ilmiah yaitu setelah ada perkembangan teknologi yang spektakuler dalam uji mikrobiologi molekuler (RT-PCR), sehingga virus Marek yang ditemukan dalam suatu organ tubuh ayam yang sudah divaksinasi Marek dapat dengan mudah dibedakan dari virus Marek yang berasal dari lapangan (Davidson F & Nair V, 2004; Zavala G et al., 2016).
Pada penyakit Gumboro, situasinya juga agak berbeda dengan Marek. Agar pemahamannya lebih jelas, ada baiknya simak terlebih dahulu penjelasan tentang dinamika virus Gumboro di lapangan dan di dalam tubuh ayam di bawah ini.
Dinamika virus IBD di lapangan
Penyakit Gumboro atau IBD disebabkan oleh virus Gumboro, sejenis virus double-stranded RNA yang tergolong dalam Avibirnavirus.  Partikel virus ini di lapangan terbukti tidak saja sangat tahan terhadap faktor-faktor fisik (suhu tinggi dan atau kelembapan yang relatif rendah) tetapi juga resisten terhadap kebanyakan disinfektan yang ada di lapangan, terutama jika terlindung oleh material organik seperti feses (karena virus diekskresikan via feses dari ayam yang terinfeksi). Dalam tubuh insekta seperti “darkling beetles” (kutu franky), virus bisa bertahan hidup dengan daya infektifitas yang tidak menurun sampai berbulan-bulan (Mcallister JC et al., 1995; Szczepanik M et al., 2008; Dinev I, 2013). Dengan demikian, ada beberapa hal yang bisa diterangkan terkait dengan karakteristik virus seperti itu.
Pertama, virus IBD bisa endemik (menetap) di suatu peternakan ayam dan potensial akan menjadi penyakit menular yang bisa bersifat epizootik dengan dampak yang sangat merugikan.  Dengan demikian, walaupun DOC masih mempunyai sejumlah antibodi dari induk (maternal derived antibody = MDA) terhadap IBD, namun partikel virus IBD yang ada di lapangan tetap dapat menginfeksi DOC sesaat pasca tebar.  Jadi perlu ditegaskan, MDA hanya berfungsi untuk mencegah, mengurangi dan atau memperlambat penyebaran virus IBD di dalam tubuh ayam untuk mencapai organ target (khususnya Bursa Fabricius), tetapi tidak bisa mencegah infeksi virus IBD lapangan (van den Berg TP et al., 2000; Klipper E et al., 2003; Dey S et al., 2019).
Baca Juga: Mewaspadai Serangan Penyakit Marek
Kedua, selain istirahat kandang (downtime) yang terlalu singkat (kurang dari 3 minggu), juga implementasi tindakan biosekuritas seperti sanitasi dan disinfeksi kandang dan atau lingkungan kandang yang ceroboh dapat mengakibatkan tingginya residu virus IBD lapangan bagi DOC pada periode berikutnya.  Ujung-ujungnya adalah adanya tantangan virus IBD yang sangat dini pada DOC yang baru masuk. Kondisi ini tentu akan diperparah dengan tidak adanya program kontrol insekta di peternakan tersebut (Mahgoub HA, 2012; Dey S et al., 2019).
Ketiga, residu virus IBD lapangan yang berlangsung antar periode/generasi ayam akan memberikan kesempatan bagi virus tersebut untuk beradaptasi dengan ayam dan ujung-ujungnya bisa terbentuk strain atau varian baru dengan patogenisitas yang jauh lebih ganas, artinya mempunyai kemampuan untuk menghindar dari MDA dan merusak organ tubuh ayam terutama Bursa Fabricius semakin hebat dan cepat (Mahgoub HA, 2012; Ingrao F et al., 2013).
Dari penjabaran di atas, maka dapat dipastikan bahwa virus Gumboro lapangan telah ada di dalam kandang atau farm sebelum DOC ditebar. Itulah sebabnya peluang DOC untuk mendapatkan infeksi dini Gumboro sangatlah besar.  Karakteristik infeksi dari tantangan dini virus Gumboro lapangan ini sangat tergantung juga kepada status umum DOC, status kekebalan induk (level titer dan keseragaman titer), serta kualitas dan kuantitas virus Gumboro lapangan yang ada.  Jadi, dari paparan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kontrol penyakit Gumboro di lapangan tidak dapat melupakan pendekatan yang kuat dari strategi pencegahan (prevention) untuk mengurangi kejadian infeksi dini dan untuk menekan kualitas tantangan virus yang ganas akibat adanya total inokulum yang tinggi.
Maka, bentuk nyata strategi pencegahan (prevention) dalam konteks untuk kontrol penyakit IBD di lapangan adalah (a) Cukup istirahat kandang (downtime) antar periode/angkatan ayam, minimum kandang dalam keadaan bersih dan sudah disanitasi selama 3 minggu; (b) Proses membersihkan kandang juga harus cermat dan teliti, tidak boleh ada sisa feses yang tertinggal dalam kandang.  Disinfektan kelompok aldehida (glutaldehida) atau halogen (khususnya iodium) dapat bekerja cukup baik untuk virus Gomboro; (c) Lakukan kontrol serangga atau insekta pada umumnya secara periodik, terutama pada saat kosong kandang; (d) Implementasikan dengan cermat, teliti dan konsisten tindakan-tindakan biosekuritas selama ada ayam dan saat istirahat kandang; (e) Afkir ayam yang lemah dan yang sangat kecil secepatnya, karena ayam yang demikian dapat menjadi pijakan pertama virus Gumboro lapangan untuk memperbanyak diri dalam populasi ayam yang ada (amplifier birds).*Private Poultry Farm Consultant-Jakarta
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2021 ini dilanjutkan pada judul “Dinamika Virus IBD dalam Tubuh Ayam”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153