Perlu adanya usaha dalam pengembangan ayam lokal (Sumber gambar: www.agriculture.com.ph)
Oleh: Febroni Purba, S.Pt*
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Berangkat dari sejumlah persoalan di atas, penulis menyelipkan teori daya saing yang banyak dipakai oleh korporasi/organisasi terkemuka di dunia. Hill dan Jones (1993) mengatakan bahwa suatu perusahaan/organisasi untuk mencapai daya saing harus efisien, produk berkualitas, inovasi, dan responsif terhadap konsumen. Porter (2008) menyebutkan ada tiga hal untuk mencapai keunggulan kompetitif: kepemimpinan biaya, diferensiasi, dan fokus.
Selain itu, dalam lingkungan usaha yang sangat dinamis, korporasi harus memiliki kemampuan dinamis sebagaimana yang diutarakan oleh Teece (2007), perusahaan harus mampu menciptakan peluang, merebut peluang, dan perubahan. Ada satu hal yang bisa kita pelajari dari ketiga teori tersebut adalah tidak ditemukan bahwa modal (capital) menjadi salah satu strategi mencapai daya saing. Tak jarang dijumpai banyak peternak pemula dan pelaku usaha selalu menitikberatkan persoalan utama usaha adalah modal. Penulis akan mengurai teori Teece tersebut satu per satu.
Pertama, menciptakan peluang. Gaya hidup masyarakat pada era industri 4.0 berubah. Tak sedikit pusat belanja tutup karena perubahan gaya hidup. Orang tak lagi harus ke supermarket, cukup belanja dalam jaringan melalui gawai (gadget). Bahkan ada informasi penjualan mi instan kian menurun. Jika dulu orang menyimpan mi instan di rumah untuk antisipasi apabila mau makan di tengah malam, sekarang tidak perlu itu, hanya dalam waktu 15-30 menit, makanan dengan harga terjangkau langsung datang ke rumah. Lewat aplikasi dalam jaringan, orang bisa memanfaatkannya untuk berjualan produk termasuk ayam lokal.
Kedua, merebut peluang. Peluang bisa direbut dengan memberikan nilai lebih atau paling tidak harga yang bersaing dan produk berkualitas. Merebut peluang tersebut misalnya harga ayam lokal harus bisa terjangkau oleh masyarakat bawah dan menengah. Sebagai contoh, harga kuliner ayam lokal per paket (nasi, sepotong ayam, sayur, dan minuman) di salah satu gerai bisa dibuat lebih murah daripada harga kuliner broiler per paket di salah satu gerai ternama.
Baca Juga: Peluang Usaha Budi Daya Perunggasan
Ketiga, perubahan. Jangan anti dengan perubahan karena dunia ini terus berubah. Ketika peternak tidak berubah maka akan tertinggal sebagaimana kisah Nokia. Awal tahun 2000-an, Nokia menguasai pasar ponsel Indonesia. Kini, Nokia jauh tergilas dari ponsel dari Korea Selatan, Amerika Serikat dan Tiongkok. Peternak perlu perubahan jika mau berkelanjutan. Peralihan dari broiler ke ayam lokal sudah menjadi salah satu alternatif yang tepat, hanya saja perlu beradaptasi, fokus, dan melakukan perubahan lainnya.       
Belajar dari McDonald’s
Salah satu perusahaan makanan cepat saji terkemuka, McDonald’s, pernah mencatat kegagalannya bukan karena tidak efisien dan berinovasi, tetapi karena tidak fokus dan lemahnya kepemimpinan perusahaan saat itu. McDonald’s didirkan oleh dua orang pemuda bersaudara bernama Dick dan Maurice pada tahun 1930-an. Inovasi atau model bisnis restoran drive-in menjadi populer dengan pesan makanan tepat di mobil menggunakan piring porselen, gelas dan perlengkapan berbahan logam.
Tahun 1948, intuisi mereka mengatakan bahwa waktu telah berubah. Mereka mulai melayani pelanggan pejalan kaki. Kemudian mengurangi menu dan fokus dengan menu hamburger, menggunakan piring dan gelas berbahan kertas, menurunkan biaya operasional dan harga jual juga diturunkan. Kemudian menciptakan layanan cepat yakni hanya 30 menit, pesanan bisa diselesaikan. Kemudian tahun 1952, keduanya menawarkan konsep waralaba, tapi gagal.
Tahun 1954, seorang pemimpin perusahaan berpengalaman bernama Ray Kroc membeli hak waralaba dan membangun McDonald’s Corporation. Tahun 1955-1959, di bawah kepemimpinan Kroc, ia berhasil membuka seratus restoran. Menariknya adalah bahwa sang perintis McDonald’s secara legowo memberikannya pada Kroc. Hal ini menunjukkan bahwa dengan kata lain, efisiensi dan inovasi saja tidak cukup, ada faktor lain seperti kepemimpinan, fokus, intuisi, budaya, dan lain-lain.
Berdasarkan berbagai teori dan pengalaman McDonald’s, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai usaha yang berdaya saing, maka pelaku usaha harus memiliki manajerial yang baik, kepemimpinan yang efektif dan efisien, memiliki visi dan strategi, fokus, serta memiliki orientasi kewirausahaan. Ketika sebagian besar peternak broiler ramai-ramai beralih ke peternakan ayam lokal, maka tantangan sekaligus peluang tersebut adalah pemasaran. Peluang usaha olahan ayam lokal masih terbuka. Bukankah Indonesia memiliki ragam khas masakan ayam lokal Nusantara? Jika itu terwujud, maka akan tercipta usaha peternakan ayam lokal yang berdaya saing. *Praktisi peternakan ayam lokal dan mahasiwa Pascasarjana Ilmu Manajemen Universitas Indonesia
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2020 dengan judul “Peternakan Ayam Lokal yang Berdaya Saing”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153